Tampilkan postingan dengan label Faith. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Faith. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Oktober 2020

Widgets

on

Rosario Bukan Ditujukan Kepada Bunda Maria dan Rosario Lebih dari Doa



Bulan Oktober bagi umat Katolik erat kaitannya dengan Devosi kepada Bunda Maria. Berbeda dengan bulan Mei yang banyak diisi kegiatan berziarah karena berkaitan dengan Pesta (Festum) Perawan Maria Mengunjungi Elizabeth (31 Mei), bulan Oktober dominan dengan kegiatan yang sifatnya internal dalam rangka membangun sikap doa khusuk melalui Rosario. Meski dua bulan tersebut dikhususkan untuk penghormatan kepada Maria, tak berarti menggantikan/melampaui hormat dan pemuliaan kepada Yesus sebagai Juruselamat yang sesungguhnya. Tanpa Yesus Maria bukanlah siapa-siapa, tetapi keputusan Maria untuk menjawab “Ya” atas rencana keselamatan, itulah yang membuka jalan keselamatan bagi kita semua (Rm. Christianus Hendrik, Seputar Liturgi dan Perayaan Ekaristi Gereja Katolik Indonesia)

Bentuk Devosi kepada Bunda Maria sebenarnya bermacam-macam seperti ziarah, Novena Tiga Salam Maria, Legio Maria, Rosario dan masih banyak lagi. Devosi sendiri merupakan penghormatan yang tingkatnya ada di bawah Sakramen

Rosario merupakan bentuk devosi yang paling banyak dilakukan umat pada bulan Oktober baik secara pribadi maupun berkelompok (keluarga atau lingkungan) sebab tanggal 7 Oktober adalah Peringatan (Memoria) “Maria Ratu Rosario”.

“Rosario adalah kitab bagi mereka yang buta, di mana jiwa-jiwa melihat dan di sana ditampilkan drama kasih teragung yang pernah dikenal dunia; Rosario adalah kitab bagi mereka yang sederhana, yang menghantar mereka masuk ke dalam misteri-misteri dan pengetahuan yang lebih memuaskan hati dari pendidikan manusia; Rosario adalah kitab bagi mereka yang lanjut usia, yang matanya tertutup terhadap bayang-bayang dunia ini dan terbuka pada dunia mendatang. Kuasa rosario melampaui kata-kata.” (Uskup Agung Fulton Sheen, dikutip Rm William P. Saunders dalam Asal-usul Rosario)

Sabtu, 06 November 2010

Widgets

on

Mungkinkah Menghindari Purgatorium? (Bag. 3 - Habis)

Yang Dapat Dilakukan untuk Menghindari Purgatorium
  1. Dalam setiap Misa, Komuni Kudus, Doa dan niat-niat baik yang kita lakukan jangan pernah lupa untuk memohon agar Tuhan menganugerahkan kematian yang indah dan tidak harus tinggal terlebih dahulu ke dalam Api Penyucian. Tentulah Tuhan akan mendengar doa yang penuh iman dan ketaatan.
  2. Carilah kehendak Allah dalam segala hal. Ketika kita hendak melakukan sesuatu dan tahu bahwa hal itu bukanlah apa yang Allah kehendaki segera hentikan.
  3. Terimalah segala penderitaan, kesulitan, sakit, kekecewaan entah besar maupun kecil sebagai kehendak Allah. Bersikaplah menerima dengan tenang dan patuh. Tentu saja kita tetap mengusahakan mengatasi kesulitan-kesulitan ini namun tetap pada semangat mencintai Allah. Dan jika ternyata masalah tersebut tidak teratasi maka terimalah. Pemberontakan dan ketidaksabaran bukan hanya menambah derita namun juga dosa.
  4. Meneladan Kristus. Salah satu keteladanan-Nya adalah pengorbanan dan kesetiaan-Nya dalam menanggung salib. Manusia telah jatuh ke dalam dosa oleh karenanya harus bekerja keras memperoleh makanan dengan berpeluh (Kej. 3:19). Oleh karena itu marilah kita memandang bahwa pekerjaan dengan segala kesulitan dan kekecewaan yang mungkin menyertai sebagai pengorbanan yang memang mesti kita terima dan jalani dengan setia. Sebab penderitaan di dunia ini akan terasa singkat dibandingkan masa-masa sukacita yang akan kita peroleh di Surga jika kita melakukannya.
  5. Ampuni kekasaran, serangan yang mungkin dilakukan oleh orang lain kepada kita sebagaimana Allah pun selalu mengampuni kita.
  6. Hindarilah perbuatan-perbuatan yang dapat membawa kita jatuh ke dalam dosa baik dosa berat maupun dosa ringan. Dan dengan demikian akan semakin mudah jalan kita menuju ke Surga. Dan di atas semuanya itu hindarilah dosa yang melawan kesucian entah itu dalam pikiran, perkataan maupun perbuatan. Dosa inilah yang banyak menjatuhkan jiwa-jiwa ke dalam Api Penyucian.
  7. Jika kita tak merasa mampu melakukan hal besar maka lakukanlah hal-hal kecil; jangan mengeluh dan menggerutu jika apa yang terjadi tak sesuai harapan kita. Jangan mencela orang lain dan jangan menolak ketika orang lain memerlukan pertolongan.
  8. Doakan jiwa-jiwa yang berada dalam Api Penyucian secara teratur dan ajaklah juga orang lain untuk mendoakan mereka ajak pula Jiwa-jiwa Suci untuk berdoa bersama-sama dengan Anda. Pada saatnya jiwa-jiwa yang Anda doakan ini juga akan mendoakan Anda ketika mereka terbebas dari Api Penyucian.
  9. Tak ada yang lebih menyelamatkan kita dari Api Penyucian selain menerima Pengakuan Dosa, Misa dan Komuni Kudus secara teratur.
  10. Menghadap Sakramen Mahakudus hanya memerlukan wakti tiga atau empat menit untuk beroleh rahmat yang sangat besar. Berlutulah di depan Sakramen Mahakudus dengan penuh keyakinan bahwa Yesus melihat kita lalu doakan beberapa kali: “Yesus Kasihailah aku”, “Yesus Kasihanilah aku orang berdosa”, “Yesus aku mengasihi Engkau”, “Yesus anugerahkankah kepadaku kematian yang bahagia”.

