Pernahkah Anda merasa bahwa apapun yang telah dilakukan tak pernah terasa cukup untuk mencapai sesuatu yang diharapkan? Atau ketika melihat keadaan saat ini kemudian berpikir seandainya di masa lalu mengusahan lebih maka tentu hari ini kondisinya akan berbeda.
Rasanya cukup banyak dari kita yang merasa demikian dan perasaan ini tak jarang menimbulkan perasaan bersalah.
Karyawan dan profesional berharap bahwa stamina yang dimiliki semestinya lebih baik ketimbang saat ini sehingga bisa terus melakukan lebih banyak pekerjaan.
Para wirausahawan sering dihantui perasaan bahwa semestinya melakukan lebih dari ini dalam rangka membangun usahanya.
Dalam kehidupan berkeluarga pun juga demikian bisa muncul rasa bersalah seorang kepala keluarga karena merasa tak cukup memberikan sesuatu bagi keluarganya meski ada keinginan mengusahakan dan meniatkan yang terbaik.
Perasaan bersalah merupakan bagian dari emosi negatif yang pada akhirnya memengaruhi tindakan dan keputusan yang diambil. Karena emosi negatif berasal dari diri sendiri maka solusinya adalah juga dari dalam diri.
Mungkin memang kita bisa mengusahakan lebih baik dari apa yang telah dilakukan saat ini atau kemarin, mungkin juga tidak dikarenakan belum ada ide-ide baru. Namun satu hal yang harus disadari adalah bahwa perasaan bersalah tidak akan memberi kontribusi positif baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
Sebaliknya rasa bersalah yang terus menerus dipegang justru akan menjadikan diri kita tidak produktif. Sebab perasaan itu akan terus menghantui sampai kapanpun hingga kita rela melepaskannya.
Tak jarang bahwa rasa bersalah yang dominan menghambat kreativitas diri kita untuk menemukan ide-ide baru yang bisa jadi diantaranya merupakan solusi atas sebuah masalah yang sedang dihadapi.
Kamis, 30 September 2010
Ketika Apa yang Anda Lakukan Tak Terasa Cukup
Kamis, 23 September 2010
Penulis "Think & Grow Rich" Bangkrut?
Banyak orang mengenal Napoleon Hill sebagai yang belajar secara langsung dari orang-orang sukses dan kaya di dunia Kemudian merumuskan kesuksesan mereka untuk dipelajari banyak orang hingga sekarang
Bagaimana itu mungkin dia mati dalam keadaan bangkrut? Bukankah banyak orang sukses belajar juga dari tulisannya?
Setelah melakukan “penyelidikan” kecil-kecilan melalui internet singkatnya saya menemukan bahwa kondisi keuangan Hill belakangan memang naik dan turun hingga pada akhirnya Clement Stone
Jadi memang Hill tidak mati dalam kondisi bangkrut namun itu adalah berkat pertolongan Stone. Secara teknis mungkin tidak bangkrut namun kondisi keuangannya mengenaskan jika Stone tidak menolong. Tentu dalam pandangan saya pribadi sebagai orang Katholik lebih tepat dikatakan campur tangan Tuhan melalui Stone.
Bagaimanapun tentu bukanlah sebuah akhir cerita yang banyak orang harapkan dari seorang penulis sukses yang merumuskan resep kesuksesan dari orang-orang besar.
Lalu kenapa Hill bisa bangkrut sementara orang lain yang belajar darinya tidak sedikit yang memperoleh kesuksesan finansial? Entahlah rasanya saya bukan dalam kapasitas untuk menjawab. Mungkin Hill sendirilah yang bisa menjawabnya.
Hill mungkin bisa dikatakan mengalami kegagalan dalam menerapkan apa yang dia ajarkan dalam bukunya. Namun setidaknya apa yang dia tuliskan telah menginspirasi banyak orang dan tak sedikit yang menerima manfaatnya.
Walau tentu banyak yang lebih setuju bahwa cara terbaik untuk memberi inspirasi adalah “to be a living breathing example of it”
Kamis, 09 September 2010
Hal -hal Yang Sering Dilupakan Oleh Pengusaha Kecil dan Menengah
Apakah Anda merasa telah melakukan banyak hal untuk bisnis Anda hingga seolah hampir setiap upaya telah dilakukan dan lebih dari setengah waktu Anda pun telah diagihkan untuk mengembangkan usaha namun belum juga tercapai apa yang diinginkan?
Ada beberapa hal yang sering dilupakan oleh para pengusaha kecil dan menengah. Bisa jadi salah satunya menjadi penghambat kesuksesan Anda:
Tidak Memiliki Definisi Tepat tentang Kesuksesan
Banyak pengusaha mengartikan kesuksesan dikaitkan dengan kekayaan atau ketenaran. Sah-sah saja jika demikian. Namun jika Anda masih dalam skala usaha kecil atau menengah dan mengaiktkan kesuksesan dengan kekayaan atau ketenaran sebaiknya Anda mengubah definisi tersebut.
Ubahlah arti sukses dalam sudut pandang pelanggan. Bagaimana kepuasan pelanggan terhadap layanan dan produk Anda? Apakah barang dan jasa yang Anda sediakan sudah sesuai ekspektasinya?
Pastikan bahwa baik barang ataupun jasa yang Anda berikan sungguh-sungguh sesuai kriteria yang diharapkan oleh pelanggan. Banyak orang terjebak menilai kualitas barang atau jasa yang dijualnya dari sudut pandangnya sendiri tanpa mau melihat persepsi dan perspektif pelanggan.
Definisikan kesuksesan Anda sebagai sebuah kondisi dimana Anda mampu memenuhi bahkan melebihi ekpektasi pelanggan. Itu dulu!!
Selasa, 07 September 2010
Mental yang Wajib Dimiliki Entrepreneur (Bag-2)
Terus mengamati dan menggali peluang. Jarang pengusaha sukses yang hanya terus menekuni satu bidang selama bertahun-tahun. Umumnya mereka bukanlah orang yang suka mengurusi hal-hal detail sehingga ketika sebuah bisnis dirasa mulai berjalan segera mereka akan memercayakan kepada para profesional. Sedangkan dirinya sendiri siap menerjuni wilayah baru yang memerlukan keterampilan baru pula.
Insting bisnis-nya juga terus terasah seiring bertambahnya pengalaman dan keterampilan. Mereka mampu melihat peluang bahkan mungkin dari hal-hal kecil yang terlewatkan oleh orang lain. Mereka juga tak henti-hentinya menguji peluang baru yang hendak ditekuni untuk memastikan bahwa peluang tersebut selaras dengan tujuan yang hendak dicapainya.
Peluang baru diuji melalui berbagai pertanyaan pokok:
1. Seberapa besar tingkat peluangnya?
2. Apakah dirinya sungguh akan menikmati bidang usaha ini?
3. Keterampilan apa yang dibutuhkan?
4. Apakah dampaknya terhadap kondisi finansial?
5. Apakah dampaknya bagi keluarga (istri dan anak-anak)?
Jauh berbeda dari pandangan orang lain yang menilai mereka memutuskan sesuatu secara impulsif. Tidak sama sekali! Memang tampaknya demikian namun dalam dirinya penuh pertimbangan dan kewaspadaan. Meski demikian mereka tak juga membiarkan dirinya menjadi orang yang suatu hari akan berkata: “Seharusnya dahulu.....”
Pengusaha masa kinipun cenderung mempertimbangkan sungguh-sungguh dampak bisnisnya bagi istri/suami dan anak-anak.
Senin, 06 September 2010
Mental yang Wajib Dimiliki Entrepreneur (Bag. 1)
Mengapa orang-orang tertentu mencapai kesuksesan sementara banyak orang tidak? Apakah perbedaan yang ada pada diri mereka? Adakah hal-hal tersebut dalam diri Anda?
Dunia usaha sangatlah dinamis, perubahan perilaku pelanggan dan kompetitor menyebabkan hampir tidak ada sebuah keunggulan yang bisa terus dipertahankan dalam jangka waktu relatif panjang. Namun satu hal yang tak turut berubah sekaligus wajib dimiliki oleh siapapun yang memutuskan menjalankan usaha sendiri yaitu mental yang mutlak dimiliki oleh seorang wirausahawan. Ada baiknya Anda mengenali dan menjadikannya bagian dari diri Anda sebelum terjun ke negeri antah berantah yang mungkin akan mengharuskan Anda jatuh bangun sebelum mencapai tujuan.
Sabtu, 04 September 2010
Mengatasi Stress Single Entrepreneur
Memulai dan menjalankan bisnis sendiri bisa menjadi tantangan yang menarik di samping memberikan kesempatan besar untuk meningkatkan pendapatan , namun bisa juga sangat menekan pada situasi tertentu. Terutama bagi Anda yang telah lama berprofesi sebagai karyawan bertahun-tahun.
Gejala munculnya tekanan biasanya berbentuk sikap cepat marah, cemas akan keberlangsungan bisnis ataupun kemampuan membayar pinjaman modal.. Keluarga di sisi lain dapat menjadi tekanan atau dukungan. Ketika keluarga memberikan pengetian dan dukungan maka akan menjadi tambahan energi yang mengurangi tekanan, namun sebaliknya jika keluarga tak cukup mengerti situasi yang dihadapi dalam dunia wirausaha maka tak jarang akan menambah tekanan.
Bagi pengusaha wanita usaha menyeimbangkan pekerjaan rumah tangga dengan bisnis tentu bisa menjadi tekanan lain. Ketika Anda bekerja dari rumah pekerjaan rumah tangga dapat mengalihkan fokus terhadap bisnis demikian pula sebaliknya bisnis Anda mungkin menyebabkan pekerjaan rumah tangga yang terkesampingkan.
Kamis, 02 September 2010
Sudah Tepatkah Bisnis yang Anda Jalani?
Dalam perjalanan kembali ke Salatiga kemarin saya memanfaatkan waktu dengan membaca. Sebuah edisi lama HBR Edisi Maret 2010 yang sudah lama saya miliki tapi hingga hari ini belum juga habis dibaca karena banyak hal.
Yang menarik adalah pada kolom “What Would Peter Do?” yang pernah diangkat sebagai tema HBR Edisi November 2009. Pada kolom tersebut Romm menceritakan pengalamannya ketika dirinya pada sebuah kesempatan pergi makan malam dengan pasangan yang mendirikan sebuah toko kerajinan pertama di US.
Pada kesempatan itu banyak justru tak banyak bercerita mengenai bagaimana mereka mencari barang-barang seperti keramik, karpet dan sebagainya untuk dijual namun justru banyak bercerita tentang resiko dan kerusakan akibat proses pengiriman yang menjadi bagian dalam bisnis mereka.
Romm dalam hati bertanya:
“Andaikan (Peter) Drucker ada dalam posisiku saat ini pasti dia (Drucker) akan berkata dimana Anda memfokuskan banyak waktu dan energi maka itulah bisnis yang Anda jalani”
Berangkat dari situ Romm kemudian berkata pada keduanya bahwa mereka tampak lebih berfokus pada usaha pengiriman ketimbang kerajinan.
Pada akhirnya pasangan tersebut menerima saran Romm dan menjalankan usaha jasa pengiriman yang berjalan baik dan memberikan banyak keuntungan ketimbang usaha mereka sebelumnya.
