Tampilkan postingan dengan label Sikap mental. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sikap mental. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Oktober 2010

Widgets

on

Ketika Bill Gates Mencicipi "Cilot"

Minggu lalu Bill Gates sang pendiri Microsoft yang terkenal itu berkunjung ke Indonesia dimana salah satu agendanya adalah mengunjungi sekolah-sekolah yang mendapat bantuan dari the Bill and Mellinda Gates Foundation. Memang kunjungan kali ini tak banyak diliput oleh media dan hanya media tertentu saja yang diberi kabar dan kesempatan untuk meliput. Tentu hal ini adalah permintaan Gates yang tak ingin terlalu diekspos.

Menariknya di sebuah Sekolah Dasar yang dikunjunginya dia terheran-heran ketika melihat anak-anak SD mengerumuni penjaja makanan yang membawa panci di atas sepeda. Gates sebelumnya sudah cukup penasaran melihat cara berjualan sang pedagang yang menurutnya unik.

Terlebih ketika kemudian anak-anak SD mengerumuni pedagang itu pada jam istirahat betapa makin penasarannya dia. Awalnya dia pikir anak-anak tersebut akan mengerumuninya untuk bertanya banyak hal ternyata justru sang pedagang itulah yang lebih menarik perhatian mereka.

Saking penasarannya kemudian Gates bertanya sebenarnya apa yang dijual pedagang itu kepada staff-nya. Staff tersebut lalu menjelaskan bahwa pedagang itu menjual makanan yang di Jawa Tengah dikenal sebagai “cilot” atau “penthol cilot”

Gates bahkan kemudian meminta staff-nya untuk membeli makanan tersebut karena dia penasaran untuk mencicipinya. Semula staff tersebut agak ragu untuk meluluskan permintaan Gates namun karena bersikeras akhirnya permintaan itu dituruti juga.

Senin, 18 Oktober 2010

Widgets

on

Ketaatan, Iman dan Doa

Dari Mat: 17:20 kita telah mendengar perumpamaan mengenai biji sesawi. Yesus mengibaratkan sekiranya kita memiliki iman sebesar biji sesawi saja maka tiada hal yang mustahil. Lalu kita bertanya mengapa pula doa-doa kita tak kunjung dijawab dan tak kunjung dikabulkan sekalipun kita “merasa” telah percaya dan memiliki iman?

Orang kemudian mulai meninggalkan doa, meninggalkan Ekaristi dan meninggalkan Tuhan karena merasa bahwa doa-doanya tak dijawab meski dirinya terus berseru.

Tanpa mereka sadari sikap-sikap demikian tak ubahnya seperti sikap seorang anak manja yang “mutung” (ngambek) ketika keinginannya tak dipenuhi oleh orang tuanya. Tanpa mencoba memahami dan mencari tahu apa alasan permintaan itu tak dikabulkan oleh orang tua lantas si anak manja ini menyebut orang tuanya tak peduli, tak sayang atau bahkan jahat.

Dengan “mutung” si anak manja berharap orang tuanya akan berubah pikiran untuk menuruti apa yang diinginkannya.

Begitu pula mereka yang berpaling dari Tuhan karena merasa doanya tak dijawab berani menyebut bahwa Tuhan tak peduli akan seruan umat-Nya. Siapakah manusia hingga berani menyebut Tuhan demikian? Sudah lupakah siapa sebenarnya yang adalah manusia dan siapakah yang sebenarnya adalah Tuhan?

Ketika seseorang memilih untuk mutung dan meninggalkan Tuhan sebenarnya sikapnya tak beda dengan anak manja yang mutung terhadap keputusan orang tuanya. Bedanya adalah: dia tidak sedang berbicara dengan orang tua! Mungkin oleh karena lelah, tak ingin malu di depan orang maka orang tua akan menuruti apa yang diminta si anak manja yang mutung namun jangan mengira hal yang sama akan dilakukan oleh Tuhan.

Kamis, 30 September 2010

Widgets

on

Ketika Apa yang Anda Lakukan Tak Terasa Cukup

Pernahkah Anda merasa bahwa apapun yang telah dilakukan tak pernah terasa cukup untuk mencapai sesuatu yang diharapkan? Atau ketika melihat keadaan saat ini kemudian berpikir seandainya di masa lalu mengusahan lebih maka tentu hari ini kondisinya akan berbeda.

Rasanya cukup banyak dari kita yang merasa demikian dan perasaan ini tak jarang menimbulkan perasaan bersalah.

Karyawan dan profesional berharap bahwa stamina yang dimiliki semestinya lebih baik ketimbang saat ini sehingga bisa terus melakukan lebih banyak pekerjaan.

Para wirausahawan sering dihantui perasaan bahwa semestinya melakukan lebih dari ini dalam rangka membangun usahanya.

Dalam kehidupan berkeluarga pun juga demikian bisa muncul rasa bersalah seorang kepala keluarga karena merasa tak cukup memberikan sesuatu bagi keluarganya meski ada keinginan mengusahakan dan meniatkan yang terbaik.

Perasaan bersalah merupakan bagian dari emosi negatif yang pada akhirnya memengaruhi tindakan dan keputusan yang diambil. Karena emosi negatif berasal dari diri sendiri maka solusinya adalah juga dari dalam diri.

Mungkin memang kita bisa mengusahakan lebih baik dari apa yang telah dilakukan saat ini atau kemarin, mungkin juga tidak dikarenakan belum ada ide-ide baru. Namun satu hal yang harus disadari adalah bahwa perasaan bersalah tidak akan memberi kontribusi positif baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Sebaliknya rasa bersalah yang terus menerus dipegang justru akan menjadikan diri kita tidak produktif. Sebab perasaan itu akan terus menghantui sampai kapanpun hingga kita rela melepaskannya.

Tak jarang bahwa rasa bersalah yang dominan menghambat kreativitas diri kita untuk menemukan ide-ide baru yang bisa jadi diantaranya merupakan solusi atas sebuah masalah yang sedang dihadapi.

Rabu, 29 September 2010

Widgets

on

Terobsesi Persetujuan

Kebanyakan dari kita merasa khawatir tentang apa yang orang pikirkan tentang diri kita. Lebih buruk lagi sebagian besar dari kita melakukan atau mengatakan sesuatu hanya demi mendapatkan persetujuan dari orang lain. Perilaku demikian seolah terjadi secara alamiah sebagai sebuah penerimaan bahwa diri kita adalah bagian dari komunitas yang lebih besar dan acapkali menyebabkan kita kehilangan identitas diri.

Ada sebagian dari kita yang merasa aman menjadi “trend follower” ketimbang “trend setter” entah untuk hal-hal kecil seperti model rambut, gaya berpakaian dan sebagainya hingga pada tahapan yang lebih substansial antara lain pilihan tentang bidang pendidikan dan profesi.

Pada tingkatan tertentu ada sesuatu dalam diri kita yang merasa lelah karena kebiasaan-kebiasaan ini. Kelelahan yang muncul karena ketidakmampuan untuk menjadi diri sendiri.

Kita berpikir bahwa tindakan-tindakan tersebut disebabkan oleh sebuah keharusan dari luar diri yang menjadikan kita harus berperilaku demikian. Namun tahukah Anda bahwa sebenarnya semua itu datang dari dalam diri Anda sendiri?

Perilaku tersebut muncul karena adanya keyakinan diri bahwa Anda harus bersikap atau berperilaku tertentu agar orang lain menerima Anda. Anda disibukkan dengan berbagai pikiran mengenai apa yang harus dilakukan atau dikatakan agar orang lain memberikan penilain yang baik tentang diri Anda.

Pikiran yang terus menerus diulang menjadi semacam sugesti yang pada akhirnya membentuk sebuah “believe system” dalam diri Anda. Dan tanpa sadar Anda telah terjebak di dalamnya. Padahal karena “believe system” itu dibentuk oleh Anda sendiri maka sebenarnya Anda sendiri pulalah yang memiliki kendali untuk menyingkirkan atau menggantinya dengan hal lain yang lebih produktif.

Memang sejak awal banyak “believe system” negatif yang diajarkan pada diri kita. Banyak orang tua menuntut anak-anaknya memiliki perilaku tertentu sesuai standar mereka. Mereka lupa bahwa anak sesungguhnya adalah subjek bukan objek yang bisa mereka bentuk sesuai keinginannya.

Tak jarang orangtua merasa kesal dan marah jika anak tidak berperilaku sesuai standar mereka. Dan buruknya tak jarang kemarahan dan kekesalan itu lebih dikarenakan rasa malu orang tua atas perilaku anaknya.

Kekesalan dan kemarahan itu ditanggapi oleh anak dalam hatinya bahwa ada sesuatu yang tidak benar dalam dirinya. Pada tahap inilah “believe system” mulai terbentuk dan dibawa ketika anak berada dalam lingkungan lain sekalipun. Pada gilirannya muncul perasaan bahwa dirinya “tidak baik”

Sebagai reaksi dan solusi atas keyakinan ini maka muncul sebuah solusi bahwa untuk menjadi baik adalah melakukan apa yang dituntut oleh orang tua ataupun lingkungannya.