Jumat, 05 November 2010

Widgets

on

Mungkinkah Menghindari Purgatorium? (Bag. 2)

Sarana V: Memohon
Sarana kelima untuk menghindar dari Pugatorium adalah memohon rahmat-Nya. Ini merupakan sebuah rahasia sederhana namun luar biasa.

Allah telah menjanjikan kepada kita (dan Dia tidak mungkin mengingkari janji-Nya) bahwa apapun yang kita mohonkan dalam doa jika memang hal itu akan baik bagi kita maka pasti akan dikabulkan-Nya.

Yang penting untuk diperhatikan adalah adanya dua kondisi yang diperlukan untuk membuat doa kita menjadi sempurna; iman dan ketaatan. Jika memang doa kita sudah memenuhi kedua kondisi tersebut maka Tuhan sudah pasti tidak akan menolak doa kita.

Hendaklah dalam setiap doa, niat dan tindakan yang kita lakukan disertai dengan permohonan yang sungguh-sungguh agar Allah membebaskan kita dari Api Penyucian.

Bagaimana caranya? Itu adalah keputusan Tuhan

Tuhan tidak pernah menolak doa, terlebih jika doa itu dihunjukkan oleh orang yang dengan setia, tekun dan tanpa pernah berputus harapan tak henti-hentinya memohon setiap hari selama mungkin 20, 30 atau bahkan 50 tahun. Sikap ini menunjukkan iman yang tak tergoyahkan dan ketekunan yang sungguh-sungguh.

Semakin kita mengetahui apa itu Api Penyucian maka hendaklah kita makin bertekun memohon agar dibebaskan darinya.

Itulah sebabnya dalam doa Salam Maria diakhiri dengan: “Doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan waktu kami mati. Amin”
(Demikian pula dengan doa penutup Rosario: “Lindungilah kami dari yang jahat dan ambillah kami bersama-Mu ketika kami mati”).

Kamis, 04 November 2010

Widgets

on

Mungkinkah Menghindari Purgatorium? (Bag. 1)

Pada tulisan sebelumnya sudah dijelaskan mengenai purgatorium. Setelah memahami mengenai purgatorium kemudian seringkali kita bertanya apakah ini berarti setiap orang Kristen akan menuju ke sana setelah kematian? Mungkinkah kita menghindari purgatorium?

Pendahuluan
Tuhan kita datang ke dunia dengan penegasan yang jelas yaitu memberikan penebusan yang sempurna. Dia mewariskan kepada kita Hukum Kasih dan keyakinan untuk menyentuh hati manusia. Kita diciptakan untuk hidup kudus dan bahagia. Segala perintah, nasehat dan janji-Nya adalah mengenai kasih, sukacita dan damai sejahtera.

Pemikiran bahwa kita harus melalui api penyucian seolah berbeda dengan rencana belas kasih dan pengampunan Allah Bapa.

Benar bahwa kita adalah manusia lemah yang karena kelemahan itulah berkali-kali jatuh ke dalam dosa. Sedangkan hukum Tuhan adalah tetap dan kekal untuk selamanya. Meski demikian Allah adalah Maha Pengasih dan mengasihi semua ciptaan-Nya.

Hal ini (Api Penyucian) mestinya tak sedikitpun mengurangi keyakinan kita akan rahmat dan karunia-Nya untuk menyelamatkan dari dosa kita yang sedemikian besar dan banyak. Namun tampaknya sebagian besar dari kita kurang dapat memahaminya.

Tentunya bagi mereka yang tidak mau mengakui kesalahan dan menolak menerima cara pengampunan yang ditawarkan oleh Tuhan telah membawa diri mereka sendiri ke dalam Api Penyucian.

Tulisan ini dimaksudkan untuk menunjukkan bagaimana kita bisa menghindari Purgatorium dengan memilih sarana yang telah disediakan oleh Allah berkat kemurahan-Nya.

Rabu, 03 November 2010

Widgets

on

Api Penyucian (Purgatory): Perlukah Mendoakan Orang yang Telah Meninggal?


Bulan November dikhususkan untuk mendoakan orang-orang yang telah meninggal dunia. Mengapa kita perlu mendoakan mereka? Dan dimanakah jiwa orang-orang Kristen setelah meninggal?

Bagian I

Mengenal Purgatorium

Banyak orang yang salah dalam memahami Purgatorium atau Api Penyucian, mereka berkeyakinan bahwa kita dapat mendoakan jiwa-jiwa yang berada dalam neraka untuk masuk ke Surga. Pemahaman tersebut sepenuhnya salah. Neraka sebagaimana halnya dengan Surga adalah sebuah kondisi mutlak dan abadi dimana jiwa-jiwa yang telah menempati Surga maupun Neraka akan tetap berada di sana selamanya.

Lalu apakah yang dimaksud sebagai Purgatorium? Purgatorium adalah sebuah kondisi sementara bagi jiwa-jiwa yang belum mengasihi Allah secara sempurna untuk dimurnikan dan disempurnakan.

Apakah yang dimurnikan di sana? Yaitu dosa-dosa ringan yang belum dimintakan pertobatan ketika jiwa tersebut dipanggil. Karena Allah dan dosa tak dapat bersatu karenanya jiwa-jiwa ini perlu dimurnikan. Jika kasihnya tidak sempurna maka haruslah disempurnakan sebab kasih yang tak sempurna tak dapat dipersatukan dengan kasih yang sempurna.

Apakah Kita Sudah Sempurna?

Allah Bapa menginginkan kita untuk sempurna sama halnya Allah adalah sempurna (Mat. 5:48). Oleh karena rahmat-Nya kita berkewajiban untuk mencari kesempurnaan hidup.