Menarik bukan? Saya rasa banyak wirausahawan skala kecil dan menengah yang terjebak atau setidaknya pernah terjebak pada situasi semacam ini sebelum akhirnya sadar.
Saya mungkin termasuk di dalamnya, ketika membuka toko saya selalu bersemangat dan menghabiskan banyak waktu untuk merancang penataan, desain, display dan sebagainya namun ketika harus mengurus operasional sehari-hari rasanya semangat itu pudar.
Saat berpindah toko pun saya kembali bersemangat merancang ide terkait desain dan tata letaknya. Sekali lagi ketika sudah masuk tahap operasional penjualan terasa hilang tantangannya. Bisa jadi dalam hal ini saya seharusnya tidak terjun dalam usaha ritel namun mungkin lebih tepat menjadi perancang desain dan tata letak toko.
Benar atau tidak rasanya perlu dibuktikan namun sepertinya dalam waktu dekat belum masuk rencana saya. Bagaimana dengan Anda? (Satrio)
Jumat, 27 Agustus 2010
Domain: Merk atau Produk?
Website tidak lagi menjadi hal asing bagi industri baik besar maupun kecil, banyak pengusaha besar maupun industri perorangan yang sudah memanfaatkannya entah dalam bentuk blog sederhana maupun yang lebih profesional.
Namun tidak jarang menjadi pertanyaan ketika memilih nama domain yang hendak dipakai. Tak sedikit usaha kecil utamanya yang menggunakan nama usahanya sebagai naman domain dan ada pula yang memilih menggunakan merk produk atau bahkan jenis produk sebagai nama domain.
Memilih nama domain tentu bukan hal yang sederhana sebab nantinya akan berpengaruh terhadap manfaat yang diperoleh dari web tersebut. Jadi manakah yang lebih baik untuk dipilih? Nama perusahaan? Merk produk? Atau malah jenis produk yang diproduksi/dijual?
Untuk menentukan antara ketiganya maka adalah penting identifikasi dan evaluasi terhadap diri sendiri.
Pertama, manakah yang paling dikenal luas oleh pelanggan? Nama usaha kah? Merk produk? atau bukan keduanya!
Tentu jika jawaban Anda adalah nama usaha maka itulah yang semestinya dipilih sebagai nama domain demikian pula jika jawabannya adalah merk produk. Namun bagaimana jika tidak keduanya? Pada kondisi ini jenis produk-lah yang lebih realistis untuk dipilih meski resikonya akan bersaing pula dengan banyak merk produk sejenis. Namun ini lebih masuk akal ketimbang posisi kita dalam kondisi tidak terkenal baik nama perusahaan maupun merk dan tetap memaksakan diri untuk mengunakan nama perusahaan atau merk.
Sah-sah saja jika Anda tetap memilih nama perusahaan atau merk sebagai nama domain sekalipun belum banyak dikenal, namun ingat bahwa perlu resource cukup besar untuk memperkenalkan web Anda. Jika tidak berhasil bisa-bisa web Anda tidak akan kena sasaran alias dikunjungi oleh orang yang kesasar.
Kedua, perlu diperhatikan pula web seperti apakah hendak dibuat? Company profile? Info produk? Atau online order/shop? Jenis yang dipilih idealnya sesuai dengan nama domain yang dipilih.
Bukankah aneh jika anda memilih nama domain: jualkrupuk.dot.com sementara isinya visi dan misi perusahaan yang bernama PT Kaya Selamanya meski bidang usahanya adalah produksi kerupuk. Memang bisa saja target visitor tepat sasaran namun dari segi branding rasanya kurang tepat. (Satrio)
Senin, 12 Juli 2010
Selling Ethic Dissorder
Tak dapat dipungkiri bahwa perkembangan teknologi informasi dan komunikasi serta kreativitas menjadi “godaan” tersendiri dalam melakukan penjualan.
Beberapa waktu lalu beberapa teman mengeluhkan operator selulernya yang beriklan dengan cara menelepon (what??). Untunglah saya tak pernah menggunakan jasa operator yang bersangkutan pikir saya dalam hati. Meski tak lantas saya bebas dari berbagai tawaran dan iklan yang mengganggu privasi.
Ketika fasilitas surat elektronik (e-mail) mulai marak digunakan muncullah spammer yang mengirimkan berbagai penawaran baik secara acak maupun tidak melalui fasilitas tersebut.
Saya terpaksa me-remove beberapa teman di Facebook yang sebenarnya ada dalam satu komunitas sama karena sering beriklan melalui wall. Saya terpaksa pula menghilangkan fasilitas komentar dan shoutbox pada blog karena spammer. Saya sempat terbangun di malam hari karena operator seluler CDMA saya mengirimkan SMS iklan sebelum akhirnya saya pilih mematikan ponsel di malam hari.
Sering saya dibuat jengkel oleh tawaran-tawaran indeks, saham, dll yang masuk ke telepon dan diulang-ulang meski saya sudah tegas menyatakan tak berminat.
Sempat pula saya merasa jengkel ketika dalam sebuah negosiasi bisnis dimana saya menunggu update informasi dari asisten melalui SMS yang bisa menentukan arah negosiasi ini ternyata yang saya terima justru SMS beruntun berisi iklan kampanye salah satu calon walikota lengkap dengan nama dan program-programnya.
Sebenarnya tak setiap e-mail penawaran yang diterima saya rasakan sebagai spam. Adakalanya penawaran itu bermanfaat bagi saya untuk ditindaklanjuti (meskipun sejauh ini tetap belum ada SMS iklan yang saya rasakan manfaatnya).
Jadi tak salah menggunakan berbagai channel atau media untuk melakukan penjualan. Namun penting juga untuk tetap memperhatikan etika dan menghargai privasi seseorang.
Pada kasus saya dimana beberapa e-mail penawaran atas suatu jasa atau barang terasa bermanfaat bagi saya menujukkan bahwa media-media yang ada layak untuk dimanfaatkan dan memiliki potensi untuk menghasilkan sebuah penjualan.
Penting bagi para penjual barang atau jasa untuk terlebih dahulu mencari informasi kepada siapakah penawaran tersebut diberikan. Pelajari terlebih dahulu latar belakang, ketertarikan, profesi dan informasi lain yang dibutuhkan untuk menentukan apakah sekiranya penawaran ini akan bermanfaat bagi si penerima.
Jadi teknik acak jelas bukanlah jawaban karena bukan saja kecil peluangnya untuk terjadi transaksi namun bahkan akan merusak citra perusahaan dan penjual yang bersangkutan. Sebenarnya ilmu pemasaran sudah jauh-jauh hari membahas pentingnya informasi pelanggan namun entah mengapa sampai saat ini masih terjadi penawaran acak. Apakah informasi dari departemen pemasaran tak termanfaatkan oleh departemen penjualan? Ataukah memang keterbelakangan etika pada perusahaan dan eksekutor di lapangan yang bermasalah? (Satrio)
Selasa, 22 Juni 2010
Take an (inspired) Action
“Take an action!!”
“Action dulu yang penting...”
Mungkin kata-kata tersebut tidaklah asing di telinga sebagian dari kita terutama pada seminar-seminar yang sedang marak belakangan ini. Bahkan hampir setiap jawaban dari pertanyaan yang diajukan dijawab dengan kalimat tersebut atau setidaknya diakhiri dengan kalimat tersebut.
Bagi sebagian orang mungkin kata-kata tersebut cukup memberikan sebuah keberanian untuk bertindak sebab memang tak sedikit orang yang pada dasarnya telah tahu apa yang semestinya dilakukan hanya saja masih tersimpan keraguan di dalam dirinya.
Meski demikian tak lantas setiap orang puas dengan kalimat itu. Beberapa orang justru bertanya dalam hati:
“Ya...take an action, tapi apa?”.
Apakah Anda salah satu di antaranya? Terus terang saya adalah salah satu diantaranya.
Dulu ketika di awal-awal saya mengikuti pertemuan dan seminar kewirausahaan baik sebelum maupun setelah keluar kerja saya merasa bingung dengan kalimat-kalimat itu. Saya tahu bahwa untuk memulai suatu langkah diperlukan tindakan nyata, mengenai hal ini tak saya pungkiri kebenarannya. Namun pertanyaan saya adalah ke arah mana? Langkah yang mana? Dan ketika saya mencari jawabnya tak satupun yang memuaskan atau mencerahkan.
Akibatnya dengan membabi buta saya melakukan “action”, karena katanya “Yang penting action” maka itu pulalah yang saya lakukan siapa tahu setelah melangkah ketemu jawabnya. Berbagai tindakan nekad saya lakukan mulai dengan modal kecil, modal sedang hingga yang cukup besar.
Sejak pagi hingga larut malam saya bekerja keras dan memutar otak untuk menjalankan usaha-usaha itu bahkan menjelang tidurpun pikiran saya tak lepas darinya. Waktu demi waktu berlalu, usaha keras ternyata tak memberikan hasil yang diharapkan sehingga berujung pada sebuah kekecewaan.
Untung saja kekecewaan tersebut tak sampai pada tahap putus asa. Meski demikian saya merasa sangat lelah karena setelah segala jerih payah yang dilakukan ternyata tak membuahkan hasil. Dari segi pengalaman mungkin ya namun tetap saat itu saya merasa tak sebanding dengan usaha yang sudah dilakukan.
Di tengah kondisi demikian saya berusaha menenangkan diri dan melepaskan kepenatan yang ada dengan melakukan berbagai hal yang membuat saya senang. Hal-hal yang cukup lama saya tinggalkan karena sebagaimana umumnya seorang yang telah dewasa menganggap segala kegiatan itu tidak bermutu dan tidak produktif.
Karena memang tujuannya adalah melepas kepenatan maka saya kembali melakukan “hal-hal tidak bermutu dan tidak produktif “ itu mulai dari mengkoleksi car model hingga memelihara ikan koi. Keduanya tentu saja juga bukan hobi murah sehingga menghabiskan cukup banyak dana meski tak sebesar yang saya gunakan untuk menjalani berbagai jenis usaha sebelumnya.
Awalnya memang ada perasaan bersalah karena menghabiskan cukup banyak uang untuk hal-hal tersebut, namun saya berusaha mengesampingkan perasaan itu dan berfokus pada rasa senang melakukan kegiatan tersebut.
Setelah mampu mengesampingkan perasaan bersalah dan benar-benar menikmati kegiatan koleksi car model dan memelihara koi ditambah semakin luasnya pergaulan akibat dari menjalankan hobi tersebut saya mulai menemukan ide-ide baru dan semangat untuk memulai usaha.
Awalnya memang hanya sekedar menjalankan hobi dan mencari kesenangan secara positif namun dari kegiatan itu saya mendapatkan banyak hal dan melihat berbagai peluang. Peluang yang memungkinkan saya untuk melakukan usaha sekaligus menjalankan hobi. Bersenang-senang tapi bekerja, bekerja tapi juga bersenang-senang. Inilah inspired action bukan asal melangkah dengan membabi buta namun melangkah berdasarkan inspirasi.
Kali ini hasilnya pun jauh lebih memuaskan daripada apa yang pernah saya jalani sebelumnya. Tingkat tekanannya jauh lebih minim karena saya melakukan dengan senang hati.
Inspired action bukanlah hal yang sulit untuk ditemukan dalam diri setiap orang, karena pada dasarnya hal itu merupakan kondisi alamiah. Meski demikian tak lantas setiap orang dapat menemukannya begitu saja.