Pada awalnya mungkin memang terasa sebagai sebuah solusi, namun solusi ini terus menjadi semacam cetak biru dalam dirinya bahwa untuk menjadi baik adalah melakukan apa yang dituntut oleh lingkungan dimana dia berada

Tahukah Anda apa yang buruk mengenai hal ini? Sikap ini telah menempatkan seseorang melakukan sesuatu hanya demi persetujuan orang lain. Dan boleh dikatakan bahwa nilai kebaikan adalah bukan dari dirinya sendiri melainkan ditentukan oleh lingkungan Ya!! Masalah yang kita bicarakan di awal tadi.

Benar bahwa lingkungan mungkin berperan memengaruhi terbentuknya “believe system” dalam diri Anda, namun Anda sendirilah yang menanamkannya.

Rasanya sekarang sudah cukup jelas mengapa banyak orang terobsesi mendapatkan penerimaan, persetujuan ataupun pujian dari orang lain. Kesemuanya itu dibutuhkan untuk meyakini bahwa dirinya sendiri baik. Bahkan sekalipun tindakan dan kata-katanya tidak dilakukan dengan tulus sepenuh hati tetap akan dilakukan demi mendapatkan reputasi baik dimata orang.

Jadi ketika seseorang terobsesi bahkan diperbudak oleh persetujuan dari orang lain dan rela melakukan apapun termasuk misalnya dengan victim branding sebenarnya merupakan pengakuan diri bahwa “aku tidak cukup baik”.

Related Articles:

Selasa, 28 September 2010

Widgets

on

Love Never Fail

Beberapa waktu yang lalu Saya menonton sebuah film yang berjudul Love Never Fail. Sebuah film pendek dengan durasi hanya sekitar 40 menit ini merupakan film asia yang (mungkin) termasuk film ‘dokumenter’ karena film ini berisi kesaksian berdasarkan kisah nyata kehidupan pernikahan kristen antara Ralph dan Alice. Penyajian dalam film ini merupakan perpaduan Gambar bergerak (video) Alice yang bercerita digabungkan dengan visualisasi foto-foto (gambar diam) dokumentasi kehidupan Ralph dan Alice.

Dalam film ini dikisahkan 7 hari setelah pernikahan, Ralph seorang pemuda yang tampan, ramah, dan periang didiagnosa menderita kanker di otak. Ralph kemudian menjalani serangkaian pengobatan untuk memerangi kanker yang menyerang. Semakin lama penyakit Ralph menjadi semakin parah, makan, minum, bahkan berbaring menjadi hal yang menyakitkan untuk Ralph, wajahnya yang tampan berubah menjadi buruk karena hampir seluruh wajah bengkak terutama, mata dan bibir. Dalam situasi itu Alice setia mendampingi Ralph bahkan dokter menggambarkan Alice setiap hari bekerja seperti tiga orang suster. Alice menyiapkan semua kebutuhan suaminya dan melayani dengan tulus. Dalam situasi itu Ralp dan Alice tetap percaya pada Tuhan Yesus dan bahkan menjadi kesaksian bagi keluarga dan teman-temannya. Alice setia membacakan alkitab dan berdoa untuk Ralph dan Ralph mengajar dan berdiskusi mengenai firman Tuhan dengan istrinya.

Film ini bercerita tentang keluarga baru yang mengalami masalah berat berupa sakit yang diderita oleh suami. Keadaan sakitnya suami ini membat keluarga ini semakin dekat karena ada kasih Tuhan yang memampukan istri tetap setia dan sabar mendampingi suaminya, dan suami yang tetap menolong istrinya semakin dekat dengan Tuhan. Bahkan keluarga ini menjadi kesaksian bagi keluarga besar dan teman-temannya.

Melihat film ini membuat Saya berpikir, betapa luar biasa peristiwa yang dialami keluarga baru ini. Bayangkan, mereka baru 7 hari menikah kemudian harus mengikuti serangkaian pemeriksaan sebelum dokter mengatakan sang suami menderita kanker di kepala. Sebagai pasangan baru mereka masih menyesuaikan diri dengan kehidupan dalam perkawinan namun telah mengalami masalah berat dalam keluarga. Saya membayangkan, ketika pertama kali mendengar diagnosa dari dokter, pasti berbagai perasaan dan peristiwa menyergap keluarga muda ini. Antara percaya dan tidak percaya peristiwa demikian terjadi pada mereka. Antara menerima dan menggugat Tuhan yang mereka percaya.

Kamis, 23 September 2010

Widgets

on

Penulis "Think & Grow Rich" Bangkrut?

Anda tentu tahu atau setidaknya pernah mendengar nama Napoleon Hill? Penulis salah satu buku terlaris “Think and Grow Rich” yang banyak dibicarakan orang? Bahkan belakangan ini kalau Anda datang ke toko buku sudah ada edisi revisi terbarunya.

Banyak orang mengenal Napoleon Hill sebagai yang belajar secara langsung dari orang-orang sukses dan kaya di dunia Kemudian merumuskan kesuksesan mereka untuk dipelajari banyak orang hingga sekarang

Bagaimana itu mungkin dia mati dalam keadaan bangkrut? Bukankah banyak orang sukses belajar juga dari tulisannya?

Setelah melakukan “penyelidikan” kecil-kecilan melalui internet singkatnya saya menemukan bahwa kondisi keuangan Hill belakangan memang naik dan turun hingga pada akhirnya Clement Stone melalui Hill Foundation menyelamatkannya.

Jadi memang Hill tidak mati dalam kondisi bangkrut namun itu adalah berkat pertolongan Stone. Secara teknis mungkin tidak bangkrut namun kondisi keuangannya mengenaskan jika Stone tidak menolong. Tentu dalam pandangan saya pribadi sebagai orang Katholik lebih tepat dikatakan campur tangan Tuhan melalui Stone.

Bagaimanapun tentu bukanlah sebuah akhir cerita yang banyak orang harapkan dari seorang penulis sukses yang merumuskan resep kesuksesan dari orang-orang besar.

Lalu kenapa Hill bisa bangkrut sementara orang lain yang belajar darinya tidak sedikit yang memperoleh kesuksesan finansial? Entahlah rasanya saya bukan dalam kapasitas untuk menjawab. Mungkin Hill sendirilah yang bisa menjawabnya.

Hill mungkin bisa dikatakan mengalami kegagalan dalam menerapkan apa yang dia ajarkan dalam bukunya. Namun setidaknya apa yang dia tuliskan telah menginspirasi banyak orang dan tak sedikit yang menerima manfaatnya.

Walau tentu banyak yang lebih setuju bahwa cara terbaik untuk memberi inspirasi adalah “to be a living breathing example of it”

Minggu, 12 September 2010

Widgets

on

Refleksi: Berkompetisi Pada Upaya dan Niat

Suasana mudik dan berkumpul bersama keluarga mungkin bahkan nostalgia bersama rekan semasa kecil tentu masih berasa bagi kita, baru beberapa hari kembali pada aktivitas rutin yang mungkin juga belum seproduktif biasanya.

Fenomena mudik memang sangatlah menarik dan telah membudaya dalam diri masyarakat kita. Mungkin bila tak berlebihan boleh dikatakan sebagai budaya nasional sebab sekalipun berasal dari berbagai latar belakang suku maupun keyakinan namun untuk yang satu ini menjadi kebiasaan yang sama-sama dijalani setiap tahunnya.

Saya sendiri sudah bertahun-tahun merasakan suasana musim mudik tentu dengan berbagai ragam pengalaman dari tahun ke tahun. Untuk tahun ini ada pelajaran penting yang ingin rasanya dibagikan melalui tulisan ini.

Tak dipungkiri bahwa selain kerinduan berkumpul bersama saudara dan teman-teman ada pula sisi-sisi lain yang muncul bersamaan dengan moment ini. Mungkin kita menjadi bagiannya namun mungkin tak semua menyadari atau menyadari namun menganggapnya wajar.

Dalam suasana nostalgia muncul sisi-sisi manusia yang berkeinginan untuk “show off” baik keluarga, usaha, karir dan sebagainya. Bahkan tak jarang anak pun yang sesungguhnya adalah “subjek” berubah menjadi “objek” pameran orang tuanya. Memang bukan hanya pada suasana ini saja orang memiliki keinginan untuk “memamerkan” HASIL. Tapi berhubung moment ini yang menyadarkan saya maka berawal dari sanalah tulisan ini.

Kamis, 09 September 2010

Widgets

on

Hal -hal Yang Sering Dilupakan Oleh Pengusaha Kecil dan Menengah

Apakah Anda merasa telah melakukan banyak hal untuk bisnis Anda hingga seolah hampir setiap upaya telah dilakukan dan lebih dari setengah waktu Anda pun telah diagihkan untuk mengembangkan usaha namun belum juga tercapai apa yang diinginkan?