Selasa, 19 Oktober 2010

Widgets

on

Love is More than Just Enough

Tepat dua tahun yang lalu yaitu pada tanggal 19 Oktober 2008 Venerabilis Louis dan Zélie Martin, pasangan suami isteri dan orangtua St Theresia dari Kanak-kanak Yesus, dibeatifikasi di Basilika St Theresia dari Kanak-kanak Yesus, Lisieux, Perancis. Beatifikasi ini adalah yang kedua kalinya dalam sejarah Gereja, diberikan kepada sepasang suami isteri. Sebelumnya tahun 2001 diberikan pada pasangan Beato Luigi dan Maria Quattrocchi.

Beatifikasi sendiri berasal dari kata beatus (yang berbahagia). Beatifikasi merupakan pernyataan dari gereja terhadap orang yang telah meninggal bahwa yang bersangkutan adalah yang berbahagia serta memiliki keistimewaan secara spiritual. Setelah menerima beatifikasi maka selanjutnya yang bersangkutan akan bergelar beato (untuk wanita) dan beata (untuk pria).

Beato Louis dan Beata Zélie Martin telah menjadi pasangan suami istri yang merupakan sebuah awal pendakian bersama dan membesarkan anak-anaknya dengan teguh dalam Iman Kristen. Karenanya keduanya layak menjadi teladan bagi pasangan suami istri Kristen lainnya. Demikian disebutkan oleh Kardinal Jose Saraiva Martins, Mantan Prefek Kongregasi untuk Masalah Santa Santo.

Tentulah bukan tanpa alasan yang kuat apabila gereja secara khusus melakukan beatifikasi terhadap pasangan suami istri yang layak menjadi teladan bagi pasangan lain.

Allah adalah Cinta Kasih, Allah menghayati misteri persekutuan Cinta Kasih antar Pribadi sambil menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya sendiri dan terus melestarikan keberadaannya.

Dalam diri manusia baik pria maupun wanita telah digoreskan suatu panggilan untuk bersekutu dalam cinta kasih.

Dan satu-satunya keadaan yang memungkinkan bagi manusia laki-laki dan perempuan untuk melakukan penyerahan diri sepenuhnya adalah melalui sebuah perjanjian cinta kasih yang dipilih secara bebas dan sadar oleh keduanya yaitu perkawinan.

Perkawinan dengan demikian bukanlah sebuah pemaksaan dan campur tangan dari pihak manapun dan kebebasan manusia tidak dibatasi oleh kesetiaan itu melainkan justru dilindungi dari setiap bentuk subyektivisme dan ekslusivisme serta diikut sertakan dalam Kebijaksanaan Sang Pencipta (Familiaris Consortio, #11)

Senin, 18 Oktober 2010

Widgets

on

Ketaatan, Iman dan Doa

Dari Mat: 17:20 kita telah mendengar perumpamaan mengenai biji sesawi. Yesus mengibaratkan sekiranya kita memiliki iman sebesar biji sesawi saja maka tiada hal yang mustahil. Lalu kita bertanya mengapa pula doa-doa kita tak kunjung dijawab dan tak kunjung dikabulkan sekalipun kita “merasa” telah percaya dan memiliki iman?

Orang kemudian mulai meninggalkan doa, meninggalkan Ekaristi dan meninggalkan Tuhan karena merasa bahwa doa-doanya tak dijawab meski dirinya terus berseru.

Tanpa mereka sadari sikap-sikap demikian tak ubahnya seperti sikap seorang anak manja yang “mutung” (ngambek) ketika keinginannya tak dipenuhi oleh orang tuanya. Tanpa mencoba memahami dan mencari tahu apa alasan permintaan itu tak dikabulkan oleh orang tua lantas si anak manja ini menyebut orang tuanya tak peduli, tak sayang atau bahkan jahat.

Dengan “mutung” si anak manja berharap orang tuanya akan berubah pikiran untuk menuruti apa yang diinginkannya.

Begitu pula mereka yang berpaling dari Tuhan karena merasa doanya tak dijawab berani menyebut bahwa Tuhan tak peduli akan seruan umat-Nya. Siapakah manusia hingga berani menyebut Tuhan demikian? Sudah lupakah siapa sebenarnya yang adalah manusia dan siapakah yang sebenarnya adalah Tuhan?

Ketika seseorang memilih untuk mutung dan meninggalkan Tuhan sebenarnya sikapnya tak beda dengan anak manja yang mutung terhadap keputusan orang tuanya. Bedanya adalah: dia tidak sedang berbicara dengan orang tua! Mungkin oleh karena lelah, tak ingin malu di depan orang maka orang tua akan menuruti apa yang diminta si anak manja yang mutung namun jangan mengira hal yang sama akan dilakukan oleh Tuhan.

Selasa, 28 September 2010

Widgets

on

Love Never Fail

Beberapa waktu yang lalu Saya menonton sebuah film yang berjudul Love Never Fail. Sebuah film pendek dengan durasi hanya sekitar 40 menit ini merupakan film asia yang (mungkin) termasuk film ‘dokumenter’ karena film ini berisi kesaksian berdasarkan kisah nyata kehidupan pernikahan kristen antara Ralph dan Alice. Penyajian dalam film ini merupakan perpaduan Gambar bergerak (video) Alice yang bercerita digabungkan dengan visualisasi foto-foto (gambar diam) dokumentasi kehidupan Ralph dan Alice.

Dalam film ini dikisahkan 7 hari setelah pernikahan, Ralph seorang pemuda yang tampan, ramah, dan periang didiagnosa menderita kanker di otak. Ralph kemudian menjalani serangkaian pengobatan untuk memerangi kanker yang menyerang. Semakin lama penyakit Ralph menjadi semakin parah, makan, minum, bahkan berbaring menjadi hal yang menyakitkan untuk Ralph, wajahnya yang tampan berubah menjadi buruk karena hampir seluruh wajah bengkak terutama, mata dan bibir. Dalam situasi itu Alice setia mendampingi Ralph bahkan dokter menggambarkan Alice setiap hari bekerja seperti tiga orang suster. Alice menyiapkan semua kebutuhan suaminya dan melayani dengan tulus. Dalam situasi itu Ralp dan Alice tetap percaya pada Tuhan Yesus dan bahkan menjadi kesaksian bagi keluarga dan teman-temannya. Alice setia membacakan alkitab dan berdoa untuk Ralph dan Ralph mengajar dan berdiskusi mengenai firman Tuhan dengan istrinya.