Mengapa demikian? Sebab sekalipun merupakan kondisi alamiah namun kita memiliki kecenderungan untuk menutup diri terhadap kondisi ini. Bertahun-tahun kita dilatih dan melatih diri membentuk sebuah believe system yang sebenarnya tidak alamiah namun dikondisikan demikian dalam masyarakat.
Di luar believe system tersebut masih ada hal-hal dalam diri kita yang memungkinkan kita tidak dalam kondisi alamiah untuk menemukan inspired action. Hal-hal tersebut berupa emosi-emosi negatif; kemarahan, kekecewaan, iri, kesedihan dan sejenisnya.
“Kegiatan tidak bermutu dan tidak produktif” yang saya sebutkan sebelumnya adalah salah satu bentuk dari believe system yang sudah terbentuk. Kita terlanjur meyakini bahwa seorang dewasa mestinya menyingkirkan kesenangan dan fokus memikul berbagai tanggung jawab. Ya, memang tidak salah bahwa tanggung jawab merupakan hal penting namun tak juga berarti melakukan kesenangan adalah tindakan tak bertanggung jawab (kecuali jika kesenangan yang dilakukan adalah kesenangan yang tak bertanggung jawab).
Rasa iri melihat teman-teman seusia atau tetangga yang kehidupannya sudah lebih baik dan lebih mapan atau kekecewaan karena merasa tempatnya bekerja tak cukup memberinya peluang untuk berkarir atau bisa juga kemarahan karena merasa pemerintah tidak memberikan kesempatan yang adil bagi warganya. Perasaan-perasaan ini adalah bentuk emosi negatif yang bersama-sama dengan believe system mengkondisikan kita tidak mampu lagi menemukan inspired action.
Struggle action tentu bukan jawabannya, terlihat berapa banyak orang yang berusaha mati-matian bekerja memperbaiki kondisi hidup dan ekonomi namun hingga pensiun tak juga mencapai apa yang diinginkan. Bukan karena kurangnya usaha namun dia berusaha mengkompensasi ketidakberadaannya dalam kondisi alamiah melalui kerja keras dan struggle actions. Sementara di lain pihak ada orang yang terlihat santai dan bersenang-senang namun menghasilkan jauh lebih besar.
Tidak perlu usaha yang luar biasa untuk mengembalikan diri kita pada kondisi alamiah yang memungkinkan kita menemukan inspired action. Cukup dengan berhenti dari kebiasaan “menikmati” emosi-emosi negatif dan cukup dengan berhenti meyakini bahwa believe system yang diajarkan oleh lingkungan kita adalah harga mati.
Ketika kita mampu mengakrabkan diri dengan emosi positif maka kita sudah semakin dekat dengan kondisi alamiah. Banyak cara untuk memfokuskan pada hal positif, pengalaman saya misalnya kegiatan koleksi car models dan pelihara koi membantu saya fokus pada hal-hal menyenangkan. Semakin sering mengapresiasi sesuatu dan semakin banyak bersyukur membawa kita semakin akrab pada emosi positif.
Sedangkan believe system sifatnya relatif pada setiap orang, pada orang yang tidak terlalu peduli dengan pandangan orang lain maka relatif mudah mengatasinya sementara pada orang orang terbiasa memerlukan persetujuan orang lain akan membutuhkan lebih banyak waktu meski bukan hal mustahil untuk diubah, a believe is only a thought that you keep thinking! The only thought that you keep thinking is a believe. So...change your thought and slightly you’ll change your believe...
Jadi tak jauh beda dari beberapa tulisan saya sebelumnya bahwa yang terpenting adalah berdamai dengan diri sendiri. (Satrio)
“...the fastest way to get to a new-and-improved situation is to make peace with your current situation. By making lists of the most positive aspects you can find about your current situation, you then release your resistance to the improvements that are waiting for you” (Abe).
Kamis, 11 Februari 2010
Sabarpreneur
Kemarin ketika selesai menulis “Lebaypreneur” telepon genggam saya berbunyi, setelah diangkat ternyata orang nawari main indeks entah darimana juga mereka dapat nomor saya tapi yang jelas kejadian ini sering berulang meski saya telah beberapa kali mengganti nomor untuk menghindari.
Berawal dari kejadian itulah kemudian tersirat istilah “sabarpreneur” yang meski kalau diterjemahkan ditak akan pas tapi yang saya maksudkan sebagai “sabarpreneur” adalah entrepreneur yang sabar.
Seringkali kalau bicara mengenai entrepreneurship kata-kata yang muncul adalah kegigihan, jeli terhadap peluang, semangat, kerja keras, pantang menyerah dan sebagainya. Namun sebenarnya kesabaran juga penting. Karena menurut saya ada beberapa tahapan dimana harus kita lalui dengan kesabaran, setidaknya ini adalah pengalaman saya. Entah bagaimana dengan yang lain silakan ditanyakan sendiri.
Tahap pertama yang perlu dihadapi dengan sabar adalah reaksi keluarga ketika saya memutuskan untuk keluar kerja dan menjadi entrepreneur. Tidak heran sebab bagi orang tua yang telah puluhan tahun hidup sebagai pegawai tentu menjadi entrepreneur seolah jauh dari kemapanan. Belum lagi biaya pendidikan yang telah diinvestasikan selama ini seolah tampak sia-sia jika anaknya memilih menjadi entrepreneur. Meski faktanya tidak demikian sebagaimana pernah saya tulis pengalaman saya di salah satu artikel di blog ini juga. Namun kita mesti paham juga bahwa yang kita hadapi sebenarnya adalah persepsi. Pesepsi orang tua mengenai hal-hal yang telah saya sebutkan, persepsi lingkungan yang masih melihat bahwa menjadi entrepreneur adalah pilihan terakhir jika tidak diterima kerja dimana-mana. Persepsi-persepsi ini tidak akan hilang hingga kita menunjukkan hasil. Seiring dengan membaiknya hasil yang kita peroleh maka persepsi ini akan pudar. Karenanya diperlukan kesabaran untuk melalui tahapan ini sebab jika tidak sabar bisa-bisa kita menyerah di tengah jalan. Yang selalu saya pegang adalah kata-kata:” As you are looking for your truth outside of yourself, hearing is through the words of others, you will always have that question, for you will hear many different answers, but as you are looking for your truth from that which comes from within you, then you will never question it”
Tahap kedua ketika usaha kita mulai berjalan akan muncul ujian kesabaran dalam menghadapi pelanggan maupun pemasok. Pemasok yang kadang kala mengubah harga dan spesifikasi semaunya sendiri, pelanggan yang menawar dengan harga tidak masuk akal, komplain yang kadang mengada-ada. Atau harus menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka yang “no action ask only”. Ketika kita membuka peluang usaha atau menjual secara ritel, termasuk berjualan secara online biasanya akan banyak telepon, sms ataupun e-mail yang menanyakan harga, sepesifikasi, syarat keagenan dan lain sebagainya.
Sering saya menerima pesan sms atau e-mail seperti ini: “Penting!! Berapa harga agen untuk barang x dan berapa minimal pembeliannya supaya mendapat harga agen? Tolong dijawab secepatnya!!” (lengkap dengan tanda seru yang terkadang semua hurufnya pun kapital). Soelah pesannya begitu penting dan mendesak, setelah dijawab biasanya minta dikirim katalog dan sample, namun tidak ada kelanjutannya. Ketika coba dihubungi jawabnya enteng “Masih pikir-pikir” Nah!! Atau yang mengirim sms: “Saya sangat tertarik untuk menjadi agen tunggal, tolong telepon saya segera!” Ketika ditelepon pertanyaannya demikian banyak dan detil, seringnya menanyakan mengenai garansi jika barang tidak laku. Namun sama seperti tipe sebelumnya, tipe ini pun biasanya tidak ada follow up.
Tapi jangan khawatir sebab lama kelamaan kita akan terlatih untuk menilai mana orang yang serius mana yang tidak melalui kata-kata dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Yang penting adalah untuk selalu sabar menghadapi sebab kalau tidak sabar bisa merusak nama baik usaha kita sendiri.
Kesabaran tahap ketiga adalah menghadapi sumbangan-sumbangan liar. Jangan dipikir saya pelit, kalau sumbangan itu jelas tujuannya, jelas institusinya tidak masalah untuk saya. Tapi tidak jarang datang orang berambut cepak padahal jelas bukan militer, masuk ke tempat usaha kita dengan gaya percaya diri kemudian mengajukan map dan stiker yang kadang isinya sungguh tak bermutu seperti: “Mari Menjaga Ketertiban” atau sejenisnya yang dijual dengan harga cukup mahal dengan embel-embel berlaku entah per tiga bulan, per tahun dan sebagainya. Biasanya sumbangan—sumbangan tak jelas ini ketika kita tanya lebih lanjut mengenai manfaat dan institusinya tampak jawabannya tak masuk akal. Kata pamungkasnya biasanya adalah: “tempat usaha yang lain juga kok”, kalau saya sih biasanya jawab begini :”ya sudah yang lain saja, saya tidak…” Tapi ingat: tetap sabar, jangan karena aksi orang lain kita jadi bereaksi tidak elegan.
Tahap ketiga setelah usaha kita mulai “kelihatan” ya itu tadi yang saya sebut di awal tulisan, entah bagaimana nomor ponsel Anda bisa tersebar sehingga muncul tawaran-tawaran main indeks, valas, asuransi dan lain sebagainya. Yang menguji kesabaran tidak jarang mereka telepon di saat penting. Misalnya ketika kita sedang presentasi di hadapan klien, rapat atau bahkan menjenguk relasi di rumah sakit. Jika memang Anda tidak tertarik lebih baik ungkapkan saja terus terang tidak perlu basa-basi lain kali atau lain hari sebab para salesman/girl ini biasanya punya semangat pantang menyerah. Bahkan ketika kita jelas-jelas menolak pun selalu ada caranya.
Tahap keempat dan kelima sebenarnya terpisah namun saya gabungkan saja karena saling berhubungan, masing-masing adalah perputaran roda bisnis dan persaingan. Tak dapat dipungkiri bahwa perjalanan usaha tidak selamanya mulus akan ada masa-masa seolah target begitu mudah dicapai namun terkadang muncul masa-masa dimana memperoleh setengah dari target saja harus berjuang mati-matian. Persaingan pun juga demikian tak selalu kita menghadapi kompetitor yang fair play sebab ada kalanya juga kita menghadapi kompetitor yang bermain kasar. Namun inti menghadapi keduanya adalah sama yaitu kesabaran. Kenapa bukan kegigihan? Sebab bagi saya sia-sia seseorang gigih berjuang jika hatinya sendiri tidak tenang. Nah untuk bisa tenang harus ada kesabaran dulu bukan?
Sekali lagi ini adalah pengalaman saya, kalau ada yang beda ya itulah inti dari hidup ini penuh dengan keragaman yang menjadikan semuanya indah. (Satrio)
"Lebaypreneur??"
Istilah di atas bukan saya yang menemukannya. Berawal dari status FB Pak Wuryanano: “Ada kecenderungan saat ini, sebagian entrepreneur bersikap lebay... Hehehe... Entrepreneur Lebay... Mau eksis? Jangan lebay, pliis... “
Kemudian seseorang merespon demikian: “ealaah...lha kalo begitu, utk beliau2 yg spt itu saya usulkan ada kategori baru, yaitu 'lebaypreneur'. hehehe..”