Ada beberapa hal yang sering dilupakan oleh para pengusaha kecil dan menengah. Bisa jadi salah satunya menjadi penghambat kesuksesan Anda:

Tidak Memiliki Definisi Tepat tentang Kesuksesan

Banyak pengusaha mengartikan kesuksesan dikaitkan dengan kekayaan atau ketenaran. Sah-sah saja jika demikian. Namun jika Anda masih dalam skala usaha kecil atau menengah dan mengaiktkan kesuksesan dengan kekayaan atau ketenaran sebaiknya Anda mengubah definisi tersebut.

Ubahlah arti sukses dalam sudut pandang pelanggan. Bagaimana kepuasan pelanggan terhadap layanan dan produk Anda? Apakah barang dan jasa yang Anda sediakan sudah sesuai ekspektasinya?

Pastikan bahwa baik barang ataupun jasa yang Anda berikan sungguh-sungguh sesuai kriteria yang diharapkan oleh pelanggan. Banyak orang terjebak menilai kualitas barang atau jasa yang dijualnya dari sudut pandangnya sendiri tanpa mau melihat persepsi dan perspektif pelanggan.

Definisikan kesuksesan Anda sebagai sebuah kondisi dimana Anda mampu memenuhi bahkan melebihi ekpektasi pelanggan. Itu dulu!!

Rabu, 08 September 2010

Widgets

on

Pribadi yang Bertumbuh dan Berkembang

Beberapa waktu yang lalu, Saya membaca salah satu bab dalam buku yang telah dibaca bertahun-tahun yang lalu. Buku yang diberikan oleh salah seorang sahabat sebagai hadiah ulang tahun Saya sembilan tahun yang lalu itu berjudul “Selamat Bergumul”. Buku ini merupakan salah satu buku dari seri Selamat karangan Pdt. Andar Ismail. Selamat bergumul berisi 33 renungan tentang iman yang ditulis dengan bahsa yang sederhana dan lugas sehingga mudah dimengerti.

Bab yang Saya baca dalam buku itu berjudul “Iman itu Intim”. Pada bab itu diceritakan bahwa seringkali doa dijejali dengan begitu banyak kata-kata, akhirnya seringkali doa kita berputar-putar sehingga kita sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya kita doakan. Selanjutnya dalam tulisannya Pdt. Andar Isamil mengatakan bahwa doa bukanlah kegiatan bunyi atau suara, atau bicara dan kata, melainkan proses intimitas. Iman adalah intimitas. Iman bersifat intim. Intimitas bisa terjadi tanpa sepatah kata-pun. Intimitas barangkali justru terjadi tanpa sepatah kata pun. Intimitas barangkali justru terjadi dalam hati yang bersih dari kata-kata, yaitu hati yang sunyi, senyap, sepi, hening, teduh, tenang, dan lengang.

Bagi Saya kata-kata dalam bab itu sangat menarik, namun bukan isi bab dalam buku itu yang hendak Saya bagikan dalam tulisan ini. Saya ingin membagikan perasaan Saya ketika membaca Bab dalam buku itu. Ketika membaca bab “Iman itu Intim” dalam buku “Selamat Bergumul”, Saya merasa sedang membaca sesuatu yang baru. Saya merasa seperti belum pernah membacanya walaupun Saya ingat betul bahwa Saya pernah membacanya.

Selasa, 07 September 2010

Widgets

on

Mental yang Wajib Dimiliki Entrepreneur (Bag-2)

Terus mengamati dan menggali peluang. Jarang pengusaha sukses yang hanya terus menekuni satu bidang selama bertahun-tahun. Umumnya mereka bukanlah orang yang suka mengurusi hal-hal detail sehingga ketika sebuah bisnis dirasa mulai berjalan segera mereka akan memercayakan kepada para profesional. Sedangkan dirinya sendiri siap menerjuni wilayah baru yang memerlukan keterampilan baru pula.

Insting bisnis-nya juga terus terasah seiring bertambahnya pengalaman dan keterampilan. Mereka mampu melihat peluang bahkan mungkin dari hal-hal kecil yang terlewatkan oleh orang lain. Mereka juga tak henti-hentinya menguji peluang baru yang hendak ditekuni untuk memastikan bahwa peluang tersebut selaras dengan tujuan yang hendak dicapainya.

Peluang baru diuji melalui berbagai pertanyaan pokok:
1. Seberapa besar tingkat peluangnya?
2. Apakah dirinya sungguh akan menikmati bidang usaha ini?
3. Keterampilan apa yang dibutuhkan?
4. Apakah dampaknya terhadap kondisi finansial?
5. Apakah dampaknya bagi keluarga (istri dan anak-anak)?

Jauh berbeda dari pandangan orang lain yang menilai mereka memutuskan sesuatu secara impulsif. Tidak sama sekali! Memang tampaknya demikian namun dalam dirinya penuh pertimbangan dan kewaspadaan. Meski demikian mereka tak juga membiarkan dirinya menjadi orang yang suatu hari akan berkata: “Seharusnya dahulu.....”

Pengusaha masa kinipun cenderung mempertimbangkan sungguh-sungguh dampak bisnisnya bagi istri/suami dan anak-anak.

Senin, 06 September 2010

Widgets

on

Mental yang Wajib Dimiliki Entrepreneur (Bag. 1)

Mengapa orang-orang tertentu mencapai kesuksesan sementara banyak orang tidak? Apakah perbedaan yang ada pada diri mereka? Adakah hal-hal tersebut dalam diri Anda?

Dunia usaha sangatlah dinamis, perubahan perilaku pelanggan dan kompetitor menyebabkan hampir tidak ada sebuah keunggulan yang bisa terus dipertahankan dalam jangka waktu relatif panjang. Namun satu hal yang tak turut berubah sekaligus wajib dimiliki oleh siapapun yang memutuskan menjalankan usaha sendiri yaitu mental yang mutlak dimiliki oleh seorang wirausahawan. Ada baiknya Anda mengenali dan menjadikannya bagian dari diri Anda sebelum terjun ke negeri antah berantah yang mungkin akan mengharuskan Anda jatuh bangun sebelum mencapai tujuan.

Minggu, 05 September 2010

Widgets

on

Perenungan Pribadi: be a Lecturer

Hampir lima tahun ini aku bekerja sebagai dosen. Pekerjaan yang memang sejak awal aku inginkan. Bahkan ketika lulus kuliah aku memutuskan memberi waktu satu tahun untuk menunggu jawaban atas lamaranku ke almamater. Apabilla dalam waktu satu tahun tidak ada tanggapan, barulah aku akan mencari pekerjaan lain. Namun syukurlah sebelum waktu satu tahun yang kutetapkan berakhir, aku sudah dipanggil untuk mengikuti serangkaian tes dan akhirnya diterima sebagai dosen. Bagiku juga bukan kebetulan bahwa aku diterima menjadi dosen dengan pendidikan terakhir strata 1. Pada saat itu belum ada ketentuan bahwa untuk bisa menjadi dosen minimal berpendidikan strata 2.

Secara singkat aku bersyukur karena aku sekarang bekerja sebagai dosen. Apabila aku mengingat kembali mengapa alasan terbesar aku melamar dosen adalah karena aku senang dan ingin berbagi pengetahuan. Semasa kuliah, teman-teman kuliahku sering bertanya mengenai apa maksud dari suatu materi, dan aku merasa senang menerangkan untuk mereka. Sekarang aku menjadi lebih paham megenai kesenangan menjadi lecturer (someone who gives a lecture).

Sabtu, 04 September 2010

Widgets

on

Mengatasi Stress Single Entrepreneur

Memulai dan menjalankan bisnis sendiri bisa menjadi tantangan yang menarik di samping memberikan kesempatan besar untuk meningkatkan pendapatan , namun bisa juga sangat menekan pada situasi tertentu. Terutama bagi Anda yang telah lama berprofesi sebagai karyawan bertahun-tahun.

Gejala munculnya tekanan biasanya berbentuk sikap cepat marah, cemas akan keberlangsungan bisnis ataupun kemampuan membayar pinjaman modal.. Keluarga di sisi lain dapat menjadi tekanan atau dukungan. Ketika keluarga memberikan pengetian dan dukungan maka akan menjadi tambahan energi yang mengurangi tekanan, namun sebaliknya jika keluarga tak cukup mengerti situasi yang dihadapi dalam dunia wirausaha maka tak jarang akan menambah tekanan.

Bagi pengusaha wanita usaha menyeimbangkan pekerjaan rumah tangga dengan bisnis tentu bisa menjadi tekanan lain. Ketika Anda bekerja dari rumah pekerjaan rumah tangga dapat mengalihkan fokus terhadap bisnis demikian pula sebaliknya bisnis Anda mungkin menyebabkan pekerjaan rumah tangga yang terkesampingkan.

Kamis, 02 September 2010

Widgets

on

Sudah Tepatkah Bisnis yang Anda Jalani?

Dalam perjalanan kembali ke Salatiga kemarin saya memanfaatkan waktu dengan membaca. Sebuah edisi lama HBR Edisi Maret 2010 yang sudah lama saya miliki tapi hingga hari ini belum juga habis dibaca karena banyak hal.