Film ini bercerita tentang keluarga baru yang mengalami masalah berat berupa sakit yang diderita oleh suami. Keadaan sakitnya suami ini membat keluarga ini semakin dekat karena ada kasih Tuhan yang memampukan istri tetap setia dan sabar mendampingi suaminya, dan suami yang tetap menolong istrinya semakin dekat dengan Tuhan. Bahkan keluarga ini menjadi kesaksian bagi keluarga besar dan teman-temannya.

Melihat film ini membuat Saya berpikir, betapa luar biasa peristiwa yang dialami keluarga baru ini. Bayangkan, mereka baru 7 hari menikah kemudian harus mengikuti serangkaian pemeriksaan sebelum dokter mengatakan sang suami menderita kanker di kepala. Sebagai pasangan baru mereka masih menyesuaikan diri dengan kehidupan dalam perkawinan namun telah mengalami masalah berat dalam keluarga. Saya membayangkan, ketika pertama kali mendengar diagnosa dari dokter, pasti berbagai perasaan dan peristiwa menyergap keluarga muda ini. Antara percaya dan tidak percaya peristiwa demikian terjadi pada mereka. Antara menerima dan menggugat Tuhan yang mereka percaya.

Selasa, 02 Februari 2010

Widgets

on

Chaplet of Divine Mercy: Jesus, I Trust in You!


Darah dan Air, yang telah memancar dari Hati Yesus sebagai sumber kerahiman bagi kami. Engkaulah andalanku!”

Pada tanggal 22 Februari 1931, di Polandia, Tuhan Yesus menampakkan diri pada Suster Maria Faustina Kowalska dari Sakramen Mahakudus, dan memberi kepadanya pesan kasih dan kerahiman Allah bagi dunia. Ketika Suster Faustina sedang berdoa di hadapan Sakramen Mahakudus, Tuhan Yesus menampakkan diri padanya. Keluar memancar dari hati Yesus dua pancaran sinar, satu merah dan yang lain putih. Dia kemudian bersabda, “Dua pancaran sinar ini keluar dari kedalaman kerahiman-Ku ketika Hati-Ku yang menderita terbuka karena tombak di kayu salib.” (299)

Tuhan Yesus meminta St Faustina untuk mewartakan ke seluruh dunia, Kasih dan Kerahiman-Nya yang agung dengan menyebarkan Devosi Kerahiman Ilahi. “Hatiku meluap dengan kerahiman agung untuk jiwa-jiwa, dan terutama untuk para pendosa yang malang. Hanya jika mereka dapat mengerti bahwa Aku-lah Bapa yang terbaik bagi mereka dan untuk merekalah Darah dan Air keluar dari Hati-Ku .... Karena itulah Aku tinggal dalam Tabernakel sebagai Raja Kerahiman. Aku ingin melimpahkan rahmat pada jiwa-jiwa.... Mereka punya waktu untuk apa saja, tetapi mereka tidak punya waktu untuk datang kepada-Ku memohon rahmat.” (367)

“Mohonkanlah kerahiman-Ku bagi para pendosa; Aku menginginkan keselamatan (jiwa) mereka. Ketika kamu katakan doa ini, dengan hati penuh penyesalan dan dengan iman bagi seorang pendosa, Aku akan menganugerahi dia rahmat pertobatan. Doa itu demikian: Darah dan Air, yang telah memancar dari Hati Yesus sebagai sumber kerahiman bagi kami. Engkaulah andalanku!” (186).

Tuhan kita bersabda kepada St Faustina: “Akulah Kasih dan Kerahiman itu sendiri. Ketika setiap jiwa yang datang kepada-Ku dengan iman, Aku memenuhinya dengan kelimpahan rahmat, sehingga seakan tak mampu menampung sendiri, tetapi melimpah bagi jiwa-jiwa lain.” (1074)

Yesus meminta St Faustina untuk melukiskan gambar-Nya, satu gambar yang akan menunjukkan Kasih-Nya, Hati-Nya yang berbelas kasih dengan pancaran sinar kelembutan dan penyembuhan keluar daripadanya, dengan kata-kata “Yesus, Engkau Andalanku”.

Yesus bersabda, “Melalui gambar ini Aku akan melimpahkan rahmat bagi jiwa-jiwa; ini adalah sesuatu yang mengingatkan mereka akan tuntutan Kerahiman-Ku.” (742) Jika Tuhan kita yang penyayang akan melimpahkan anugerah rahmat yang besar bagi kita yang menatap gambar kudus-Nya, betapa lebih banyak lagi Ia akan memberkati dan melimpahkan rahmat bagi mereka yang mendevosikan waktu bagi Dia dalam Sakramen Mahakudus.

“Ketika aku berada dalam gereja ... aku melihat pancaran sinar yang sama keluar dari monstrans dan sinar-sinar itu menyebar ke seluruh gedung gereja. Hal ini berlangsung selama kebaktian itu. Setelah Benedictio, pancaran sinar itu meluap ke samping kiri kanan dan kembali lagi ke montrans. Penampakannya terang bersinar dan jernih seperti kristal. Aku mohon kepada Tuhan Yesus agar api cinta kasih-Nya memenuhi jiwa-jiwa yang dingin. Karena pancaran sinar-sinar ini, suatu hati akan dihangatkan kembali meski hati itu sudah seperti balok es.”