Dari situlah saya menemukan istilah “lebaypreneur”, untuk Pak Ahmad saya ijin menggunakan istilah ini.
Memang kalau diamati beberapa waktu terakhir ini semakin tinggi minat masyarakat untuk memulai usaha sendiri sebagai entrepreneur. Banyak para entrepreneur senior yang sudah sukses dan mapan mencoba membangkitkan semangat melalui buku, diskusi atau seminar-seminar dengan menceritakan kisah perjalanannya hingga kesuksesan yang diraih saat ini.
Tujuan dari para entrepreneur ini tidak lain adalah untuk membangkitkan motivasi dan keberanian bagi yang belum berani terjun ke dunia ini. Namun celakanya cara-cara ini kemudian dijiplak begitu saja untuk kepentingan pribadi yang tujuannya seringkali untuk menciptakan kesan bagi orang lain. Padahal beda dengan para entrepreneur sukses yang meski menceritakan pencapaiannya namun tidak melebih-lebihkan. Sebaliknya mereka yang sekedar ingin menciptakan kesan ini cenderung "mengada-adakan yang tidak ada".
Masih di statusnya, Pak Nano (Wuryanano) lebih lanjut menjelaskan: “Sikap lebay ya kurang lebih spt di iklan teve itu... Lebay ini beda dg motto Fake It Until You Make It lho ya. Kalo entrepreneur pegang motto ini, dia ada upaya keras menuju impiannya dg bersikap spt sdh mencapai impiannya. Namun kalo Lebay, dia hanya ingin bikin kesan jika dia sdh sukses pdhl gak ada upaya mewujudkannya, shg kondisi riilnya gak ada peningkatan. Begitu..”
Apa yang dikatakan oleh beliau ini saya setuju. Kalau istilah Pak Nano “Fake it Until You Make it” kalau saya lebih terbiasa menggunakan istilah “Tell a different story”.
Entah sama atau tidak intinya dengan yang dimaksud oleh beliau silakan di-cross check sendiri namun pemahaman saya mengenai “Tell a different story” kurang lebih demikian; ketika saya ingin mencapai sesuatu (target) maka biasanya saya membayangkan, memimpikan dan terus berkata pada diri sendiri mengenai target yang hendak saya capai. Sebagai contoh omzet dari usaha saya saat ini adalah 50 juta per bulan sementara saya ingin mencapai target 1 M per bulan biasanya dalam hati saya terus berusaha meyakini bahwa saya memiliki omzet 1 M per bulan. Ketika saya membaca laporan bulanan dalam hati saya berkata “wah… omzet bulan ini 1 M!!” atau dalam angan-angan saya sendiri saya “merubah” angka-angka itu sesuai target yang hendak saya capai sambil mengucap syukur. Atau ketika saya mendapat order dari klien seringkali dalam angan-angan saya tambahkan angka nol-nya.
Dalam banyak hal biasanya target tersebut berhasil saya capai, tergantung seberapa besar keyakinan saya. Jadi saya “keep telling a different story” hingga saya benar-benar merasa seolah hal itu sudah “terjadi” atau hingga saya benar-benar meyakininya. (Sayang untuk target omzet 1 M per bulan hingga saat ini belum tercapai :)). Jadi kuncinya adalah keyakinan diri sendiri.
Lalu apa bedanya “Fake it Until You Make it”, “tell a different story” dengan “lebaypreneur”?
Dalam “tell a different story” kita tidak menceritakan kepada orang lain. Sebab prinsipnya bukan seberapa banyak kita bercerita kepada orang lain namun seberapa yakin kita dengan hal itu. Kita tidak perlu meyakinkan ribuan atau bahkan jutaan orang namun cukup diri kita sendiri sungguh-sungguh meyakininya. Tak ada gunanya berhasil meyakinkan banyak orang mengenai “pencapaian” kita sementara diri kita sendiri penuh keraguan.
Saya tidak pernah bercerita kepada siapapun ketika sedang melakukan “tell a different story”, paling banter saya cerita ke istri yang dia sendiri sudah tahu maksud saya. Karena ya itu tadi bahwa yang lebih penting adalah seberapa besar keyakinan kita akan “kebenarannya”?
Sebaliknya “lebaypreneur” karena tujuannya memang menciptakan kesan maka yang penting adalah menciptakan kesan mengenai kesuksesannya. Semakin banyak orang yang terkesan maka tentunya makin baik sekalipun di dalam dirinya sendiri penuh keraguan, ketidakpuasan, kemarahan dan emosi negatif lainnya.
Alkisah seorang yang memutuskan keluar dari pekerjaannya dengan alasan gajinya mentok belum lagi lokasi kerja yang jauh dari keluarganya. Dia mencoba memulai usaha sendiri di kota yang lebih dekat dengan keluarganya, tidak berapa lama sudah menyerah karena merugi. Akhirnya dia merantau ke kota besar karena beralasan bahwa di kota besar usahanya akan lebih sukses sementara anak dan istrinya ditinggalkan di kota asalnya. “Sang entrepreneur” setiap kali pulang kampung selalu menceritakan betapa sukses usahanya di kota besar demikian pula setiap bertemu dengan teman-teman lamanya diceritakannya segala kesuksesannya dan outletnya yang sudah dimana-mana. Gaya bicaranya pun seolah benar-benar pengusaha sukses . Namun dibalik itu ternyata anak istrinya masih dibiayai oleh orang tuanya. Setiap kali sang istri menanyakan kemana “sang entrepreneur” pergi selalu dijawabnya “bisnis” namun tiada sepeserpun uang dikirim ke rumah. Bahkan sang istri tidak tahu dimanakah alamat “outlet-outlet” nya yang katanya sudah tersebar di beberapa tempat itu. Outlet tempat dia menitip barangpun kepada orang lain diakui sebagai miliknya.
Nah mana yang hendak kita pilih? Semoga bukan “lebaypreneur”… ;D Jadi ingat iklannya salah satu produsen rokok...(Satrio)
Selasa, 19 Mei 2009
Sharing Pengalaman Bisnis Selimut Jepang
Padahal sebelumnya kami masih ragu-ragu apakah akan tetap menjadi agen biasa seperti yang sudah kami jalani selama ini atau mengambil tawaran paket Hasuko Distro. Maklum saja meski penjualan selama setahun ini luar biasa namun di outlet kami pada saat itu produk yang turnover-nya paling tinggi justru sandal boneka bukan selimut jepang. Padahal dengan menjadi Hasuko Distro bukan saja kami harus menambah investasi namun juga mengubah setting tata letak toko. Namun semenjak memperoleh informasi bakal diliputnya produk ini segala keraguan menjadi sirna karena kami yakin bahwa permintaannya akan melonjak drastis.
Dalam tempo yang terbilang singkat kami melakukan berbagai persiapan baik finansial maupun layout setting agar bisa menjadi Hasuko Distro untuk wilayah Salatiga dan sekitarnya. Kami dikejar batas waktu sebab kami menargetkan bahwa outlet kami sudah bisa resmi menjadi Hasuko Distro sebelum liputannya ditayangkan oleh Trans TV. Sebab peliputan tersebut bisa menjadi momentum yang luar biasa untuk mendongkrak penjualan. Puji Tuhan dengan kerja keras dan sedikit lembur impian ini dapat terwujud dan outlet kami resmi menjadi Hasuko Distro-009 hanya selang beberapa hari sebelum selimut jepang ditayangkan di Trans TV.
Benar saja perkiraan kami, hari Sabtu siang selimut jepang ditayangkan di TransTV, trafik menuju blog KAZOKU meningkat pesat pada hari yang sama. Sore harinya HP baru saya aktifkan sepulang misa di gereja ternyata sudah menumpuk SMS baik yang menanyakan produk selimut jepang maupun yang langsung take action untuk melakukan order. Luar biasa, stok kami di gudang langsung habis ¾-nya hanya dalam waktu satu hari!! Bagi kami ini merupakan catatan rekor penjualan selama ini.
Sejak hari itu meski penjualan per harinya tidak sebesar itu namun permintaannya tidak pernah berhenti. Baik end user maupun reseller berdatangan ke outlet maupun ke rumah. HP saya yang selama ini lebih banyak menerima order gift promosi dan sandal boneka berubah lebih banyak melayani order selimut jepang. Reseller kami yang selama ini hanya dua orang dan itupun wilayah penjualannya hanya dari Salatiga tiba-tiba terus bertambah bukan hanya dari sekitar wilayah Salatiga namun juga Semarang, Solo, Kudus dan Pati. Bahkan reseller lama yang sudah tidak aktif pun tiba-tiba datang lagi ke rumah mengajukan diri untuk menjadi reseller lagi.
Namun ternyata berbisnis memang selalu beralih dari satu tantangan ke tantangan yang lain. Begitu permintaan melonjak dan penjualannya fantastis kami mendapat kabar dari Pak Hadi bahwa stok selimut akan vakum selama beberapa saat. Pada saat menerima kabar tersebut tepat waktunya dengan pembukaan outlet baru kami yang sejak awal memang di-setting untuk menjadi outlet selimut jepang. Stok kami sudah sangat menipis sehingga setelah dipajang di outlet sudah tiada lagi stok tersisa di gudang. Mengapa bisa vakum? Bisa dilihat di link ini
Sales must go on...kami sudah investasi dana yang besar sekali untuk pembukaan outlet baru tapi stok tidak tersedia. Penjualan selimut jepang di outlet baru juga terbilang bagus sehingga ada satu rak di tengah toko yang hanya sempat singgah beberapa hari di outlet karena selimut yang tadinya dipajang di rak tersebut sudah habis sehingga rak-nya pun harus lengser di gudang.
Dalam situasi krisis seperti apapun selalu ada peluang, itulah yang kami yakini sehingga setiap saat selalu mencoba menganalisis berbagai peluang baru. Benar saja ternyata di balik ke-vakuman selimut jepang ada peluang tercipta. Stok semakin hari semakin menipis sementara permintaan justru terus meningkat. Ada beberapa selimut edisi limited yang selama ini masih kami simpan ternyata banyak dicari oleh sesama agen, hasilnya 3 pcs selimut edisi terbatas yang kami miliki ditawar oleh agen lain. Harganya pun bukan main-main, selimut yang tadinya kami beli sekitar 300 ribuan dari distributor nasional terjual dengan harga mulai dari 575-700rb per pc!!
Sempat kaget juga saya sebab prosentase keuntungannya sangat besar, belum pernah ada item di outlet yang prosentase keuntungannya bisa setinggi itu dan masih diperebutkan pula. Apalagi yang membeli adalah sesama agen artinya mereka bisa melepas dengan harga lebih tinggi lagi jika berani membeli dari saya seharga itu. Penjualan itu sangat berarti bagi kami sebab hasilnya bisa untuk membeli selimut-selimut edisi biasa dari agen-agen lain, maklum ambil dari sesama agen harganya lebih tinggi daripada biasanya ketika masih bisa langsung membeli dari distributor nasional. Margin yang kami peroleh memang berkurang karena harga belinya sudah tinggi, namun kami tetap bersyukur karena setidaknya langkah ini bisa menjadi strategi bertahan hingga stok kembali lancar entah kapan nanti.