Yang menarik adalah pada kolom “What Would Peter Do?” yang pernah diangkat sebagai tema HBR Edisi November 2009. Pada kolom tersebut Romm menceritakan pengalamannya ketika dirinya pada sebuah kesempatan pergi makan malam dengan pasangan yang mendirikan sebuah toko kerajinan pertama di US.

Pada kesempatan itu banyak justru tak banyak bercerita mengenai bagaimana mereka mencari barang-barang seperti keramik, karpet dan sebagainya untuk dijual namun justru banyak bercerita tentang resiko dan kerusakan akibat proses pengiriman yang menjadi bagian dalam bisnis mereka.

Romm dalam hati bertanya:
“Andaikan (Peter) Drucker ada dalam posisiku saat ini pasti dia (Drucker) akan berkata dimana Anda memfokuskan banyak waktu dan energi maka itulah bisnis yang Anda jalani”

Berangkat dari situ Romm kemudian berkata pada keduanya bahwa mereka tampak lebih berfokus pada usaha pengiriman ketimbang kerajinan.

Pada akhirnya pasangan tersebut menerima saran Romm dan menjalankan usaha jasa pengiriman yang berjalan baik dan memberikan banyak keuntungan ketimbang usaha mereka sebelumnya.

Menarik bukan? Saya rasa banyak wirausahawan skala kecil dan menengah yang terjebak atau setidaknya pernah terjebak pada situasi semacam ini sebelum akhirnya sadar.

Saya mungkin termasuk di dalamnya, ketika membuka toko saya selalu bersemangat dan menghabiskan banyak waktu untuk merancang penataan, desain, display dan sebagainya namun ketika harus mengurus operasional sehari-hari rasanya semangat itu pudar.

Saat berpindah toko pun saya kembali bersemangat merancang ide terkait desain dan tata letaknya. Sekali lagi ketika sudah masuk tahap operasional penjualan terasa hilang tantangannya. Bisa jadi dalam hal ini saya seharusnya tidak terjun dalam usaha ritel namun mungkin lebih tepat menjadi perancang desain dan tata letak toko.

Benar atau tidak rasanya perlu dibuktikan namun sepertinya dalam waktu dekat belum masuk rencana saya. Bagaimana dengan Anda? (Satrio)

Selasa, 31 Agustus 2010

Widgets

on

Pelajaran Dari Sprei

Kemarin malam seperti biasa setelah seharian sibuk dengan aktivitas dan pekerjaan masing-masing saya dan istri mengobrol di tempat tidur membicarakan berbagai topik seputar kejadian-kejadian sepanjang pagi hingga sore.

Bukan topik pembicaraan kami yang hendak saya tulis, melainkan sebuah kejadian kecil yang terjadi selama pembicaraan entah mengapa menjadi hal yang menarik bagi saya.

Di tengah pembicaraan, istri saya mencoba merapikan sprei di tempat tidur kami sementara kami berdua di atasnya. Entah karena berfokus pada obrolan atau hal lain yang jelas istri saya menarik bagian yang kusut pada sprei ke arah yang tidak semestinya. Memang bagian yang semula kusut kemudian menjadi lebih rapi namun sebaliknya ada bagian lain yang menjadi tidak rapi karena tarikan tersebut.

Kejadian ini seolah memberikan sebuah pelajaran bagi saya bahwa tak jarang ketika muncul suatu masalah orang terburu-buru ingin membereskannya. Entah itu masalahnya sendiri entah juga dalam hal-hal tertentu dimana sebenarnya yang bersangkutan tak terlibat langsung namun tidak dapat menahan diri untuk tidak campur tangan.

Sifat yang demikian menyebabkan seseorang hanya melihat pada apa yang “tampaknya” terjadi tanpa mencoba menelusuri lebih jauh atau lebih dalam asal mulanya dan mencoba menemukan akar permasalahannya.

Akibatnya seperti “kasus sprei” semalam, bukannya menjadi lebih baik justru masalahnya menjadi lebih runyam. Nah kalau sudah begini kecenderungannya bukan mengakui kesalahan namun justru memaksakan ego masing-masing yang tak jarang efeknya jauh lebih besar ketimbang pokok masalahnya sendiri.

Selasa, 24 Agustus 2010

Widgets

on

Bukan Selamanya...

Pernahkah Anda teringat akan peristiwa atau kenangan masa lalu entah baik maupun buruk? Apa yang terjadi ketika mengingatnya? Mungkin sebagian orang akan tertawa akan apa yang terjadi di masa lalu, sebagian yang lain mungkin akan menyesal dan sebagian lagi mungkin bahkan sudah tak lagi ingat akan apa yang terjadi. Memang reaksi dan persepsi tentang kejadian dimasa lampau tidak sama pada setiap orang.

Awal bulan Agustus hingga dua hari yang lalu saya mengalami sebuah kondisi yang tak terduga dan terus terang selama itu membuat saya cukup tertekan terlebih ketika setiap upaya yang dilakukan untuk mengatasinya tidak membawa hasil. Hari-hari saya dipenuhi pikiran dan perasaan yang tidak menentu. Seolah hanya persoalan itulah yang mengisi setiap waktu dalam hidup saya pada hari-hari tersebut.

Puji Tuhan bahwa kemarin mulai terlihat titik terang meski belum sepenuhnya terselesaikan namun setidaknya muncul secercah harapan yang membawa kelegaan. Dan itu sudah lebih dari cukup untuk menjadikan saya bersyukur dan tidur nyenyak.

Pengalaman itu justru memberikan pelajaran yang berharga, sedikit kelegaan telah membawa saya pada kesadaran betapa sering saya melewatkan banyak hal yang semestinya dapat disyukuri setiap hari karena menganggap bahwa hal-hal tersebut adalah biasa. Tidur yang nyenyak, bangun pagi dengan semangat dan harapan atau hal-hal kecil lainnya dalam kondisi sehari-hari terasa wajar dan kurang disyukuri. Namun bagi yang telah merasakan betapa hal-hal itu tak begitu saja datang tanpa arti maka akan timbul penghargaan dan rasa syukur akan hal-hal yang sebelumnya terasa biasa.

Teringat pada beberapa kejadian di masa lalu yang kala itu terasa berat atau tak menyenangkan namun setelah berlalu menjadi sebuah cerita yang berakhir baik. Seperti ketika SMA gagal saat pertama kali mengikuti seleksi program pertukaran pelajar, ketika mencoba untuk kedua kali dan berhasil serta mengalami banyak pengalaman menyenangkan baik ketika persiapan maupun selama satu bulan di Australia seolah kegagalan yang terjadi sebelumnya tak lagi berarti. Bahkan justru bersyukur bahwa bisa jadi pengalaman yang diperoleh selama di Australia akan berbeda tak sebaik saat itu.

Demikian pula ketika menyusun thesis dimana salah satu kelompok narasumber-nya adalah pengacara di kota Salatiga. Ternyata sekelompok pengacara tertentu menolak dengan alasan kerahasiaan antara klien dan pengacara. Bagi saya yang sarjana hukum dan waktu itu adalah calon master di bidang manajemen pemasaran tentu adalah alasan yang sangat lucu mengingat saya sangat memahami batasan-batasan baik etika kerahasiaan klien-pengacara, etika penelitian maupun etika pemasaran dimana kedua hal terakhir tadi jelas tak dikuasai oleh kelompok orang tersebut.

Justru di saat bersamaan ketika bicara etika mereka menyarankan agar saya memanipulasi data ketimbang melakukan penelitian riil. “Yang penting segera lulus, dapat gaji besar dan menikah”. Begitu kata salah satu dari mereka.

Mungkin tak pernah terpikir oleh mereka bahwa dibalik ijazah dan gelar akademik yang nantinya saya peroleh ada tanggung jawab yang menyertai. Pertama bisa jadi dengan ijazah dan gelar itulah saya akan mencari nafkah yang menghidupi keluarga. Akankah saya memberi nafkah dengan gelar yang penelitiannya dimanipulasi? Kedua ada tanggung jawab moral dalam memberikan kontribusi bagi pengetahuan. Tak usahlah muluk-muluk namun katakan saja thesis saya dipelajari dan diteliti lebih lanjut oleh orang lain, bukankah manipulasi itu akan berdampak pada penelitiannya?

Di luar sisi moral adalah bahwa tempat di mana saya studi adalah salah satu yang termasuk dalam 10 sekolah bisnis terbaik di Indonesia versi majalah SWA. Para pengajarnya pun tak hanya kompeten dan berkualitas namun juga bermoral dalam keilmuan. Tentu tak begitu saja bisa dibodohi dengan manipulasi.

Lagi pula thesis saya hendak mengkaji bagaimana persepsi layanan yang diterima oleh seorang pembeli industri jasa berpengaruh terhadap preferensi rekomendasinya. Kebetulan objek penelitiannya adalah pengacara. Saya bahkan tak mengangkat isu etika dan tanggung jawab moral pengacara namun mereka sudah sedemikian resisten dan ketakutan.