Tuhan Yesus berkata kepada St Faustina, “Hari ini Aku menyatakan Kerahiman-Ku kepada umat di seluruh dunia. Aku tak ingin menghukum umat manusia yang menderita, tetapi keinginan-Ku adalah untuk menyembuhkannya, membawa mereka pada Hati-Ku yang Maharahim” (1588). “Pendosa yang terberat akan mencapai kesucian yang besar, jika mereka mempercayakan diri pada KerahimanKu.” (1784) “Lebih besar seorang pendosa itu, lebih besarlah haknya untuk menerima KerahimanKu.” (723)

Suster Faustina mencatat kata-kata yang disampaikan Tuhan kepadanya: “Aku mengingatkanmu, putri-KU, bahwa ketika engkau mendengar lonceng berbunyi pukul tiga siang, tenggelamkanlah dirimu seluruhnya ke dalam Kerahiman-Ku, sembahlah dan muliakanlah kerahiman-Ku, mohonkanlah kemahakuasaan-Nya bagi seluruh dunia teristimewa bagi pendosa-pendosa yang sesat.”

“Usahakanlah sebaik-baiknya ... paling tidak memasuki kapel untuk sejenak dan menyembahlah dalam Sakramen Mahakudus Hati-Ku, yang penuh belas kasihan.”

“Aku menuntut dari setiap ciptaan-Ku, pemujaan kepada Belas Kasihan-Ku.” (1572)

Ketika St Faustina sedang berdoa di hadapan Yesus dalam Ekaristi Kudus, Ia menunjukkan suatu penglihatan kepadanya. Setiap kali orang masuk ke kapel dan mengunjungi Tuhan Yesus yang tertahtakan dalam monstrans, ia melihat pancaran sinar ilahi Kasih dan Kerahiman memancar keluar dan melingkupi seluruh dunia dan setiap orang yang ada didalamnya, dengan rahmat dan berkat-Nya! Melalui Adorasi Abadi Ekaristi, Tuhan Yesus mengeluarkan pancaran sinar-sinar penyembuhan-Nya kepada kita, keluarga kita dan seluruh dunia! Tuhan Yesus secara khusus minta bahwa Pesta Kerahiman Ilahi hendaknya dirayakan pada Minggu Paskah yang kedua. Hari yang agung ini akan menerangi Kerahiman Agung Ilahi, yang Ia nyatakan dalam Ekaristi Kudus!

Tuhan Yesus mewahyukan Koronka Kerahiman Ilahi pada St Faustina dan memintanya untuk mendaraskannya setiap hari, “Ucapkanlah tak henti-henti koronka yang Ku-ajarkan kepadamu. Barangsiapa yang mengucapkannya akan menerima kerahiman-Ku pada waktu kematiannya. Imam-imam hendaknya menganjurkannya pada para pendosa sebagai harapan terakhir bagi keselamatannya. Meski ada pendosa yang demikian keras hati, jika mengucapkan koronka hanya sekali saja, ia akan menerima rahmat dari Kerahiman-Ku yang tak terbatas. Aku ingin melimpahkan rahmat yang tak terbayangkan ini bagi jiwa-jiwa yang mempercayakan diri kepadaKu.” (687)

“Belas Kasih Allah, yang tersembunyi dalam Sakramen Mahakudus, suara Allah yang bersabda kepada kita dari tahta kerahiman-Nya: Datanglah kepada-Ku, kamu semua ... Lihatlah, bagimu Aku telah mendirikan tahta kerahiman di bumi - tabernakel - dan dari tahta ini Aku ingin masuk ke dalam hatimu. Aku tak dikelilingi oleh serombongan pengawal. Engkau dapat datang kepada-Ku setiap saat dan setiap waktu; Aku ingin berbicara denganmu dan ingin melimpahkan rahmat-Ku.” (1485)

Kristus yang diserahkan Bapa kepada kita adalah bukti kerahiman Allah yang agung bagi umat manusia. Kerahiman Allah nyata dalam pengampunannya, dalam hidup kekal yang kita terima, dalam empatinya yang penuh, dan dalam persahabatannya yang sejati karena selalu menyertai kita sampai akhir jaman, dan terutama dalam RohNya yang menghidupi kita.

Pesta Kerahiman Ilahi dan Devosi kepada Kerahiman Ilahi mulai bergema luas di antara jemaat. Hal ini membawa umat kepada kesadaran akan kerahiman Tuhan dan Cinta-Nya kepada kita membawa kepada kedalaman kepada rohani yang makin nyata, serta berdampak pada kesalehan hidup. Maka kita juga perlu mengupayakan dengan kesungguhan hati untuk menghayati bahwa kerahiman Tuhan adalah nyata melalui usaha menjadi murah hati dan peduli kepada sesama.

Kerahiman Ilahi dilukiskan sebagai Yesus yang bercahayakan kebangkitan dan kemuliaan. Yesus memang bersatu dengan Allah dan kenyataannya itu pulalah tujuan hidup kita. Puncak Kerahiman Allah adalah bahwa kita boleh bersatu dengan Allah di dalam dan oleh Yesus. Hal ini tidak hanya terlaksana pada akhir hidup kita, tetapi sekarang ini juga, yaitu di dalam Ekaristi Suci. Ekaristi dengan demikian tidak hanya mempersatukan kita dengan diri Yesus, namun persatuan kita dengan Yesus juga telah mempersatukan kita dengan Allah. Singkatnya, Ekaristi adalah puncak Kerahiman Ilahi.

Ada dua ayat Kitab Suci yang perlu kita ingat baik-baik sementara kita mempraktekkan Devosi Kerahiman Ilahi, ataupun bentuk-bentuk praktek devosi lainnya:

“Bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku. ” (Yes 29:13)

“Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.” (Mat 5:7)

Apabila kita memandang lukisan Juruselamat yang Maharahim, atau berhenti sejenak dari rutinitas untuk berdoa pada jam tiga siang, atau mendaraskan Koronka - adakah hal-hal ini mendekatkan kita kepada hidup sakramental Gereja yang sejati dan membiarkan Yesus mengubah hati kita? Ataukah devosi tersebut menjadi sekedar kebiasaan religius belaka? Dalam kehidupan sehari-hari apakah kita semakin dan semakin bertumbuh menjadi orang-orang yang berbelas kasih? Ataukah kita hanya menawarkan “doa bibir” kepada Allah yang Maharahim?