Vakum-mya selimut jepang justru memberi pelajaran bagi kami bahwa selimut jepang bukan hanya sekedar produk yang dapat diperjual-belikan secara konvensional namun sekaligus dapat menjadi investasi terutama untuk yang edisi-edisi terbatas. Bagaimana tidak, meski disimpan beberapa lama pun kualitasnya tidak berkurang, bahkan harganya terus meningkat dari waktu ke waktu seiring meningkatnya permintaan dan kelangkaan produknya.
Bagaimana dengan produk reguler? Kalau kondisinya seperti saat ini produk reguler-pun merupakan investasi yang baik hanya saja bagaimana ke depannya belum dapat diprediksi. Sebab bisa jadi nantinya pihak prinsipal menetapkan jatah atau quota untuk tiap agen sesuai dengan daya serap pasarnya masing-masing. Jika langkah ini ditempuh rasanya merupakan pilihan bijaksana sebab akan memperkecil kemungkinan adanya agen-agen yang menimbun stok sehingga menyebabkan kelangkaan. Namun untuk produk edisi terbatas memang akan tetap menjadi investasi menguntungkan rasanya, sebab jumlahnya benar-benar terbatas sementara pasarnya akan terus bertumbuh. Bisnis selimut jepang lama-lama mirip dengan BBM atau tanaman hias bukan?
Margin kecil untuk selimut-selimut edisi reguler tidak masalah bagi kami, yang lebih penting adalah bisnis bisa terus berputar dan terus menciptakan momentum-momentum. Sebab saat ini pasarnya mulai terbentuk dan tingkat kesadaran konsumen juga cukup tinggi terhadap selimut jepang. Bandingkan dengan tahun lalu ketika kami memulai usaha ini perlu susah payah mengedukasi pasar dengan mengikuti berbagai event dan promosi-promosi lain, itupun seringkali pelanggan terburu memberi judgment mahal tanpa mau mendengar keunggulan kualitas selimut jepang. Sekarang ibaratnya pelanggan-lah yang mencari produk ini. Saat ini setiap agen tentu berharap pasokan selimut jepang kembali lancar seperti tahun lalu dimana setiap permintaan dapat dipenuhi. (Satrio A. Wicaksono)
Senin, 27 April 2009
KAZOKU: Outlet Baru Harapan Baru (Bagian 3-Habis)
Pada tahun pertama targetnya adalah take action dan belajar. Ternyata proses belajar memang perlu biaya namun dari situlah awal membangun masa depan yang lebih baik. Kesalahan manajemen berusaha kami tanggulangi agar tidak terjadi lagi saat ini. Tahun kedua ini target kami adalah pengelolaan yang lebih profesional (dan penjualan yang lebih baik tentunya...)
Di tahun kedua strateginya adalah strategi bertumbuh, karenanya ditandai dengan pemilihan warna hijau menggantikan warna merah sebab hijau melambangkan pertumbuhan. Sedangkan warna putih tetap dipertahankan sebab kejujuran dan etika adalah mutlak bagi siapapun.
Demi mewujudkan pengelolaan yang lebih profesional maka sudah disiapkan S.O.P dan materi training bagi karyawan yang tentu perlu perbaikan dan evaluasi nantinya sambil berjalan. Kami juga sudah menetapkan bahwa setiap barang dagangan harus menghidupi dirinya sendiri artinya tidak saling mensubsidi. Saya sendiri bahkan mulai mengumpulkan materi-materi dan menggali ingatan mengenai apa saja yang pernah saya pelajari ketika masih bekerja di Matahari Putra Prima beberapa tahun yang lalu.
Berkaca dari pengalaman yang lalu bahwa selimut jepang merupakan item dengan penjualan terbaik maka di outlet baru item ini menjadi produk utama. Dan untuk semakin memperkuat positioning maka KAZOKU telah resmi menjadi HASUKO DISTRO yang melayani penjualan untuk reseller dan end user. Tentu kami semakin optimis sebab sejak resmi menjadi HASUKO DISTRO reseller kami bukan hanya terbatas di kota Salatiga namun tersebar hingga Semarang, Solo, Pati dan Kudus. Para reseller di kota-kota tersebut bahkan tidak jarang memilih untuk datang langsung ke tempat kami untuk kulakan daripada dikirim lewat ekspedisi. Jadi kalau ada pembeli dari kota Salatiga yang membeli selimut jepang di Semarang atau Solo bisa jadi asalnya dari outlet kami juga.
Outlet baru ini dirancang sedemikian rupa dengan harapan memberikan kesan unik dan eksklusif. Meski eksklusif namun tetap nyaman dijadikan tempat berbelanja. Secara resmi outlet baru mulai beroperasi per 1 Mei 2009. Meski demikian per 18 April sebenarnya sudah mulai melayani pembeli, namun khusus untuk produk selimut jepang.
Konsistensi jam buka pun nantinya benar-benar akan dijaga agar tidak memunculkan citra kurang serius. Apalagi kali ini nilai investasi yang kami tanamkan terbilang besar, kenapa kami berani berinvestasi sebesar itu? Tentu saja karena kami melihat potensinya apalagi kami sama-sama punya sebuah visi besar akan masa depan outlet kami nantinya. Untuk mimpi itulah semua ini kami lakukan.
Banyak orang bertanya kenapa kami tidak memilih usaha kuliner atau usaha lain yang jelas-jelas terbukti mendatangkan banyak pembeli di kota Salatiga? Jawaban kami selalu sama bahwa kami berdua punya sebuah idealisme. Kami ingin memberikan produk-produk bermutu dan up to date dimana pembeli tidak akan merasa rugi membelanjakan uangnya. Sebagian besar item yang kami jual di outlet adalah produk yang belum banyak dikenal oleh masyarakat di Salatiga meski di kota-kota besar sudah sangat familiar dan penjualannya fantastis. Memang perlu waktu untuk memperkenalkan dan mengedukasi pasar namun bagi kami ada rasa puas ketika melihat pelanggan kami bisa memperoleh produk yang kualitasnya terjamin. Selain itu muncul rasa bangga ketika pembeli merasa puas atas apa yang dibelinya.
Untuk idealisme itulah KAZOKU ada dan untuk idealisme itu pula kami tidak melirik jenis usaha lain yang pasarnya sudah jelas terbentuk.
Kiranya waktu satu tahun memberi kami banyak pelajaran dan pengalaman berharga. Sehingga di outlet baru ini kami bisa mewujudkan harapan baru.
Berikut adalah kondisi outlet baru kami sejak sebelum renovasi dan selama proses renovasi. Untuk kondisi setelah jadi akan dimuat di blog ini bersamaan dengan opening.

Minggu, 26 April 2009
KAZOKU: Outlet Kecil Penuh Kenangan (Bagian 2)
Berbagai usaha kami lakukan, mulai dari ikut dalam event bazaar dan pameran, memasang pamflet dan spanduk sampai menjadi sponsor utama dalam event lokal. Kami juga aktif mencari reseller untuk meningkatkan penjualan. Dari enam reseller yang ada pada akhirnya terjadi seleksi alamiah, hanya dua yang bertahan dan memang penjualannya sangat baik. Bahkan kami sampai terheran-heran mengingat bahwa Salatiga adalah kota kecil, apalagi sudah membudaya bahwa mereka yang termasuk segmen middle up memilih berbelanja di kota-kota sekitar seperti Semarang, Solo dan Yogya meski di Salatiga sendiri ada produk serupa dengan harga yang sama. Namun ternyata hasil penjualan yang dilakukan oleh kedua reseller tadi meningkatkan rasa optimis kami berdua.
Pada saat itu kami juga belum merekrut pegawai toko mengingat sistemnya belum terbangun, pengalaman kami sendiri pun sangat minim. Jadilah saya sebagai penjaga toko. Menyapu, mengepel lantai, membersihkan rak dan barang dagangan sudah jadi rutinitas setiap pagi satu jam sebelum toko dibuka. Setelah toko buka saya menunggu toko sambil hunting barang dagangan baru dan merancang promosi. Sementara tunangan saya bertugas mengatur pencatatan keuangan dan pembayaran ke supplier.
Ternyata mengelola sebuah toko tidak semudah dan sesederhana yang kami bayangkan. Kendala-kendala teknis dan non teknis muncul dalam perjalanan dan sebagian di antaranya pernah saya tulis di blog ini. Hal kecil dan mendasar kadang kalau kita kurang teliti bisa menjadi persoalan yang tidak lagi sederhana. Misalnya soal penetapan harga, awalnya kami hanya memperhitungkan harga kulak ditambah biaya kirim atau tranport yang selanjutnya ditambahkan komponen margin sekitar 15-20% sebagaimana umumnya harga ritel. Setelah beberapa bulan berjalan barulah kami sadar bahwa selama ini meski penjualannya bagus namun kami merugi...lho kok bisa?
Ya, kami lupa memasukkan komponen biaya operasional seperti sewa toko, listrik, retribusi dan lain sebagainya dalam penetapan harga. Kalau tiba-tiba kami harus menaikkan harga yang bisa meng-cover semua biaya itu tidaklah mungkin sebab kenaikannya cukup signifikan dibanding harga yang sudah berlaku selama ini. Akhirnya mau tidak mau bidang usaha saya yang lain harus mensubsidi dan menghidupi toko kami sambil sedikit demi sedikit menaikkan harga jual. Itupun ternyata masih mendapat protes dari para pelanggan namun setelah dijelaskan untungnya bisa dipahami.
>Kadang memang terasa melelahkan mengingat saya sendiri memiliki usaha lain di luar toko yang harus ditangani sementara tunangan saya seorang pengajar di universitas. Akibatnya outlet beberapa kali harus tutup ketika kami berdua sama-sama tidak bisa menjaga. Efek negatifnya muncul persepsi bahwa toko kami selalu tutup karena beberapa pelanggan ketika datang selalu pas saat kami tidak buka. Kami akui hal ini memunculkan persepsi kurang baik di mata pelanggan seolah-olah kami kurang serius. Padahal bagi kami toko ini sama sekali bukan dimaksudkan sebagai usaha sampingan. Kadang saya berpikir mengelola outlet kecil saja cukup repot, bagaimana dengan outlet besar apalagi sampai punya beberapa cabang. Kalau sistem sudah ada mungkin memang lebih mudah. Meski demikian semua kami lakukan dengan semangat, sukacita dan penuh syukur. Sebab jujur saja memiliki outlet seperti yang kami miliki saat itu sebelumnya sekedar angan-angan. Dan saat ini kenangan saat-saat itu terasa indah dan menyenangkan.
Bukan hanya kenangan di outlet, namun juga saat event-event seperti bazaar dimana semua benar-benar kami kerjakan sendiri mulai dari packing, mengangkut dan menata barang, melayani pembeli, melakukan pencatatan dan lain sebagainya. Tentu bukan hanya kami berdua namun dibantu oleh adik-adik kami dan seorang sahabat saya. Bahkan ketika selesai event saya sendiri yang menata kembali barang-barang tersebut di outlet. Itu sebabnya pula saat ini saya sering tidak bisa menerima kata “tidak bisa” atau “sulit” dari karyawan sebab saya pernah mengalami sendiri semuanya jadi bukan asal perintah.