Sementara di satu sisi ada sekelompok pengacara yang menolak mati-matian seolah ketakutan ada banyak hal terbongkar di lain tempat pengacara-pengacara lainnya dengan senang hati menerima bahkan berharap menerima hasil penelitian nantinya sebagai bahan evaluasi sendiri. Dalam hal penelitian ini pengacara tak ubahnya adalah perusahaan yang tentu saja diuntungkan dengan adanya penelitian semacam ini apalagi gratis.

Anyway, kondisi itu sempat membuat saya dalam posisi sulit karena proses penelitian terhambat. Kala itu banyak tekanan dalam diri saya baik untuk segera menyelesaikan studi dengan pertimbangan biaya, idealisme untuk menghasilkan penelitian yang berkualitas belum lagi profesor pembimbing saya adalah seorang yang luar biasa penuntut sekaligus saya segani dalam penguasaan ilmu di bidangnya. Namun akhirnya semua berakhir baik, tak butuh lama bagi saya untuk akhirnya menyelesaikan penelitian dan bahkan mendapat nilai A. Kini ketika kembali mengenang saat itu maka kesulitan yang pernah dialami tidaklah penting karena semua telah berlalu dan berlalu dengan sangat baik.

Namun adakah penyesalan? Ya terkadang ada, bukan penyesalan atas hasil namun penyesalan karena telah melewatkan hari-hari itu dengan rasa tertekan, jengkel, ingin segera berlalu seolah hari-hari itu tiada berarti dan tiada yang dapat disyukuri.

Jika mengingat kondisi yang terjadi beberapa hari yang lalu sebagaimana saya sebutkan pada awal tulisan ini. Tentu saat itu tak terpikir dan tak terbayang bahwa hari ini saya akan bersyukur atas kelegaan yang luar biasa, bahwa hari ini saya akan membuat tulisan ini di tengah perjalanan bertemu customer, bahwa di tengah perjalanan saya merasa senang hanya karena melihat sebuah Toyota Alphard 3.5 G sambil membayangkan suatu saat akan dipercaya untuk memilikinya, bahwa hari ini akan punya sebuah topik untuk ditulis ke blog. Tak terpikir bahwa penting untuk bersyukur serta menikmati moment “saat ini” dan menertawakan diri sendiri yang berminggu-minggu dipenuhi kehawatiran padahal toh akhirnya semua baik-baik saja.

Hari demi hari sering terlewatkan begitu saja seolah rutinitas dan tanpa makna, tuntutan pekerjaan dan kebutuhan hidup sering membawa kita pada kondisi lupa dan tak menyadari sungguh-sungguh “waktu ini”. Entah baik maupun buruk yang terjadi saat ini bukanlah selamanya, pada waktunya akan berlalu juga dan bahkan sedemikian cepat semuanya itu hanya menjadi masa lalu. “Saat ini” bukanlah selamanya, betapa kita bisa lebih menghargai dan mensyukuri “saat ini” ketika kita sadar bahwa secepat itu semua ini berlalu terlebih ketika kita sadari bahwa kekhawatiran akan “nanti” telah melawatkan “saat ini”. Dan yang lebih buruk adalah dengan melewatkan “saat ini” tak ubahnya telah mengacuhkan juga “pemeliharaan dan kehadiran Tuhan bersama kita saat ini”.


Tulisan berikut mungkin bermanfaat bagi Anda yang sedang menghadapi sebuah keadaan yang tak diinginkan.


Senin, 16 Agustus 2010

Widgets

on

Melampaui Akal Kita

“Blind Side memang bukan film baru dan sudah dirilis tahun lalu, namun baru hari Minggu kemarin saya menontonnya secara kebetulan. Memang kebetulan sebab film ini menjadi pilihan saya dikarenakan ketika ke sebuah rental film hampir semua film baru sedang disewa.
Di antara beberapa pilihan judul film yang tersisa akhirnya saya pilih film ini meski tak begitu yakin bahwa ceritanya akan menarik karena ber-genre drama, sebuah genre yang tidak menjadi pilihan bagi saya.

Namun ternyata penilaian saya berbalik total ketika menyaksikannya. Film ini merupakan sebuah kisah nyata yang menceritakan kehidupan Michael Oher seorang pemain ternama di NFL (American Football) dari klub Baltimore Ravens.

Di balik kepopuleran dan kesuksesannya di kemudian hari ternyata sejarah kehidupannya di masa lalu tak secemerlang sebagaimana saat ini. Dilahirkan dari seorang ibu yang adalah pecandu obat bius dan ayah yang tak pernah diketahui, Oher hidup sebagai seorang tunawisma yang hanya mengandalkan kebaikan orang-orang untuk menampungnya. Hingga pada suatu ketika penampungnya membawanya ke sebuah sekolah elit yang bersedia menerimanya berkat bantuan sang pelatih football sekolah itu.

Meski sudah diterima namun hidupnya tak lantas menjadi mudah, ketidakmampuannya untuk belajar dengan membaca membuat banyak guru beranggapan bahwa Oher tak dapat ditolong. Belum lagi orang yang selama ini menampungnya tak lagi bersedia menerima Oher di rumahnya.

Secara tak sengaja Oher bertemu dengan keluarga Tuohy ketika dirinya hendak menginap di gym sekolah pada malam hari. Leigh Anne Tuohy merasa iba dan menampungnya di rumah keluarga mereka.

Sejak kehadiran Oher, Leigh Anne merasakan dorongan untuk membantu kehidupan Oher bukan hanya secara finansial namun juga menggali lebih jauh mengenai penyebab keterbelakangan Oher yang pada akhirnya diketahui bahwa meski sulit membaca namun Oher mampu menyerap pelajaran secara verbal.

Singkat cerita Oher bahkan diadopsi secara resmi oleh keluarga Tuohy dan berkat bantuan keluarga itu pula Oher menemukan potensinya sebagai pemain football. Tidak sesimple itu sebenarnya perjalanan cerita biografi Oher dalam film ini, Anda bisa menyaksikan sendiri melalui DVD yang sudah lama beredar.

Yang hendak saya ceritakan di sini adalah pesan dari cerita kisah nyata ini yang begitu mendalam. Keluarga Tuohy adalah keluarga yang berkelimpahan secara ekonomi, Sean Tuohy sang ayah adalah pemilik restoran waralaba sukses sekaligus komentator olah raga sedangkan Leigh Anne istrinya seorang perancang yang sukses pula. Bukan hanya secara finansial mereka sangat mapan namun hubungan di dalam keluarga itu sendiri juga sangat harmonis.

Oher di sisi lain kehidupannya sangat miris, tanpa bimbingan orang tua, tidak memiliki dukungan finansial dan bahkan selain satu setel pakaian yang dikenakan “hartanya” adalah sebuah t-shirt serep yang selalu dibawanya kemana-mana dengan kantong plastik.

Secara logika tak ada yang kurang dari keluarga Tuohy seolah tak ada lagi yang harus dicari sementara Oher dipihak lain secara logika tak ada harapan tentang masa depan bahkan bertahan hidup sehari pun sudah anugerah yang luar biasa.

Namun ternyata Tuhan memiliki cara yang unik dan melewati segala akal serta logika dalam menyentuh dan menyapa umatnya. Kehadiran Oher bagi keluarga Tuohy telah membuka mata mereka bahwa masih ada pilihan untuk membuat hidup mereka jauh lebih berarti melebihi segala yang telah mereka peroleh dan miliki selama ini. Tuhan telah memberi kesempatan bagi mereka untuk menjadi sarana penyaluran berkat, dan mereka dengan senang hati menerimanya.

Kehadiran keluarga Tuohy bagi Oher adalah jawaban bahwa Tuhan tak pernah berhenti memelihara umatnya. Sekalipun akal manusia melihat bahwa harapan telah sirna namun kuasa, kasih dan keajaiban Tuhan jauh melampaui apa yang dapat diterima oleh manusia. Bagaimana seorang gelandangan yang tinggal di daerah kumuh pada akhirnya bertemu dengan keluarga kaya yang tinggal di daerah elit bermil-mil jauhnya. Bukan hanya bertemu namun keduanya sama-sama menjadi sarana bagi Tuhan untuk menyapa satu sama lain.

Saya teringat seorang Pastor pernah menggambarkan suatu kejadian dimana seseorang yang dalam perjalanannya menemukan sebuah wilayah yang baru saja tertimpa bencana dan banyak yang kehilangan nyawa serta harta benda. Kemudian orang tersebut bertanya pada Tuhan:

“Ya Tuhan...jika memang Engkau sungguh ada dan Engkau memelihara umat-Mu, mengapa semua Engkau tak menolong mereka?”

Jawab Tuhan singkat kepadanya: “untuk itulah aku menciptakan engkau”

Ya... kita semestinya bersyukur bahwa sebagai manusia pada hakekatnya kita menjadi rekan kerja Allah di dunia. Namun tak jarang ketika kesempatan tiba kita lupa dan tidak membuka hati.