Pentingnya mewartakan Kerahiman Ilahi merupakan tema yang terus-menerus muncul dalam Buku Catatan Harian Sta. Faustina:

“Wartakanlah bahwa kerahiman adalah sifat Allah yang utama. Segala karya tangan-Ku dimahkotai dengan belas kasih”

“Wartakanlah ke segenap penjuru dunia kerahiman-Ku yang tak terselami”

“Jiwa-jiwa yang mewartakan kemuliaan kerahiman-Ku akan Aku lindungi sepanjang hidup mereka bagaikan seorang ibunda yang lembut hati menjaga bayinya, dan di saat ajal, Aku tak akan menjadi hakim bagi mereka, melainkan Juruselamat yang penuh Belas Kasih”

“Wartakanlah dengan segala daya upayamu Devosi kepada Kerahiman Ilahi. Aku Sendiri yang akan menyempurnakan kekuranganmu. Katakanlah kepada segenap umat manusia yang sakit untuk datang merapat pada Hati-Ku yang berbelas kasih, Aku akan memenuhinya dengan damai sejahtera”

Berikut doanya yang didaraskan dengan bantuan Rosario biasa:

Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin.

Bapa Kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu Jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rejeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami, seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami. Dan janganlah masukkan kami ke dalam percobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin.

Salam Maria penuh rahmat. Tuhan sertamu. Terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus. Santa Maria Bunda Allah. Doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan pada waktu kami mati. Amin.

Aku percaya akan Allah, Bapa yang Maha Kuasa, Pencipta langit dan bumi, dan akan Yesus Kristus Putera-Nya yang tunggal, Tuhan kita, yang dikandung oleh Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria, yang menderita sengsara, dalam pemerintahan Pontius Pilatus disalibkan wafat dan dimakamkan, yang turun ke tempat penantian, pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati, yang naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang Maha Kuasa, dari situ Ia akan datang mengadili orang yang hidup dan yang mati, Aku percaya akan Roh Kudus, Gereja Katolik yang Kudus, Persekutuan para kudus, pengampunan dosa, kebangkitan badan, kehidupan kekal. Amin.

(Dimulai dengan dekade pertama, pada setiap manik Bapa Kami, ucapkan kata-kata berikut)
Bapa Yang Kekal, kupersembahkan pada-Mu: Tubuh dan Darah, Jiwa dan ke-Allah-an Putera-Mu terkasih, Tuhan kami Yesus Kristus, demi penebusan dosa-dosa kami dan dosa seluruh dunia

(Pada setiap manik Salam Maria, ucapkan kata-kata berikut)
Demi sengsara-Nya yang pedih, kasihanilah kami dan seluruh dunia.

(Setelah selesai 5 dekade, diakhiri dengan kata-kata berikut sebanyak 3x berturut-turut)
Allah Yang Kudus, Allah Yang Maha Kuasa, Allah Yang Kekal, kasihanilah kami dan seluruh dunia.

Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin.

(sumber: gerejakatolik.net, indocell.com, Paroki Santo Stefanus Cilandak, teks Misa Minggu Kerahiman Ilahi Paroki St. Paulus Miki Salatiga)

Minggu, 24 Mei 2009

Widgets

on

Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-43

Pesan Bapa Suci Benediktus XVI
untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-43,
24 Mei 2009

Teknologi Baru, Relasi Baru:
Memajukan Budaya Menghormati, Dialog dan Persahabatan