Penjualan kami baik di outlet, event stand maupun melalui reseller terbilang baik terutama penjualan selimut jepang. Hanya saja meningat minimnya pengalaman terjadi kesalahan-kesalahan dalam mengelola. Pertama kami terlalu berani melakukan kegiatan promosi tanpa tes dan ukur. Kedua terlalu berani membeli jenis dagangan baru dalam jumlah banyak padahal belum teruji. Ketiga barang-barang yang penjualannya bagus pada akhirnya mensubsidi barang yang penjualannya tidak baik. Selimut jepang yang menjadi penopang usaha akhirnya harus mensubsidi item lain yang tidak laku. Sehingga penjualan selimut jepang sempat terhenti bukan karena minim permintaan namun karena modalnya sudah terpakai untuk item lain.
Setahun ternyata begitu cepat berlalu, masa kontrak toko untuk setahun juga sudah berakhir. Dengan berbagai pertimbangan termasuk ukuran toko yang sudah tidak lagi memadahi akhirnya kami putuskan pindah ke lokasi yang baru. Tanggal 17 April yang lalu toko lama mulai dibongkar dan barang-barang dagangan dipindah ke lokasi baru. Selama menunggu tukang yang membongkar papan nama, sekat, neon box, dll pikiran saya terkenang lagi setahun lalu. Rasanya belum lama saya menunggui tukang memasang papan nama dan lain-lain di toko tersebut...(bersambung ke bagian 3)
Jumat, 24 April 2009
KAZOKU: the Beginning (Bagian 1)
Kenapa selimut jepang? Ya itupun juga nekat, sejak bergabung dengan komunitas TDA sering saya membaca iklan maupun testimoni mengenai selimut jepang. Awalnya saya tidak terlalu peduli, namun lama kelamaan penasaran juga setelah sering mendengar produk itu disebut-sebut. Apalagi pada saat itu Pak Hadi cukup sering mejadi sorotan karena menjelang resign dari TAM.
Berawal dari rasa penasaran akhirnya saya mencoba mengunjungi web Rajaselimut. Mulai testimoni, produk sampai ke harga saya browse dari halaman ke halaman. Rasa penasaran semakin menguat kok masa ada selimut sampai semahal itu harganya, lalu pakai serat akrilik yang konon lebih unggul ketimbang katun maupun polyester. Apa pula serat akrilik itu pikir saya. Motifnya sih cantik-cantik, apalagi yang animasi warnanya benar-benar memikat tapi kok semahal itu ya?
Suatu ketika setelah menerima pembayaran dari sebuah proyek yang saya kerjakan, sekali lagi dengan modal nekat kami (saya dan tunangan) memutuskan untuk menjadi agen selimut jepang. Padahal saat itu sama sekali belum pernah melihat sendiri wujud asli selimut jepang. Waktu itu syarat untuk menjadi agen masih ringan, cukup dengan modal Rp 2,5 jt sudah terdaftar sebagai agen. Setelah pilih-pilih model akhirnya tunangan saya menghubungi Ibu Ami untuk melakukan order pertama kami.
Sejak mentransfer uang kami sudah tidak sabar untuk segera melihat dan menyentuh sendiri seperti apa sih selimut jepang yang selama ini ramai diperbincangkan. Dua hari kemudian sebuah mobil angkutan ekspedisi berhenti di depan rumah dan menurunkan sebuah karung yang cukup besar. Berdebar sekali rasanya, bahkan sampai ingat waktu masih kecil dulu kalau ulang tahun dan waktunya membuka kado, yah kurang lebih seperti itulah perasaan saya saat itu.
Setelah karung dibuka (langsung sobek saja dengan cutter saking tidak sabarnya) kami benar-benar terkesima dengan “wujud nyata” selimut-selimut yang kami pesan. Lembutnya luar biasa, motif dan warnanya pun beda jauh dari selimut-selimut katun yang sering ditemukan di mall-mall kelas atas sekalipun. Bukan hanya kami, setiap orang di rumah yang saat itu melihat pun turut terpesona bahkan seorang tamu yang kebetulan sedang bertandang saat itu langsung tanya harganya dan jadilah pembeli pertama kami.
Sejak saat itu kami mulai menawarkan selimut ini ke kenalan-kenalan kami secara door to door. Awalnya hanya membawa katalog namun tidak mendapat respon positif akhirnya kami coba membawa langsung produk selimut sambil bertandang ke rumah kenalan-kenalan. Ternyata cara ini jauh lebih efektif dan mendapat respon yang luar biasa karena hampir semua orang kagum dengan kelembutannya. Saya sendiri yang kebetulan alergi juga memakai produk tersebut (ROY-1B) dan membuktikan bahwa memang klaimnya terbukti demikian pula dengan warnanya yang tidak pudar meski dicuci berkali-kali.
Saking optimisnya bahkan saat itu kami merancang sendiri brosur selimut jepang dengan cetakan yang sangat eksklusif. Pada brosur tersebut tertera keunggulan selimut sekaligus model-model yang tersedia. Brosur-brosur tersebut kami masukkan di dalam tas pembungkus selimut dengan harapan semakin meningkatkan penjualannya. Jadi soal memasukkan insert ke dalam kemasan selimut kami justru sudah lebih dulu daripada Sang Rajaselimut sendiri he..he.. Selain brosur kami juga merancang X-Banner untuk dipasang di teras rumah sekaligus dibawa di event-event bazaar.
Berawal dari situlah kami memberanikan diri menyewa sebuah toko kecil yang kondisinya saat itu tidak terlampau baik karena sudah cukup lama tidak digunakan. Kami mencoba melakukan renovasi dan merancang desainnya agar toko yang tadinya terlihat kecil dan suram jadi tampak menarik. Pemikiran kami saat itu outletnya harus sesuai dengan selimut jepang, biar kecil namun cantik dan menarik. Saat itu kami berdua sama-sama tidak punya pengalaman mengelola toko, yang penting saat itu action dulu. Sambil jalan sambil belajar kira-kira begitulah pikir kami.
Warna yang kami pilih untuk toko ini dominan merah dan putih. Bukan tanpa makna, warna merah identik dengan semangat dan keberanian. Maksudnya menjalankan usaha ini dengan penuh semangat dan berani take action, berani take a risk. Warna putih untuk kami melambangkan etika dan kejujuran, artinya dalam menjalankan usaha bukan hanya dilandasi oleh keberanian semata namun juga etika dan kejujuran. Seperti kata-kata Pak Tung: “Penjual untung pembeli juga untung”. Akhirnya berdirilah outlet pertama kami yang dinamai KAZOKU. (bersambung)
Kamis, 12 Februari 2009
The Power of Feeling Good
“Berpikir positif” Suatu ketika kalimat tersebut dinasehatkan oleh seorang kepada sahabatnya yang dalam kondisi terpuruk. Entah karena sudah terlalu sering mendengar atau karena kondisinya sedemikian buruk maka yang menerima nasehat ini menjawab:
“Saya sudah lelah berpikir positif…tidak ada hasilnya”
“Berpikir positif” bukan sebuah kalimat yang terasa asing baik diungkapkan sebagai sebuah nasehat maupun sekedar penghibur. Berpikir positif sering dimaknai sebagai pola pikir positif atau optimis dalam menyikapi berbagai keadaan. Sekalipun ketika suatu kondisi dirasa tak begitu menyenangkan setidaknya mencari aspek-aspek positif dari kondisi tersebut.
Lain dengan “berperasaan positif” yang tak banyak didengar dan bahkan dipahami maknanya. Perasaan tidak timbul dari sebuah pemikiran ataupun logika.
Sekalipun pikiran dan logika mampu mempengaruhi perasaan pada akhirnya. Namun kondisi ini bukanlah kondisi yang alamiah melainkan sebuah kondisi yang dilatih secara terus menerus sehingga secara tak disadari banyak emosi yang dipengaruhi oleh pikiran.
Karenanya tak jarang disebutkan agar berpikir logis dan tidak mendahulukan perasaan. Seolah perasaan dipersalahkan sebagai sesuatu yang negatif ketika dilibatkan pada sebuah kondisi atau keputusan. Padahal ini hanya terjadi karena emosi dikondisikan terpengaruh oleh pikiran.
Pada kondisi dimana perasaan muncul karena pengaruh dari pikiran maka situasinya tidak lagi alamiah, emosi yang muncul karena pikiran bukan lagi sebuah emosi murni.
Emosi sendiri sebenarnya dapat dikatakan sebagai suatu sinyal yang memberikan banyak petunjuk dalam bersikap dan membuat keputusan selama emosi tersebut adalah emosi murni yang tak dipengaruhi oleh pikiran.
Dalam diri secara alamiah sudah ada semacam “Guidance” yang tak henti-hentinya memberikan petunjuk tentang apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari, apa yang baik untuk dilakukan dan apa yang tidak. Dan emosi adalah indikator apakah Guidance ini didengar ataukah tidak.
Guidance hanya dapat didengar ketika seseorang Menjaga emosi positif; rasa syukur, sukacita, kebahagiaan, apresiasi dan sebagainya. Sementara dalam kondisi emosi negatif: kekecewaan, kemarahan, iri hati dan sebagainya adalah kondisi yang tak memungkinkan seseorang mendengarkan Guidance system dalam dirinya.
Guidance tak pernah salah dan senantiasa benar adanya. Tak pernah juga berhenti memberi petunjuk namun apakah petunjuk itu didengar ataukah tidak adalah hal yang lebih penting.
Hanya dengan menjaga emosi positif-lah seseorang dapat mendengarkan petunjuk tersebut dan itu sebabnya mengapa sedemikian penting untuk selalu menjaga perasaan positif dalam berbagai kondisi.
Tak seperti pikiran positif yang bagi banyak orang dimaknai melihat sisi positif dan pelajaran dari segala kondisi. Perasaan positif dimaksudkan sebagai pengalihan fokus dari kondisi yang tak menyenangkan kepada hal-hal lain yang patut disyukuri sekecil apapun. Bersyukur pada apa yang mungkin untuk disyukuri saat ini. Misalnya ketika pekerjaan sedang menjadi suatu hal yang menyebabkan seseorang memiliki emosi negatif maka tak mungkin melihat pekerjaan tersebut dengan emosi yang positif secara tulus meski mencari aspek-aspek positifnya, namun dimungkinkan melihat keluarga dengan emosi positif.
Mengapa berfokus pada hal lain? Sebab ketika berada dalam kondisi yang sangat tidak menyenangkan sejujurnya adalah mustahil bagi seseorang untuk melihat sisi positif atas apa yang terjadi secara tulus dan bukan sekedar menghibur diri.
Hanya dengan memulai memfokuskan perasaan pada hal-hal yang dapat disyukuri dan diapresiasi maka seseorang akan tetap mampu mendengarkan Guidance dalam dirinya.
Pengalihan tak dimaksudkan sebagai sebuah pelarian, sebaliknya pengalihan adalah upaya menjaga agar seseorang tetap mampu mendengar Guidance system-nya sebab hanya dengan cara itulah ia akan mampu menemukan solusi atas apa yang dihadapi.
Meski sering memosisikan diri sebagai korban tak berdaya namun sebenarnya sebagian besar kondisi yang dialami oleh seseorang adalah konsekuensi dari keyakinannya sendiri di masa lalu dan mungkin saat ini. Konsekuensi tersebut adalah sebuah akibat dari keengganan mendengar Guidance, maka solusinya hanyalah berdamai dengan Guidance-nya yang berarti adalah berdamai dengan diri sendiri.
Berdamai dengan diri sendiri memungkinkan seseorang mendengar kebenaran dalam dirinya bukan kebenaran melalui persetujuan orang lain dan lingkungan.