Kisah Michael Oher yang diangkat dalam film “Blind Side” tersebut setidaknya mengingatkan kita akan tiga hal yang demikian berharga:

Pertama, bahwa Tuhan sungguh memelihara umat-Nya. Ketika kita merasa segala jalan sudah tertutup dan tiada lagi kemungkinan sesungguhnya kita telah membatasi kemampuan Allah untuk melakukan banyak hal yang melebihi akal kita.

Kedua, sungguh Allah terus menggunggah hati kita untuk menjalankan tugas kita sebagai rekan kerja-Nya di dunia dengan menjadi saluran kasih dan berkat bagi sesama. Namun maukah kita senantiasa membuka hati itu sesama? Akankah kita tergerak ketika kesempatan itu tiba?

Ketiga, Dia menjadikan segala sesuatu indah pada akhirnya. Mungkin untuk mencapainya kita harus melewati berbagai macam ujian namun justru saat itulah kesungguhan iman kita diuji. Akankah kita tetap setia pada-Nya? Ataukah kita akan meninggalkan-Nya karena menganggap ujian itu sebagai ketidak pedulian Allah pada kita?
Segala-galanya yang menimpa dirimu terimalah saja, dan hendaklah sabar dalam segala perubahan kehinaanmu. Sebab emas diuji di dalam api, tetapi orang yang kepadanya Tuhan berkenan dalam kancah penghinaan. Percayalah pada Tuhan maka lapun menghiraukan dikau, ratakanlah jalanmu dan berharaplah kepada-Nya.
Pandanglah segala angkatan yang sudah-sudah dan perhatikanlah: Siapa gerangan percaya pada Tuhan lalu dikecewakan, siapa bertekun dalam ketakutan kepada-Nya dan telah ditinggalkan, atau siapa berseru kepada-Nya lalu tidak dihiraukan oleh-Nya? (Sir 2:4-6, 10)

Senin, 09 Agustus 2010

Widgets

on

Ia Sungguh Tak Pernah Terlambat

Bacaan pada Misa hari Minggu, 8 Agustus 2010 kemarin yang diambil dari Ibrani 11 diceritakan bagaimana Abraham setia dan taat pada apa yang telah dijanjikan oleh Allah.

Namun yang menarik adalah bahwa Abraham sendiri yang adalah seorang hamba yang demikian taat pada Allah juga tidak senantiasa memiliki keyakinan iman yang konsisten dan progresif sepanjang hidupnya. Ada pula masanya Abraham mencoba bersikap “realistis” dan berusaha “menerima” bahwa pada faktanya memang keadaan demikianlah yang harus dihadapi meski Allah sebelumnya telah menjanjikan lain.

Meski Abraham tak lantas meninggalkan Allah karena merasa Allah tak menepati janji-Nya namun keraguan iman yang membuatnya bersikap “realistis” dan “menerima” menunjukkan bahwa Abraham sekalipun sempat goyah imannya.

Keteguhan iman Abraham walau demikian sungguh luar biasa sebab pada akhirnya Abraham tetap percaya pada janji Allah sehingga Allah sendiri memperhitungkannya sebagai kebenaran (Kej. 15:6).

Bacaan tersebut mengingatkan saya pada sebuah perstiwa yang terjadi belum genap setahun yang lalu. Sudah sembilan tahun hubungan saya dengan pacar saya (saat ini sudah menjadi istri) kala itu. Sejak memasuki tahun kedua kami sudah mulai serius merencanakan dan mempersiapkan banyak hal terkait masa depan.

Demikian yakinnya kami akan rencana-rencana tersebut hingga kami bahkan tak terusik ketika orang menanyakan mengapa kami tak segera menikah. Kami begitu percaya diri dan optimis menatap masa depan karena segala persiapan dan perencanaan terasa sedemikian matang.

Sejak tahun 2003 kami sudah merencanakan akan menikah di tahun 2009, dan semakin hari kami semakin yakin bahwa segala persiapan membangun rumah tangga sudah sedemikian sempurna. Baik dari segi mental maupun finansial, bahkan setahun sebelum menikah saya sudah bisa membeli rumah baru dan mobil baru. Usaha saya pun berjalan sangat lancar demikian pula halnya calon istri saya (ketika itu) sudah merasa mantap dan mencintai pekerjaannya.

Tak disangka bahwa beberapa bulan menjelang pernikahan kami suatu peristiwa terjadi yang menyebabkan saya mengalami kerugian besar. Peristiwa yang menjadi sebuah pukulan bagi kami berdua.

Oleh karena kami berdua sama-sama terbiasa mengatasi setiap persoalan sendiri dan tidak melibatkan orang tua maka benar-benar hanya kami berdua yang tahu persis peristiwa saat itu.

Ketika orang tua, saudara atau teman menanyakan seputar persiapan kami katakan semuanya lancar. Dan memang kami tidak banyak melibatkan orang tua, saudara atau teman karena semula memang hendak menyerahkan semuanya pada Wedding Organizer agar keluarga dan para sahabat datang hanya untuk menikmati bersama tanpa repot mengurus banyak hal.

Secara matematis sungguh tak masuk akal bahwa uang yang masih tersisa digunakan untuk acara pernikahan kami. Meski sebenarnya cukup jika hanya sekedar untuk Pemberkatan dan jamuan sederhana bersama para undangan, namun ada pihak-pihak tertentu yang menentang dan menghendaki diadakannya resepsi.

Kami sungguh tak tahu lagi apa yang harus dilakukan saat itu. Berbagai upaya dilakukan namun tak juga membuahkan hasil. Semua vendor yang telah kami pesan akhirnya dibatalkan. Kami terus berdoa dan membaca Alkitab bersama. Beberapa ayat dalam Alkitab mengingatkan kami bahwa Allah adalah Allah yang mungkin....Allah yang memelihara....Allah yang tahu dan peduli akan umat-Nya. Namun dalam kondisi sedemikian sulit menjaga iman dan kepercayaan bahwa Ia sungguh akan menolong kami.

Tak dapat terlukiskan perasaan kami waktu itu betapa kekhawatiran dan ketakutan terus menghantui hari-hari kami seolah keduanya lebih menguasai kami ketimbang Tuhan sendiri.

Antara nekat bercampur sisa harapan dan keengganan meminta bantuan orang lain akhirnya hingga bulan Desember 2009 masih belum ada solusi akan apa yang mesti kami lakukan.

Dengan sisa-sia uang yang ada kami nekat memesan dan membagikan Undangan, ketika banyak saudara dan teman dari jauh yang memastikan akan datang perasaan kami bercampur antara senang dan khawatir.

Pihak keluarga dekat yang sama sekali tak tahu menahu mengenai apa yang terjadi terus mempersalahkan kami yang dianggap terlambat dalam memesan undangan, membagi undangan dan sebagainya. Tentu tekanan semakin besar bagi kami berdua.

Kami bahkan menggunakan fasilitas Facebook, sms, telepon, e-mail untuk mengundang keluarga dan teman-teman yang terdaftar di sana mengingat bahwa undangan cetak memang baru jadi dua minggu menjelang hari H.

Saya sungguh ingat kala itu, seminggu sebelum hari H pernikahan (Pemberkatan kami direncanakan tanggal 19 Desember dan resepsi sehari sesudahnya) pagi hari kami pergi ke Gereja (hari Minggu) dengan perasaan tak karuan. Bahkan sepulang dari gereja pun perasaan kami tak kunjung membaik.

Petang harinya kami memberanikan diri dan menguatkan hati untuk berdoa bersama, kami mohon kepada Tuhan untuk menolong kami. Dan sekaligus kami mohon pengampunan jika apa yang hendak kami lakukan tidak berkenan bagi-Nya.

Setelah berdoa dengan tetap diwarnai kecemasan akhirnya kami menelepon salah satu Wedding Organizer. Istri saya yang menelepon karena kebetulan pernah bersama dalam suatu organisasi beberapa tahun silam. Melalui telepon dijelaskan bahwa kami butuh semua persiapan beres untuk tanggal 19 dan 20 Desember.

Meski sempat terkejut karena waktunya sangat mepet akhinya dia menyanggupi. Memang pada bulan Desember 2009 itu tidak banyak yang melangsungkan pernikahan. Bahkan dalam kursus perkawinan di gereja saya (GKPM) hanya ada 3 pasangan termasuk kami dan di gereja calon istri (GKI) hanya kami berdua pesertanya. Kondisi ini awalnya kami anggap sebagai kebetulan yang menguntungkan namun kini kami sadari bahwa tidak ada kebetulan.

Dalam kurun waktu seminggu kami berdua dibantu WO sungguh sibuk dengan berbagai macam hal dan urusan. Sambil tetap dipenuhi kekhawatiran namun kami terus berdoa dan berharap pada pertolongan-Nya. Sebab meski persiapan sudah berjalan kami tidak tahu juga harus membayar dengan apa nantinya. Memang perjanjian dengan pihak WO dibayar Rp 10 juta di muka dan pelunasan seminggu setelah resepsi.