Saudara dan Saudari Terkasih,

  • Mendahului Hari Komunikasi Sedunia yang akan datang, Saya ingin menyampaikan kepada anda beberapa permenungan mengenai tema yang dipilih untuk tahun ini yakni Teknologi Baru, Relasi Baru: Memajukan Budaya Menghormati, Dialog dan Persahabatan. Sesungguhnya teknologi digital baru sedang membawa pergeseran yang hakiki terhadap perilaku-perilaku komunikasi juga terhadap ragam hubungan manusia. Pergeseran itu secara istimewa dialami oleh kaum muda yang bertumbuh bersama teknologi baru dan telah merasakan dunia digital sebagai rumah sendiri. Mereka berusaha memahami dan memanfaatkan peluang yang diberikan olehnya, sesuatu yang bagi kita orang dewasa seringkali dirasakan cukup asing. Dalam pesan tahun ini, Saya ingat akan mereka yang dikenal sebagai generasi digital, dan Saya ingin berbagi dengan mereka, khususnya tentang gagasan-gagasan menyangkut potensi ulung teknologi baru demi mamajukan pemahaman dan rasa kesetiakawanan manusia. Teknologi baru sesungguhnya merupakan anugerah bagi umat manusia dan kita mesti memberikan jaminan bahwa manfaat yang dimilikinya tentu dipergunakan untuk melayani semua manusia secara pribadi dan komunitas, teristimewa mereka yang kurang beruntung dan menderita.
  • (Manfaat Media Baru) Akses terhadap telpon seluler dan komputer yang kian mudah disertai dengan jangkauan dan penyebaran internet secara meluas sampai ke wilayah jauh dan terpencil telah menjadikan internet sebagai prasarana jalan bagi penyampaian berbagai jenis pesan. Sungguh sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh generasi-generasi sebelumnya. Daya dasyat media baru ini telah digenggam oleh orang-orang muda dalam mengembangkan jalinan, komunikasi dan pengertian di antara individu maupun secara bersama. Mereka telah beralih ke media baru sebagai sarana berkomunikasi dengan teman- teman, berjumpa dengan teman-teman baru, membangun paguyuban dan jejaringan, mencari informasi dan berita, serta sarana berbagi gagasan dan pendapat. Budaya baru ini membawa banyak manfaat bagi komunikasi, antara lain keluarga-keluarga tetap bisa berkomunikasi meski terpisah oleh jarak yang jauh, para pelajar dan peneliti memperoleh peluang lebih cepat dan mudah kepada dokumen, sumber-sumber rujukan dan penemuan-penemuan ilmiah sehingga mereka mampu bekerja secara bersama meski dari tempat yang berbeda.Lebih dari itu, kodrat interaktif yang dihadirkan oleh berbagai media baru mempermudah pembelajaran dan komunikasi dalam bentuk yang lebih dinamis dan pada akhirnya memberikan sumbangsih bagi perkembangan sosial.
  • (Jangan hanya terpukau dengan kecanggihan teknis media baru. Media baru sebagai jawaban mendasar kerinduan umat manusia untuk berkomunikasi) Kita tidak perlu terlalu terpukau dengan kehebatan media baru dalam menjawab kerinduan manusia dalam berkomunikasi dan berelasi dengan sesama, karena sesungguhnya, hasrat berkomunikasi dan bersahabat ini berakar dari kodrat kita yang paling dalam sebagai manusia dan tak boleh dimengerti sebagai jawaban terhadap berbagai inovasi teknis. Dalam terang amanat Kitab Suci, hasrat untuk berkomunikasi dan berhubungan dengan orang lain, pertama-tama harus dimengerti sebagai ungkapan peran-serta kita akan kasih Allah yang komunikatif dan mempersatukan, yang ingin menjadikan seluruh umat manusia sebagai suatu keluarga. Tatkala kita ingin mendekati orang lain, tatkala kita ingin mengetahui lebih banyak tentang mereka dan membuat kita dikenal oleh mereka maka saat itulah kita sedang menjawab panggilan Allah, yakni panggilan yang terpatri dalam kodrat kita sebagai mahkluk yang diciptakan seturut gambar dan rupa Allah, Allah komunikasi dan persekutuan.
  • (Hasrat mendasar manusia adalah berkomunikasi) Hasrat saling berhubungan dan naluri komunikasi yang melekat dalam kebudayaan masa kini sungguh dipahami sebagai ungkapan kecenderungan mendasar dan berkelanjutan manusia modern untuk menjangkau keluar serta mengupayakan persekutuan dengan orang lain. Tatkala kita membuka diri terhadap orang lain, kita sedang memenuhi hasrat kita yang terdalam dan menjadi lebih sungguh manusia. Pada dasarnya, mengasihi adalah hal yang dikehendaki oleh Sang Pencipta. Dalam hal ini, Saya tidak berbicara tentang hubungan sekilas dan dangkal, tetapi tentang kasih yang sesungguhnya, yang menjadi inti ajaran moral Yesus: “Kasihilah TuhanAllahmu dengan sepenuh hati, dengan seluruh jiwa raga, dengan seluruh akal budimu dan dengan seluruh kekuatanmu” dan ” kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri” (bdk. Mrk 12:30-31). Dalam terang pemahaman ini, merenungi makna teknologi baru sungguh penting, agar kita tidak sekadar menaruh pehatian pada kemampuannya yang tak dapat diragukan itu, tetapi terutama pada kwalitas isi yang disebarkan melalui media tersebut. Saya ingin mendorong semua orang yang berkehendak baik yang sedang bergiat di lingkungan komunikasi digital masa kini untuk sungguh membaktikan diri dalam memajukan budaya menghomati, dialog dan persahabatan. Oleh karena itu, mereka yang bergiat dalam pembuatan dan penyebaran isi media baru harus benar-benar menghormati martabat dan nilai pribadi manusia. Apabila teknologi baru dipergunakan untuk melayani kebaikan pribadi dan masyarakat, semua penggunanya akan mengelakkan tukar menukar kata dan gambar yang merendahkan umat manusia, keintiman hubungan seksual, atau yang mengeksploitasi orang lemah dan menderita.
  • (Media baru sebagai gelanggang berdialog) Teknologi baru juga membuka jalan untuk dialog di antara orang-orang dari berbagai negara, budaya dan agama. Gelanggang digital baru yang disebut jagat maya, memungkinkan mereka untuk bertemu dan saling mengenal kebiasaan dan nilai-nilai mereka masing-masing. Perjumpaan-perjumpaan yang demikian, jika ingin berhasil guna, menuntut bentuk pengungkapan bersama yang jujur dan tepat disertai sikap mendengar dengan penuh perhatian dan penghargaan. Bila dialog bertujuan untuk memajukan pertumbuhan pengertian dan sikap setia kawan, ia harus berakar pada ikhtiar mencari kebenaran sejati dan bersama. Hidup bukanlah sekadar rangkaian peristiwa dan pengalaman. Hidup adalah sebuah pencarian kebenaran, kebaikan dan keindahan. Untuk maksud inilah maka kita membuat pilihan; untuk maksud inilah maka kita meragakan kebebasan kita, dengan maksud inilah- yakni dalam kebenaran, dalam kebaikan dan dalam keindahan- kita menemukan kebahagiaan dan sukacita. Kita tidak boleh membiarkan diri diperdaya oleh orang-orang yang memandang kita semata-mata sebagai konsumen sebuah pasar, yang dijejali dengan aneka ragam kemungkinan, yang mengubah pilihan menjadi barang, kebaruan mengganti keindahan dan pengalaman sukyektif menggantikan kebenaran
  • (Persahabatan ‘on-line’ dan persahabatan riil) Gagasan tentang persahabatan telah mendapat pemahaman baru oleh munculnya kosa kata jaringan sosial digital dalam beberapa tahun belakangan ini. Gagasan ini merupakan suatu pencapaian yang paling luhur dalam budaya manusia. Dalam dan melalui persahabatan, kita bertumbuh dan berkembang sebagai manusia. Karena itu, persahabatan yang benar harus selalu dilihat sebagai kekayaan paling besar yang dapat dialami oleh pribadi manusia. Dengan ini, kita mestinya hati-hati memandang remeh gagasan atau pengalaman persahabatan. Sungguh menyedihkan apabila hasrat untuk mempertahankan dan mengembangkan persahabatan ‘on-line’ mengorbankan kesempatan untuk keluarga, tetangga serta mereka yang kita jumpai dalam keseharian di tempat kerja, di tempat pendidikan dan tempat rekreasi. Apabila hasrat akan jalinan maya berubah menjadi obsesi, maka hasrat itu akan memarjinalkan pribadi dari interaksi sosial sehari-hari sekaligus menghambat pola istirahat, keheningan dan permenungan yang berguna bagi perkembangan kesehatan manusia.
  • Persahabatan adalah kekayaan terbesar manusia, tetapi nilai ulungnya bisa hilang apabila persahabatan itu dipahami sebagai tujuan itu sendiri. Sahabat harus saling mendukung dan saling memberi dorongan dalam mengembangkan bakat dan pembawaan mereka serta memanfaatkannya demi pelayanan umat manusia. Dalam konteks ini, sungguh membanggakan bila jejaringan digital baru beriktiar memajukan kesetiakawanan umat manusia, damai dan keadilan, hak asasi manusia dan penghargaan terhadap hidup manusia serta kebaikan ciptaan. Jejaringan ini dapat mempermudah bentuk-bentuk kerjasama antar manusia dari konteks geografis dan budaya yang berbeda serta membuat mereka mampu memperdalam rasa sepenanggungan demi kebaikan untuk semua. Karena itu, secara tegas kita harus menjamin bahwa dunia digital, dimana jejaringan serupa itu dapat dibangun, adalah dunia yang sungguh terbuka untuk semua orang. Sungguh menjadi tragedi masa depan umat manusia apabila sarana baru komunikasi yang memungkinkan orang berbagi pengetahuan dan informasi dengan cara yang lebih cepat dan berdayaguna, tidak terakses oleh mereka yang terpinggirkan secara ekonomi dan sosial, atau apabila ia hanya membantu memperbesar kesenjangan yang memisahkan orang miskin dari jejaringan baru itu yang justru dikembangkan bagi pelayanan sosialisasi manusia dan penyebaran informasi.
  • (Pesan khusus untuk kaum muda: menginjil di dunia digital) Saya bermaksud menyimpulkan pesan ini dengan menyampaikan secara khusus kepada orang muda katolik untuk mendorong mereka memberikan kesaksian iman dalam dunia digital. Saudara dan Saudari terkasih, Saya meminta kepada anda sekalian untuk memperkenalkan nilai-nilai yang melandasi hidup anda ke dalam lingkungan budaya baru yakni budaya teknologi komunikasi dan informasi. Pada awal kehidupan gereja, para rasul bersama murid-muridnya mewartakan kabar gembira tentang Yesus kepada dunia orang Yunani dan Romawi. Sudah sejak masa itu, keberhasilan karya evangelisasi menuntut perhatian yang seksama dalam memahami kebudayaan dan kebiasaan bangsa-bangsa kafir sehingga kebenaran Injil dapat menjamah hati dan pikiran mereka. Demikian juga pada masa kini, karya pewartaan Kristus dalam dunia teknologi baru menuntut suatu pengetahuan yang mendalam tentang dunia jika teknologi itu dipergunakan untuk melayani perutusan kita secara berdayaguna.
  • Kepada anda kalian, orang-orang muda, yang memiliki hubungan spontan terhadap sarana baru komunikasi, supaya bertanggungjawab terhadap evangelisasi ‘benua digital’ ini. Pastikan untuk mewartakan Injil ke dalam dunia jaman sekarang dengan penuh semangat. Kamu mengetahui kecemasan dan harapan mereka, cita-cita dan kekecewaan mereka. Hadiah terbesar yang dapat kalian berikan kepada mereka adalah berbagi dengan mereka “kabar gembira” Allah yang telah menjadi manusia, yang menderita, wafat dan bangkit kembali untuk menyelamatkan semua orang. Hati umat manusia sedang haus akan sebuah dunia dimana kasih meraja, dimana anugerah dibagikan dan dimana jati diri ditemukan dalam bentuk persekutuan yang saling menghargai. Iman kita mampu menjawab harapan-harapan itu. Semoga kamu menjadi bentaraNya! Ketahuilah, Bapa Suci memberkati anda dengan doa dan berkatnya