Ada kalanya terasa egois karena fokus pada hal yang menyenangkan memungkinkan seseorang tak mau terlibat pada kondisi buruk yang sedang dialami oleh orang lain jika kondisi tersebut dapat berdampak munculnya emosi negatif pada diri sendiri.
Kesan egois demi menjaga emosi positif bukanlah hal buruk, karena tujuan utamanya adalah berdamai dengan diri sendiri. Dan seseorang hanya dapat berkontribusi positif kepada orang lain hanya dan hanya jika dirinya telah mampu mendengar kebenaran dalam dirinya dan berdamai dengan diri sendiri. Ketika kondisi ini terpenuhi maka barulah seseorang mampu memberikan kontribusi, saran dan pertolongan kepada orang lain dan lingkungannya.
“You Only Hear What You Are Ready to Hear” Manakah yang hendak didengar? Segala seuatu yang dikatakan oleh orang lain ataukah jawaban murni dari Guidance System yang hanya bisa didengar ketika seseorang berada dalam kondisi emosi negatif? Menjaga emosi positif dapat dilakukan melalui berbagai cara seperti meditasi, melakukan hobi, apresiasi dan bersyukur. (Satrio)
“Think—and then evaluate the value of that thought by noticing how it feels; and do that often enough that you know, without question, that you are in alignment—then speak, then act, then interact.” (Abe)
Sabtu, 03 Januari 2009
Mulainya darimana?
Ternyata setelah saya membaca beberapa artikel isinya tak semenarik yang saya bayangkan. Sebagian besar membahas mengenai peluang waralaba, sisanya masih ada usaha-usaha lain hanya saja kesemuanya itu membutuhkan modal yang tidak sedikit. Bagi pembaca yang adalah korban PHK dengan pesangon besar mungkin artikel ini berguna. Lantas bagaimana dengan para buruh pabrik yang menjadi korban PHK? Atau seorang mahasiswa yang mau mulai usaha? Akankah mereka membeli hak waralaba yang harganya puluhan hingga ratusan juta rupiah? Padahal justru kelompok inilah yang jumlahnya paling besar.
Memulai usaha seringkali memang menjadi momok bagi banyak orang terutama bagi mereka yang tidak dalam kondisi kepepet. Nah kalau Anda adalah korban PHK maka inilah saat yang tepat untuk mencobanya bukan? Toh jika Anda dalam kondisi seperti ini maka sudah nothing to loose. Daripada merenungi kesulitan hidup kenapa tidak mencoba memulai usaha.
Gampang bukan? Ya gampang namanya juga cuma ngomong, apa susahnya? Lalu modalnya darimana? Mulainya darimana? Nah bagian inilah yang paling klasik ditanyakan. Tidak salah jika demikian pertanyaannya, hanya saja jangan sampai pertanyaan ini menjadi penghalang untuk memulai.
Seringkali pertanyaan-pertanyaan itu muncul dan pikiran kita mencari-cari jawaban yang jauh lebih rumit dari kenyataannya. Darimana dapat pinjaman? Siapa yang mau kasih pinjaman wong usaha saja belum jalan? Jawabannya ya memang tidak ada! Siapa yang mau kasih pinjaman ke kita kalau usahanya belum jalan? Prospeknya belum jelas apalagi profitnya? Kalau dalam kondisi usaha belum jalan dan profit belum jelas sudah ada yang mau memberi pinjaman ya bersyukurlah sebab tidak semua orang punya kesempatan demikian.
Balik lagi ke pertanyaan semula: “Modalnya dari siapa dan mulainya darimana?” Banyak orang bilang jadi pengusaha tidak selalu butuh modal. Ini saya tidak setuju! Ada juga yang bilang kalau yang punya duit dimana-mana pasti menang daripada yang tidak punya duit. Inipun saya tidak setuju!
Mulai usaha pasti butuh modal, pernyataan sebaliknya bagi saya adalah kebohongan. Tapi modalnya apa? Modalnya mental. Mental menjadi modal yang utama bagi wirausahawan. Tanpa modal yang satu ini dijamin 100% dan tanpa keraguan seorang wirausahawan akan gagal.
Mentalnya harus kuat mendengar cemoohan orang, mentalnya harus kuat mempertahankan tujuannya, mentalnya harus kuat menerima penolakan, mentalnya harus kuat untuk bangkit lagi ketika jatuh dan terpenting adalah mentalnya harus kuat melawan egonya sendiri. Kalau ego saja tidak bisa dikalahkan maka lupakan saja cita-cita menjadi pengusaha. Sebab diawal-awal mulai usaha pasti kemampuan mengendalikan ego menjadi sangat penting. Duitnya belum seberapa, bahkan mungkin belum ada untung tapi cemoohannya bisa jadi sudah datang bertubi-tubi.
Mental kuat dalam artian juga tidak cengeng, gampang mengeluh, putus asa, tidak banyak mencari excuse. Saya ingat beberapa tahun yang lalu di sebuah kelas mentoring ada seorang teman yang mengeluh bahwa orang tuanya tidak setuju kalau dirinya berwirausaha sambil kuliah. Bagi orang tuanya kuliah harus diutamakan. Well, rasanya kalau hal semacam ini terlalu cengeng untuk dijadikan.
Wajar saja kalau orang tua ingin anaknya serius kuliah, bukankah orang tua juga sudah mengeluarkan banyak biaya untuk membayar kuliah dan tentunya harapan yang tinggi? Lalu bagaimana solusinya? Berhenti berwirausaha? Itupun namanya cengeng, baru masalah kecil saja sudah diributin. Kalau kuliahnya serius, nilai-nilainya juga tidak mengecewakan rasanya orang tua tidak akan menentang kalau mau sambil wirausaha. Tapi kalau sebaliknya nilai-nilai dan prestasi menurun, sering bolos kuliah dengan alasan mengurus usaha (padahal bisa jadi sebelumnya pun memang sudah demikian) ya tentu saja orang tua akan menentang. Kalau ada niat bukan mustahil untuk mengerjakan keduanya bersamaan ya kuliah ya wirausaha. Toh kuliah penting juga meski belum tentu ijazahnya bakalan dijual untuk mencari pekerjaan namun pendidikan bagaimanapun berperan membentuk attitude. Nah jangan anggap remeh yang namanya attitude ini, sebab bagi seorang wirausahawan hal ini mutlak diperlukan.
Ini bukan teori asal bunyi, ketika kuliah saya sendiri sambil menjalankan usaha sablon. Kuliah saya beres sablon juga jalan. Ingat tagline sebuah produk? “Impossible is nothing” Itulah yang musti dipegang kalau mau jadi wirausahawan.
Lagipula tidak setiap orang berkesempatan mengenyam bangku kuliah, kok justru yang diberi kesempatan menganggapnya sebagai penghalang tujuan? Bukankah namanya menyiakan kesempatan? Padahal pantang bagi seorang wirausahawan menyiakan kesempatan dan peluang. Nah inilah hal-hal kecil yang kadang tak disadari sedikit banyak membentuk attitude yang diperlukan untuk menjadi wirausahawan.
Modal sebagaimana telah dikatakan diawal mutlak diperlukan. Selain mental tentu saja modal berupa uang. Jadi uang penting dong? Ya iyalah...mana mungkin tanpa duit?
Bayangkan saja kita jadi makelar kecil-kecilan, nah waktu menawarkan ke prospek bukannya butuh uang transport? Nah makanya butuh modal duit, hanya saja berapa besar duitnya? Jangan bilang tidak ada uang sepeserpun wong nyatanya banyak pengangguran yang tetap merokok. Mosa' punya modal untuk beli rokok tapi tidak punya modal untuk mulai usaha?
Lalu usaha apa yang mesti dijalani? Saya kira-kira bikin apa ya untuk dijual? Nah ini pertanyaan klasik selanjutnya. Bagus bagi yang sudah ada ide dan skill untuk membuat sesuatu yang bisa dijual, bagaimana yang tidak?
Coba lihat di sekeliling kita, bukannya negeri ini bisa dibilang negeri seribu UKM? Bangsa kita ini kreatif lho, mulai dari industri kerajinan, jasa dan masih banyak yang lainnya bisa dengan mudah dijumpai mulai dari skala industri rumah tangga hingga yang sudah dikelola profesional. Kenapa tidak melirik UKM di sekitar kita dan mencoba memasarkan dan menjual produk mereka?
Saya yakin mereka tidak keberatan dan bahkan senang kita ikut menjualkan produk mereka. Terkadang kalau kita cukup dekat dengan pemiliknya bahkan bukan tidak mungkin kita bisa bawa barang mereka dulu. Katakanlah pagi hari diambil kemudian sore hari hitung-hitungan. Apalagi sekarang semakin luas jaringan internet artinya bisa juga cukup foto-foto produk mereka kita masukkan ke web baik gratisan (blogspot, wordpress, dll) maupun yang berbayar. Kalau ada order baru kita ambil barangnya dan bayar sekalian.
Industri jasa pun juga bisa kalau mau. Misal saja jasa percetakan, coba saja berkeliling mencari pelanggan di toko-toko maupun kantor-kantor kemudian ordernya dimasukkan ke percetakan yang sudah ada naikkan sedikit harganya untuk keuntungan kita. Nanti ketika order sudah semakin banyak dan hubungan kita dengan percetakan tersebut cukup baik bisa saja modelnya minta fee jadi tidak perlu menaikkan harga agar harganya tetap kompetitif.
Artinya jadi makelar juga dong? Apapun istilahnya terserah saja. Jauh lebih baik di awal kita bisa menjual tapi belum mampu produksi ketimbang sebaliknya mengingat modal yang tentunya terbatas. Bahkan kalau menurut saya dengan mulai dari menjual justru sebagai wirausahawan kita banyak belajar. Mulai dari mental, kreativitas hingga yang paling penting yaitu kemampuan mengenali pasar. Kemampuan mengenali pasar ini sangat membantu untuk menemukan dan menciptakan peluang-peluang. Siapa bilang jualan tidak bisa kaya? p. Hari Dharmawan founder group ritel Matahari usahanya juga jualan bukan? Awal usahanya juga tidak tiba-tiba sebesar yang kita lihat saat ini. Masih banyak contoh yang lainnya.
Namun pada dasarnya kalau sudah jalan terserah mau seterusnya jadi penjual saja atau mulai produksi silakan dipertimbangkan sendiri sesuai dengan kondisinya. Harap dipahami bahwa bukan maksud saya mengecilkan arti produksi hanya saja seringkali ketidakmampuan berproduksi dianggap menjadi penghalang bagi sebagian besar orang.
Tidak serumit yang ada di pikiran sebelum memulai usaha bukan? Semua dalam tulisan ini adalah pengalaman pribadi yang saya jalani jadi bukan sekedar ngomong. Bagaimana dengan pengetahuan manajemen keuangan, pemasaran, SDM dan lain sebagainya? Ya, semua itu perlu tapi bisa dipelajari langkah demi langkah sesuai dengan perkembangan skala dan kebutuhan usaha kita. Persiapan itu penting tapi persiapan tanpa eksekusi ya sia-sia. Ibaratnya kalau Anda belajar beladiri penting untuk mempelajari teknik-teknik dasar tapi tanpa sprarring tidak akan pernah tahu pertarungan sesungguhnya.