Hal-hal baik mulai datang bersama dengan persiapan kami, bantuan tak terduga dari beberapa pihak yang bahkan tanpa kami minta. Keluarga adik saya menyumbangkan souvenir untuk dibagikan pada resepsi pernikahan kami, pihak WO bersedia menyewakan gaun terbarunya yang belum pernah dipakai dengan harga sewa sama, seorang rekan bisnis memesankan kamar hotel untuk kami berdua dan masih banyak lainnya.

Bahkan sebenarnya jauh sebelum itupun kami sudah beroleh kemudahan dalam mengurus ijin pernikahan beda gereja yang menurut pengalaman beberapa teman cukup rumit ternyata kami mengalami sebaliknya. Bagi kami ini adalah anugerah tersendiri.

Pada titik inilah kami mulai sadar bahwa Tuhan sungguh bekerja bersama kami, karenanya keraguan dan kekhawatiran perlahan mulai hilang dalam diri kami berganti dengan rasa syukur, optimisme dan sukacita.

Akhirnya tibalah tanggal 19 Desember 2010, tiada ketegangan dan kekhawatiran dalam diri kami. Tak seperti yang diceritakan oleh banyak orang tentang ketegangan di hari pernikahan. Kami justru merasakan anugerah yang sedemikian luar biasa. Saya sendiri saat itu seolah dalam hati tak bisa berhenti mengucap syukur kepada Tuhan atas kebaikan yang tak terungkapkan dengan kata-kata.

Kami berdua dipenuhi rasa syukur dan bahagia meski pada saat itupun masih belum tahu bagaimana melunasi biaya pernikahan ini. Namun tak lagi penting rasanya karena kini kami tahu dan sadar akan penyertaan-Nya.

Resepsi keesokan harinya pun berjalan dengan sangat baik dan lancar, kami sungguh merasa lepas dari kesesakan yang sebelumnya terasa menghimpit sepanjang hari.

Malam hari kamar hotel kami berdua tak berhenti satu sama lain berbicara betapa baiknya, betapa ajaibnya Tuhan yang kami sembah. Bahkan dengan iman kami yang jauh dari sempurna pun Ia sudi menolong kami.

Kebaikan terus terjadi dalam hidup kami, istri saya baru tahu bahwa ternyata kantornya menyediakan fasilitas pinjaman uang untuk pernikahan. Sebuah pembayaran dari customer yang sudah saya anggap tidak tertagih ternyata masuk ke rekening saya dengan pemberitahuan melalui SMS.

Kini memang pada akhirnya demi melanjutkan berjalannya usaha saya terpaksa rumah dan mobil dijual. Kami tinggal dalam rumah kontrakan dan kembali menggunakan sepeda motor yang dibeli istri saya dari gajinya ketika masih lajang namun keadaan ini tak menyurutkan kami.

Pun ketika di awal pernikahan kami sempat difitnah oleh sekelompok orang tertentu dengan motivasi ingin mendapat pujian di mata orang lain tak juga membuat kami gentar atau merasa terganggu sedikitpun. Fitnah tersebut tak juga kami tanggapi. Sebagaimana Gandhi pernah berkata: “Sia-sia berbicara dengan akal sehat kepada orang yang hatinya tertutup” kamipun memilih diam dan menjalani hidup dengan baik seolah hal itu tak pernah terjadi.

Damai sejahtera dan kasih karunia-Nya sungguh melampaui semua itu. Menyadari bahwa kasih karunia Allah dan berkat penyertaan-Nya dalam hidup kami yang terasa demikian nyata telah menjadi kekuatan yang menghidupi kami. Meski harus melepaskan semua harta yang tadinya telah dipersiapkan dengan baik namun hubungan kami sebagai keluarga baru sangatlah baik.

“Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” (Mat. 6:21) kini kami mengerti maknanya. Selama ini kami telah merasa aman karena harta di bumi padahal semestinya rasa aman adalah berasal dari rasa percaya kepada Tuhan. Itulah harta dimana ngengat dan karat tidak akan merusaknya.

Mungkin memang melalui peristiwa itu Ia hendak mengingatkan dan menegur kami. Bahwa Ia sudi menegur kami dan membuka hati kami untuk mendegar sapaan-Nya itupun bagi kami adalah hal yang patut disyukuri.

Teguran dari Tuhan telah menjadikan kami mengawali proses membangun keluarga dengan benar dimana Kristus sungguh menjadi pemersatu dan andalan bagi kami. Kini kami berdoa dan bertekun semoga kami mampu mempertahankan iman ini dalam segala peristiwa sepanjang hidup. Sebab kami sadar bahwa perjalanan ini masih panjang dan tak seorangpun tahu hingga kapan waktunya tiba.

Hingga kini pun orang tua dan saudara-saudara tetap tidak tahu apa yang terjadi ketika itu. Kecuali jika mereka membaca tulisan ini namun setahu saya tak satupun dari mereka yang menjadi pembaca blog kami dan nampaknya bahkan tak tahu keberadaan blog ini :)

Widgets

on

FEAR!!

Ketika pertama kali membuat blog ini sebenarnya saya putuskan untuk tidak menulis topik tidak produktif termasuk di antaranya isu-isu politik dan SARA. Namun pada kenyataannya tak selalu bisa konsisten demikian.

Termasuk ketika baru-baru ini mendengar sebuah tindak kekerasan yang lagi-lagi terjadi dengan dalih tempat ibadah yang tidak berijin. Apakah motif tersebut benar? Atau ada agenda lain? Apakah murni menyangkut SARA ataupun yang lain bagi saya tidaklah penting.

Kekerasan sering digunakan oleh pihak-pihak tertentu dengan mengatasnamakan bermacam-macam hal namun hampir semua memiliki satu kesamaan: memaksakan sebuah ide. Entah ide itu diberi label kebenaran, keadilan atau apapun namun kesemuanya adalah reaksi alergi akan adanya sebuah perbedaan.

Tak jarang bahwa demi memaksakan sebuah ide maka orang atau kelompok tertentu kehilangan hati dan akal sehat, bahkan rela mengorbankan kehormatan dan harga dirinya sendiri.

Apakah sebuah kebenaran jika memang demikian? Sebuah ide yang diterima dengan paksa oleh semua orang? Sebuah kondisi dimana apa yang kita yakini diterima mutlak oleh setiap golongan?

Kekerasan apapun motivasi dibaliknya dan demikian pula dengan keinginan untuk memaksakan sebuah ide, keyakinan termasuk keinginan untuk senantiasa mengontrol dan mengendalikan orang lain pada dasarnya adalah bersumber dari satu hal: KETAKUTAN!!

Dan ketakutan sendiri hanya muncul dan terjadi pada orang atau pihak yang tidak mengandalkan Tuhan. Jadi entah bagaimana seseorang bisa sedemikian yakinnya berpikir bahwa kekerasan yang dilakukannya adalah untuk Tuhan? Sedemikian lemahnya kah Tuhan di mata orang-orang ini hingga memerlukan manusia untuk “menyingkirkan” apa yang tak berkenan bagi-Nya?

Meski saya tak sepenuhnya yakin pula bahwa kekerasan yang terjadi benar-benar mengatasnamakan keyakinan dan bahkan tak peduli motivasi seseungguhnya dari orang-orang ini namun.... 100% saya yakin bahwa orang-orang ini adalah orang yang penuh ketakutan karena tidak mengandalkan Tuhan.class="gl_align_full"

Senin, 02 Agustus 2010

Widgets

on

Refleksi Pribadi: Mengutamakan Tuhan

Berbagai peristiwa yang terjadi dalam hidup kita tak jarang merupakan bentuk dan cara Tuhan menyapa kita, namun tak setiap sapaan itu selalu kita terima atau bahkan kita sadari karena kita terlalu sibuk dengan berbagai pikiran, persepsi dan bahkan kekhawatiran.

Tema bacaan dan homili yang diangkat pada hari Minggu 1 Agustus 2010 kemarin awalnya saya rasakan sebagai salah satu sapaan Tuhan kepada diri saya secara pribadi namun ternyata setelah berbincang-bincang dengan istri saat makan malam kami bedua sadar bahwa sapaan tersebut juga untuk keluarga baru kami.

Bacaan-bacaan yang diambil dari Alkitab bukanlah hal yang asing di telinga saya, sejak kecil sudah sedemikian sering mendengarnya. Hanya saja tak jarang bahwa dalam perjalanan hidup sebuah ayat yang tadinya terasa biasa saja menjadi terasa bermakna. Bahkan tak jarang pula pemahaman saya sebagai orang awam terhadap salah satu ayat tidaklah tepat, seringkali hal ini disebabkan oleh kurangnya rasa peduli saya terhadap ayat-ayat tersebut.

Namun ketika suatu peristiwa terjadi tiba-tiba seolah disadarkan tentang makna sebenarnya dibalik ayat-ayat tersebut. Persepsi seringkali juga mengaburkan makna sebenarnya karena kita terlalu sibuk dengan pikiran dan keinginan, membuat saya sadar bahwa persepsi sering menyesatkan. Itulah juga mengapa John Main, OSB yang adalah seorang pastor menekankan pentingnya keheningan batin dan doa batin. Karena dalam keheningan kita tidak berpersepsi dan tidak menuntut melainkan pasrah serta membiarkan Roh Kudus membimbing kita. Tidak mudah memang namun tidak juga mustahil.