Vatikan, 24 Januari 2009, pesta Santo Fransiskus de Sales

Paus Benediktus XVI

Sumber: http://mirifica.net

Jumat, 05 Desember 2008

Widgets

on

Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah: manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati

“Janganlah pandang parasnya atau perawakannya yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah: manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.” (1 Sam 16:7)

Pada salah satu musim Britain’ s Got Talent (semacam Indonesian Idol) tak banyak orang memperhatikan sosok Paul Potts seorang yang berpenampilan rata-rata, tidak cukup menarik dan sering terlihat kikuk.

Ketika Potts mulai menyanyikan lagu “Nessun Dorma” milik Puccini para penonton benar-benar terpukau seolah tersihir oleh penampilan dan suaranya. Begitu terkesimanya hingga tak seorangpun dapat berkata-kata dan seakan terbawa ke dalam lagu tersebut.

Pada Surat Perjanjian Lama ketika Samuel diutus Tuhan untuk memilih seorang raja Samuel sempat berpikir bahwa Eliab yang berpenampilan gagah adalah seorang yang akan dipilih Tuhan untuk menjadi raja. Namun ternyata Daud yang paling bungsu dan berperawakan kecil-lah yang justru dipilih oleh Tuhan.

Daud pulalah yang pada akhirnya mengalahkan Goliath dan mengejutkan raja Saul. Kepada Samuel, Tuhan berfirman: “Janganlah pandang parasnya atau perawakannya yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah: manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.” (1 Sam 16:7).

Akankah kita masih memandang dan menilai orang lain dari penampilan fisiknya semata? Jika Tuhan melihat hati mengapa kita harus melihat kepada penampilan semata? Apabila kita hanya menilai seseorang dari penampilan fisiknya semata maka bisa jadi kita kehilangan kesempatan untuk mengenali keindahan dalam hatinya.