Sebagai catatan banyak entrepreneur sukses yang memulai usahanya dari hobi. Ada desainer kolam koi yang cukup terkenal dan sukses awalnya adalah pemilik ritel komputer, awalnya memelihara koi hanyalah sekedar hobi namun lama kelamaan karena rasa penasarannya terhadap sistem filterisasi dalam memelihara koi dirinya terus melakukan berbagai eksperimen yang tentu motifnya adalah hobi bukan materi. Melalui berbagai eksperimen pribadi, googling untuk mengumpulkan informasi dan sharing dengan sesama penggemar koi akhirnya dia menemukan sistem filterisasi yang memungkinkan kolamnya tidak perlu dikuras hingga beberapa tahun ke depan. Banyak orang kagum dengan hasil eksperimennya ini akhirnya mengalirlah order untuk membuat kolam koi beserta filternya. Sekarang ritel komputer miliknya sudah berjalan sendiri tanpa perlu pengawasan sementara dirinya lebih banyak terjun dalam desain dan pembangunan kolam koi. Sementara banyak orang merasa lelah dengan pekerjaan dan bisnisnya sang desainer kolam ini terus menikmati pekerjaan dan order yang melimpah. Bukan hanya itu namun sambil menerima order dia bisa terus belajar untuk memperbaiki sistem filterisasi dan mengasah kemampuannya sehingga kompetensinya terus meningkat. Perlu digaris bawahi bahwa kompetensi-lah yang menjadi daya saing bagi entrepreneur dalam menghadapi kompetisi.
Masih banyak pengalaman lain tentang kesuksesan seseorang yang diawali dari hobi, seringkali inilah yang juga membedakan mengapa ada orang-orang yang menjalankan bisnis serupa namun tidak semuanya berhasil. Mereka yang memulai dari hobi biasanya lebih mencintai pekerjaannya dan lebih peka untuk melakukan inovasi karena kecintaannya ini sekaligus juga menantang dirinya untuk terus mengasah kompetensi. Maka tak heran jika ide-ide unik lebih sering muncul dari mereka yang memulai bisnisnya dari hobi, dampaknya selain lebih inovatif juga menjauhkan mereka dari persaingan berdarah-darah (red ocean).
Jadi sekarang tinggal hal terakhir yang paling penting: be in alignment, take an inspired action! Don’ t looking for excuse. (Satrio A. Wicaksono, owner SINERGI INDONESIA)
Kamis, 01 Januari 2009
Catatan Akhir Tahun 2008
SINERGI INDONESIA
Seperti biasa SINERGI INDONESIA selepas Desember 2007 baru mulai mendapat order di bulan Maret 2008. Memang dalam industri promotional products biasanya baru ada event-event pada bulan Maret-April mengingat setelah para klien tutup buku baru yang berarti setiap departemen kondisi kas-nya di nol-kan kembali dan baru mulai mendapat pencairan anggaran sekitar bulan Februari. Biasanya di bulan Januari-Februari aktivitas kami tak lain adalah melakukan penagihan-penagihan ke klien-klien yang melakukan order bulan November-Desember 2007.
Selain penetapan target, tahun 2008 kemarin adalah tahun dimana kami mulai mengubah sistem order dan pemasaran dari yang semula adalah 20% online dan 70% offline menjadi 50%:50%. Pertimbangan pada saat itu adalah efisiensi biaya ditambah lagi kondisi pasar dan perilaku pelanggan yang menurut kami sudah sangat memungkinkan untuk itu.
Berat memang pada awalnya sebagaimana halnya setiap perubahan. Tantangannya bukan semata-mata dari faktor eksternal (klien) namun juga internal. Faktor internal tantangan utamanya adalah membiasakan tim pemasaran yang semula lebih banyak bertemu langsung dan melakukan presentasi di depan klien menjadi komunikasi melalui e-mail, fax dan telepon.
Sementara untuk faktor eksternal tentu saja tidak mudah bagi beberapa klien baru untuk langsung percaya begitu saja terhadap kami. Hal ini sangat wajar mengingat bahwa di masa lalu banyak perusahaan fiktif di dunia maya. Langkah yang kami tempuh untuk menumbuhkan kepercayaan calon klien antara lain adalah dengan mencantumkan dokumen-dokumen legalitas pendirian usaha, responsif terhadap berbagai pertanyaan yang dikirim melalui e-mail dan tentu saja produk berkualitas.
Entah ada hubungannya atau tidak yang jelas sejak berlakunya UU ITE order melalui online mengalami peningkatan mungkin karena para calon klien merasa lebih terlindungi atau mungkin juga memang sedang banyak event pada bulan-bulan tersebut.
Tentu saja ada efek negatif dari optimalisasi pemasaran dan penjualan secara online ini. Pertama dan sudah pasti adalah banyaknya spammer yang masuk ke e-mail kami, mulai dari penawaran berbagai produk hingga undian-undian.
Kedua adalah banyaknya pertanyaan yang masuk melalui e-mail namun tidak ada tindak lanjut dari calon klien tersebut. Padahal untuk menjawab pertanyaan terlebih masalah harga cukup menyita waktu mengingat sifat souvenir promosi yang customized. Sehingga bila tidak berhati-hati bisa merugikan klien yang serius mengingat kami memberlakukan sistem FAFA (First Ask First Answer).
Tentu kami menganggap efek negatif tersebut sebagai tantangan bukan hambatan. Dalam arti segala evaluasi akan dilakukan untuk meminimalisir efek negatif yang timbul. Sebab dengan pemasaran dan penjualan online terbukti kami mampu menghemat banyak biaya.
Bulan Desember di akhir tahun menjelang tutup buku justru banyak order yang masuk untuk event-event akhir tahun terutama dari hotel dan kafe. Sebagai catatan seluruh order bulan Desember adalah melalui pemasaran dan penjualan online. Ini sebabnya kami optimis untuk tahun 2009.
Perpindahan domain dan hosting akibat web developer yang tidak bertanggung jawab ternyata hampir tidak ada efek negatifnya meski awalnya sempat dikhawatikan. Bahkan web yang baru meski usianya baru tiga bulan ternyata hari ini (1 Januari 2009) berhasil memperoleh ranking 3 di Google. Sementara web lama (http://www.sinergi-indonesia.com) yang sudah almarhum selama setahun hanya bertahan di ranking 1. Tentu saja saya anggap ini sebagai awal baik untuk tahun 2009.
Target tahun 2009 telah ditetapkan tentu saja dengan menimbang berbagai kondisi makro ekonomi. Meski demikian kami tetap optimis menghadapi kondisi 2009. Untuk pemasaran dan penjualan 2009 proporsinya adalah 60% online dan 40% offline. 40% offline tersebut total adalah untuk wilayah Jabodetabek, yang artinya untuk wilayah lain sudah tidak lagi terjatah penjualan dan pemasaran offline.
Tenaga pemasaran kami per 5 Januari 2009 nanti di wilayah Jateng yang selama ini menjadi basis akan dipindahkan ke kantor Bekasi.
Kepada tim pemasaran yang dipindah ke kantor Bekasi saya ucapkan selamat bekerja di “medan perang” yang baru.
KAZOKU
Usia Kazoku di penghujung 2008 belum genap satu tahun. Meski demikian evaluasi tetap diberlakukan.
Target semester pertama telah terlampaui, analisis saya ini terjadi karena:
- Respon yang luar biasa ketika bulan pertama dan kedua pembukaan toko yang penjualannya sudah melewati target.
- Respon positif pembeli dalam beberapa event bazaar yang kami ikuti.
- Faktor liburan Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru yang semula tidak diperhitungkan akan terjadi lonjakan penjualan ternyata memberi kontribusi yang sangat besar.
KAZOKU sendiri ketika berdiri visinya adalah “Membawa Keunikan ke Kota Salatiga”. Saya melihat bahwa dalam beberapa tahun terakhir telah terjadi peningkatan jumlah segmen middle-up di Kota Salatiga. Hanya saja produk yang dijual di outlet-outlet di kota ini masih asyik bermain di kelas middle-low. Niche market ini-lah yang hendak digarap oleh KAZOKU. Sehingga setelah berburu berbagai produk unik dan berkualitas tinggi di berbagai kota akhirnya berdirilah KAZOKU. Meski unik dan berkualitas ini bukan dimaksudkan sebagai barang antik untuk dikoleksi namun barang-barang yang langsung digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Mengingat tujuan tersebut maka target market kami tentu saja segmen middle-up di Kota Salatiga yang artinya kami tidak mempersiapkan lonjakan pada musim mudik. Namun ternyata fakta berkata lain, pada liburan Idul Fitri kemarin kami sempat kewalahan dan kehabisan stok berhubung semua pemasok libur lebih awal sementara lonjakan penjualan terjadi di outlet kami.
Meski target market-nya adalah middle-up namun tidak berarti kami tidak melayani segmen lain. Buktinya jika Anda datang ke outlet kami ada selimut jepang yang harganya ratusan ribu rupiah namun ada juga berbagai produk yang serba Rp 10.000,-an. Hari gini Rp. 10.000,-? Ya, hanya di KAZOKU ;)
Belajar dari kondisi di liburan Idul Fitri yang lalu akhirnya kami melakukan persiapan untuk liburan Natal dan Tahun Baru. Kali ini kami sedikit spekulatif dengan mengadirkan in-house collection yaitu sandal boneka dan fur sandal. Selama ini yang dianggap khas dari kota Salatiga adalah makanan (enting-enting, abon, dendeng, keripik paru dan usus), jadi saya pikir kenapa bukan benda yang tidak habis pakai? Nah sandal boneka dan fur sandal itulah jawabnya. Keduanya adalah produk asli Kota Salatiga, yang bahkan rencananya akan di-branding agar bisa lebih diterima sebagai produk khas Salatiga. Karenanya bukan kebetulan kalau kualitas kedua produk ini sangat baik.
Sandal boneka dan fur sandal ternyata juga diminati ketika dijual grosiran secara online di blog KAZOKU. Bahkan pada awalnya kami sempat kewalahan namun saat ini setiap permintaan sudah dapat terlayani dengan baik.
Secara offline Tahun 2009 kami akan mendatangkan lebih banyak lagi koleksi baru. Syukurlah bahwa para pemasok kami juga sangat inovatif, semua pemasok sudah mempersiapkan inovasinya di tahun 2009 tentu saja hal ini meringankan pekerjaan kami.
Sedangkan secara on-line KAZOKU memiliki target untuk mengangkat produk-produk lokal Kota Salatiga. Bukan hanya produk dari kami namun juga dari UKM-UKM di kota ini, sebenarnya banyak sekali UKM yang mampu menghasilkan produk berkualitas di Salatiga hanya saja selalu terbentur dengan masalah pemasaran. Di akhir tahun 2008 ini salah satu pabrik terbesar kota Salatiga yang selama ini menampung banyak sekali tenaga kerja telah merumahkan ratusan karyawannya. Inilah saatnya UKM Salatiga bangkit, dengan tujuan itu jugalah KAZOKU akan memposisikan sebagai mitra pemasaran bagi beberapa UKM di Salatiga.
Produk khas Salatiga nantinya hanya akan Anda peroleh melalui blog kami, jadi tidak akan diperoleh di outlet.
Akhir kata, saya mengucapkan terima kasih kepada para stakeholder yang selama setahun ini menjadikan kami tumbuh dan berkembang bersama Anda semua. Mari jadikan 2009 sebagai tahun yang lebih baik, lebih ber-SINERGI dan sejahtera bersama. (Satrio A. Wicaksono, owner SINERGI INDONESIA)