Hari Minggu kemarin bacaan dari Pengkhotbah (1:2; 2:21-23), Surat Rasul Paulus kepada umat di Kolose (3:1-5. 9-11) Lukas (12:13-21) benar-benar menyadarkan saya akan suatu hal sekaligus mengkoreksi beberapa pemahaman saya yang tidak tepat.

Kesia-siaan
Pengkhotbah menyebutkan berbagai hal tentang kesia-siaan. Dahulu saya berpikir bahwa yang dimaksudkan adalah bahwa kesemua yang disebutkan satu-per satu oleh Pengkhotbah adalah hal yang sia-sia untuk dilakukan maupun dimiliki.

Tak jarang ketika membacanya saya bertanya dalam hati sedemikian sia-sianya kah semua ini? Pekerjaan? Harta? Bahkan hidup? Kalau memang demikian lalu mengapa semuanya harus dijalani?

Baru belakangan saya pahami bahwa yang dimaksud oleh Pengkhotbah sia-sia adalah apabila hal-hal tersebut menjadi “keutamaan” dalam hidup kita.

Sering saya tak menyadari dan tak bermaksud demikian namun saya telah mengutamakan hal-hal tersebut ketimbang Tuhan sendiri.

Bukankah semua hal yang saya miliki apapun bentuknya bahkan materi sekalipun adalah berkat dari Tuhan? Pasangan hidup yang bisa saling bersinergi, usaha, kebahagiaan bahkan hal-hal materi baik besar maupun kecil seperti rumah, perabotan, bahkan jam tangan yang selalu saya pakai bukankah semua itu adalah pemberian Tuhan secara cuma-cuma?

Tapi sudah terlanjut terpola dalam diri saya terutama pada hal-hal yang materiil bahwa semua itu adalah berkat usaha dan kerja keras. Bukankah itu artinya saya “mendewakan” pekerjaan dan usaha saya lebih dari saya mengutamakan Tuhan sendiri? Padahal semua yang saya terima bukanlah hasil usaha dan kerja melainkan berkat cuma-cuma dari Allah. Dan berkat itu bisa datang dalam banyak cara bisa jadi melalui pekerjaan dan usaha, bisa jadi juga melalui pemberian orang lain. Yang manapun itu bukankah semuanya tak lebih dari saluran berkat? Namun bukankah berkat itu adalah dari Allah sendiri?

Bahkan selama ini saya telah begitu terbiasa, ketika diperhadapkan pada kebutuhan finansial misalnya hal pertama yang saya lakukan adalah melihat kapan jatuh tempo saya bisa menagih pembayaran ke pelanggan sehingga saya memiliki cukup uang untuk kebutuhan-kebutuhan. Atau memprediksi kira-kira pelanggan mana yang tak lama lagi akan melakukan order.

Kini saya sadari bahwa inipun adalah bentuk mengandalkan hal-hal lain di luar Tuhan meski sekali lagi saya tak bermaksud demikian. Tanpa saya sadari kebiasaan saya ini adalah bentuk meletakkan harapan pada hal lain selain Tuhan.

Kebiasaan lama dimana saya juga sering berpikir bahwa nantinya ketika usaha saya sudah sungguh berjalan dengan baik, kondisi perekonomian kami secara progresif meningkat, memiliki tingkat omzet tertentu maka kehidupan akan lebih baik dan lebih tenang. Itupun akhirnya saya sadari bahwa pemikiran demikian adalah pengharapan yang sia-sia.

Bukan sia-sia dalam arti mustahil untuk dicapai namun sia-sia karena saya berharap dan bersandar pada segala sesuatu yang sia-sia. Mestinya hanya Tuhan-lah satu-satunya yang menjadi sandaran dan andalan di dalam hidup.

Pengkhotbah tak mengatakan bahwa segala jerih payah, kebijaksanaan, ilmu, kepandaian dan harta adalah hal yang sia-sia. Namun adalah sia-sia jika kita mengandalkan hal-hal tersebut dan menjadikannya sebagai tujuan hidup.

Sebab sebagaimana pesan Rasul Paulus untuk jemaat di Kolose agar kita mencari hal-hal yang di atas berarti bahwa tidak menjadikan hal-hal duniawi sebagai tujuan ataupun andalan.

Baik Pengkhotbah, Lukas maupun Paulus tak bermaksud mengingkari adanya hal-hal duniawi namun tidak menjadikan hal-hal tersebut sebagai andalan, keutamaan maupun tujuan hidup.

Miskin di Hadapan Allah
Berapa kali saya mendengar dan membaca ayat ini namun belum lama juga saya memahami maksudnya. Dulu saya selalu berpikir bahwa miskin yang dimaksud adalah miskin dalam arti yang sebenarnya sehingga terkadang ada pemahaman dalam diri saya seolah antara ingin mengikut Yesus dan memiliki kekayaan duniawi adalah kedua hal yang bertentangan.

Akhirnya baru saya pahami bahwa yang dimaksud “miskin di hadapan Allah” adalah mengakui sepenuhnya bahwa apa yang kita miliki adalah berkat yang diberikan secara cuma-cuma oleh Allah. Karenanya kita merasa miskin sebab apa yang ada dalam diri kita adalah karena kasih-Nya kepada kita bukan karena usaha atau kerja keras.

Kekayaan bukanlah suatu hal yang ditentang atau dipandang tidak benar oleh Alkitab tentu selama diperoleh melalui jalan yang benar. Namun “mendewakan”, mengandalkan, mengutamakan kekayaan atau menjadikan kekayaan sebagai jalan hidup-lah yang tak berkenan di hadapan-Nya. Karena hendaknya selalu disadari bahwa semua itu sekali lagi adalah sebuah pemberian yang cuma-cuma dari Bapa kepada kita.

Kini saya mengerti mengapa Alkitab menyebutkan orang kaya susah masuk surga, bukan karena kekayaannya namun kepada siapakah seseorang bersandar. Kaya dan tetap meyakini bahwa semuanya adalah anugerah Tuhan sehingga Tuhan menjadi keutamaan dalam hidupnya tentu bukan masalah. Sebaliknya miskin namun penuh kedengkian, fitnah, kemarahan dan pengingkaran pada Tuhan maka lengkaplah deritanya baik di dunia maupun setelah kematian.

Percaya pada Penyelenggaraan Ilahi dan Mengandalkan Tuhan
Mudah bagi saya mengatakan percaya, namun tak selamanya hati dan tindakan saya menunjukkan sikap percaya. Kekhawatiran akan hari esok, masa depan atau apapun adalah sikap tidak percaya.

Doa saya yang seringkali bertele-tele penuh dengan permohonan yang kini saya sadari adalah sikap ketidakpercayaan pada penyelenggaraan Ilahi. Seolah saya tak percaya pula bahwa Tuhan sudah mengetahui apa yang kubutuhkan dan menyelidiki hatiku. Doa saya yang bertele-tele seolah ingin menegaskan ”ini lho keadaannya” atau ”ini lho yang saya mau”. Seolah kalau saya tidak menegaskan demikian Tuhan tidak tahu atau tidak bisa memberikan hal baik.

Percaya adalah lebih dari kata-kata, percaya datang dari hati. Ketika seseorang mengimani Allah dan percaya pada penyelenggaraan Ilahinya maka hati akan terasa tenang dan damai senantiasa. Sebagaimana disebut dalam Injil Matius (Mat. 6:25-33) bukankah hidup lebih penting dari hal-hal lain? Mengapa itu tak membuatku percaya pada pemeliharaan-Nya?

Itulah saya sadari pula pada akhirnya betapa Doa Bapa Kami yang sering diucapkan hanya sebagai hafalan dan rutinitas sesungguhnya mengajarkan banyak hal. Mengajarkan kesiapan kita menerima Kerajaan-Nya dalam diri kita serta penyerahan diri secara utuh dan total pada penyelenggaraan Ilahi dengan keyakinan bahwa Allah selalu memberi yang terbaik.

Lalu apa yang lebih penting? Saya sadar bahwa mengutamakan Allah lebih penting dari segalanya itulah mengapa Injil Matius (Mat. 6:34) lebih lanjut menyebutkan ”Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya...” Jika saya sungguh-sungguh mengutamakan Allah dan sungguh-sungguh mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya maka hal-hal lain adalah tambahan yang diberikan-Nya secara cuma-cuma sebagai ”tambahan”.

Sayangnya selama ini saya mengutamakan dan mendahulukan ”tambahannya” ketimbang Allah sendiri. Beruntung Allah masih sudi menegur dan menyapa saya salah satunya melalui tema yang diangkat pada Ekaristi Minggu kemarin. Dan yang lebih disyukuri adalah Allah tak hanya menegur dan menyapa saya namun juga mau membuka hati saya untuk menerima sapaan-Nya.


”Ya Tuhan ajarkanlah kepada keluarga kami semangat penyerahan diri seutuhnya kepada Mu”